Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Duapuluh Empat


__ADS_3

Dengan palu di tangan kananku dan linggis di tangan kiriku aku mengarahkan pukulan terbaikku ke sosok itu. Aku tidak peduli apakah kepala atau bagian atas tubuh orang itu yang akan menjadi makanan kedua senjataku itu.


Siapa pun yang masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin, apalagi dengan merusak paksa gerendel pintu, pastilah bukan sosok yang baik.


Teriakanku tak berhenti, menggema di dalam ruangan sampai telingaku pun perih karenanya. Beberapa saat sebelum palu dan linggisku mencapainya, sosok itu berbalik tepat menghadapku.


Kemudian semuanya melambat seperti adegan dalam slow motion. Mata orang itu tajam menusuk mataku walau ruangan hanya diterangi cahaya temaram. Saat itu pulalah sebuah hal yang benar-benar tak disangka terjadi.


Kaki kiriku menabrak seonggok benda di lantai yang sama sekali tidak aku perhatikan sedari awal, selain karena gelap, sosok yang berdiri menghadap jendela itulah yang sedari awal menjadi fokusku. Aku tersandung dan otomatis hilang keseimbangan.


Dengan tangan kiri aku menahan jatuhku menggunakan linggis yang kudorongkan ke lantai, sedangkan tanganku yang palu masih berusaha menggapai sosok itu. Dalam keadaan sedang terjatuh pun aku tetap memaksakan untuk memukul rang tak dikenal tersebut, walau aku masih sempat melihat sepasang matanya yang menyala.


Sembari jatuh, kurasakan tanganku bergetar.


Ternyata palu yang kugunakan menghantam sasaran dengan telak!


Benturan itu berbunyi nyaring. Tak dapat kubayangkan efek separah apa yang akan terjadi dengan sasaran paluku. Aku tidak bisa menjawabnya karena aku terjerembab ke lantai. Kakiku menimpa onggokan di lantai, sedangkan linggisku yang kugunakan menahan jatuhku menggelosor di ubin. Paluku pun terlepas entah kemana karena begitu kuatnya hantaman yang terjadi.


Sepersekian detik mulai kurasakan perih di kedua telapak tanganku karena pergesekan dengan dua batang besi. Saat itulah pula, mataku menyusul memerih karena sinar yang terang memasuk paksa ke kedua bola mataku.


Lampu kamar mendadak dihidupkan.


Dengan secepat kilat aku membalikkan tubuh untuk melihat apa yang terjadi akibat ini semua. Aroma wangi khas Erika menyeruak hidungku. Wanita itu berjongkok memegang lengan dan bahuku untuk membantuku berdiri.


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sehingga pandanganku mulai dapat menyesuaikan cahaya dengan cepat.


Kulihat kamar Erika dalam kondisi yang luar biasa parah seperti habis diobrak-abrik. Kursi, meja, bahkan seprai tempat tidur semua berantakan.


Dalam posisi setengah berbaring dan belum sempat berdiri, kulihat sorot mata itu adalah milik seseorang yang berdiri tegap di depanku.

__ADS_1


Aku terkesima karena sosok yang jelas-jelas terkena hantaman paluku ternyata masih berdiri kokoh di hadapanku tanpa kurang suatu apapun juga.


Namun, hal yang membuatku lebih terkesima adalah bahwasanya onggokan yang menghalangi kakiku dan membuatku terjerambab tadi adalah sosok seseorang yang terbaring tak sadarkan diri.


Aku tersentak dan hampir berteriak. Langsung spontan aku berdiri, memegang kedua bahu Erika dan mendorongnya agar berdiri di belakangku.


“Jangan takut, Pak Negara. Maaf kita harus bertemu dalam keadaan tidak menyenangkan seperti ini,” ujar sosok di depanku itu.


Detak jantungku perlahan memelan dan menjadi normal. Nafasku yang semula memburu, kini mengalir dengan aman.


Aku menatap sepasang mata Erika. Wanita itu tersenyum tipis, kemudian mengangguk.


Tak lama, aku digiring Erika duduk di sebuah sofa yang tidak terbalik atau terguling. Erika memeluk lenganku. Kulitnya yang lembut bergesekan dengan kulitku, sedangkan aroma tubuhnya kembali menenangkanku. Bahkan nafas Erika menyapu wajahku ketika wajah kami berdekatan.


Memang butuh beberapa detik untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


Awalnya, sewaktu lampu dihidupkan dan Erika mendekatiku, aku masih sangat panik. Ingin kukatakan agar Erika tetap berada di luar kamar atau melarikan diri saja sekalian. Aku tak ingin sesuatu apapun terjadi pada dirinya. Apalagi ketika kudapati sosok tak dikenal itu masih berdiri tegap dengan sorot matanya yang sempat kulihat sebelum aku jatuh terjerembab dan menempatkan palu ke tubuhnya.


Secara spontan, Erika merapikan rambutku yang acak-acakan karena terjerembab tadi. Kusadari rambutku kini sudah mulai memanjang. Aku belum punya waktu untuk pergi ke salon dan memotongnya.


Sosok itu berdiri di depan kami sambil melipatkan kedua lengannya di dada. Tubuhnya menjulang. Bukan karena jangkung atau terlalu tinggi, akan tetapi karena postur badannya tegap dan padat. Ditambah sorot mata dan bentuk rahang yang tegas. Hidung mancungnya seperti menegaskan sorot matanya bagai seekor rajawali. Padahal tadinya aku merasa seperti mengenal sorot mata ini. hanya saja adrenalin dan rasa takut mengalahkan logika dan memori.


“Maaf, Gatotkaca tadi saya memukul Anda tadi,” aku membuka mulut.


Sang sosok tersebut yang ternyata adalah Gatotkaca hanya tersenyum, “Tidak apa-apa Pak Negara. Anda tahu bahwa saya tidak akan terluka karena palu itu.”


Perkataannya tidak menunjukkan kesombongan, lebih cenderung jujur.


“Saya yang seharusnya minta maaf karena membuat Anda berdua terkejut. Namun, semua memang diluar perkiraan,” ia memandang aku dan Erika bergantian. “Jadi, mereka memanggil saya Gatotkaca sekarang?” lanjutnya. Wajahnya seperti menyunggingkan senyum yang tersembunyi.

__ADS_1


Aku tersenyum lirih, “Bahasa media. Anda lebih dikenal mereka sebagai Gatotkaca, lagipula saya tidak tahu nama nama asli Anda. Jadi, apa Anda punya nama asli, Gatotkaca? Kami akan dengan senang hati mengubah Gatotkaca dengan nama Anda yang sebenarnya kalau Anda mau.”


Gatotkaca mengangguk pelan. “Saya tidak sehebat legenda itu. Mungkin malah harusnya saya dipanggil Tetuka saja. Gatotkaca yang masih kecil dan liar, juga ganas. Bukankah seperti itu beberapa orang menggambarkan saya?” wajah Gatotkaca tak menunjukkan emosi apapun kali ini.


“Tetuka?” gumamku dan Erika hampir seragam. Kami bertatapan saling menukar kata dalam diam.


“Anda tidak keberatan kami sebut Tetuka?” kali ini Erika yang bertanya.


Sang pemuda hampir-hampir tersenyum. Ia masih tak menjawab. Tapi, aku yakin dia sedikit mengangguk.


Aku kemudian melihat berkeliling kamar yang berantakan tersebut, kemudian berhenti pada seonggok tubuh yang tergeletak di lantai.


“Heh ... apa, apa dia mati?” pandanganku ngeri melihat sosok itu dan mendadak sadar dengan betapa kacau dan gawat kondisi aneh ini.


Sang pemuda yang mulai saat itu akan kusebut dengan nama Tetuka itu kini sungguh tersenyum, sedikit lebih lebar malah.


“Tidak. Dia hanya pingsan. Dia salah satu orangnya Balai,” jawab sang Tetuka tenang.


“Sudah kuduga, rupanya Balai belum kapok!” kata Erika dengan ketus.


“Tadinya mereka ada dua orang, tapi yang satu berhasil kabur tepat sebelum kalian datang,” suara bariton Gatotkaca kembali bergulir.


Akupun sebenarnya tidak terkejut lagi mendengar hal ini. Siapa lagi kalau bukan orangnya Balai yang berani melakukan tindakan nekad semacam ini. Namun tentu saja aku memerlukan jawaban dan cerita mendetail dari mulut si Tetuka sendiri.


Aku dan Erika menatapnya. Tanpa perlu berbicara, sang Tetuka paham hal ini.


“Saya sudah memperhatikan sepak terjang mereka berdua. Orang suruhan Balai membayar mereka untuk memberikan pelajaran buat kalian, terutama Erika yang mungkin dianggap sasaran lemah yang empuk. Beberapa penghuni apartemen menjadi saksinya. Mereka melihat kedua preman ini datang sehingga para penghuni memilih untuk masuk ke kamar mereka masing-masing untuk menghindari masalah.”


Pantas, itulah sebabnya mengapa apartemen ini sepi sekali, pikirku.

__ADS_1


“Mereka tidak menemukan Erika dan mengacak-acak kamar ini. Maaf Erika, tadi saya sempat melemparkan salah seorang dari mereka ke rak buku anda. Orang itu keburu kabur sedangkan temannya saya pukul hingga pingsan.”


Aku serempak berpandangan dengan Erika. Orang yang dimaksud sang Tetuka tadi lah berjalan tergesa-gesa di lorong dan sempat menubruk bahuku. Rupa-rupanya orang itu melarikan diri dari petaka seperti yang dialami rekannya.


__ADS_2