
Dua hari kemudian, beragam kanal YouTube dan saluran televisi kembali riuh tanpa terkendali saat sebuah video amatir dari sebuah telepon genggam warga kembali berhasil merekam sepak terjang sosok Gatotkaca.
Pada awalnya kamera gawai pintar warga tersebut merekam sebuah tawuran antara suporter sepakbola yang telah menyebar ke perkotaan dan terlihat membahayakan orang banyak. Mereka saling melempar batu dan merusak banyak jendela dan pintu kaca serta bangunan secara brutal.
Terlihat tawuran pun mulai semakin merajalela.
Masyarakat awam yang berada di sekitar tempat kejadian mulai ikut terancam nyawa dan keamannya. Pertempuran antar massa penggemar sepakbola ini menjadi ajang pelepasan emosi dan tempat mereka bisa melakukan pengrusakan dalam skala masif.
Tak lama terlihat seseorang dari kumpulan masa bahkan membawa sebuah bom molotov buatan yang ia nyalakan dan lemparkan ke arah kerumunan musuh. Dengan adanya api dalam persengketaan fisik semacam ini, hampir sudah bisa dipastikan bencana yang lebih besar akan terjadi.
Kamera gawai pintar yang terlihat cukup stabil itu kemudian merekam sebuah adegan yang fenomenal.
Tepat ketika bom molotov dari botol kaca itu hampir menyentuh tanah tepat di depan massa yang lain, tiba-tiba bom tersebut ditangkap dengan cepat oleh satu sosok yang datang entah dari mana. Awalnya siluet hitam, kemudian dalam sepersekian detik, kamera gawai dapat memusatkan gambar pada satu figur.
Sosok manusia yang dengan mudah dapat dikenal sebagai Gatotkaca tersebut dengan tangan telanjang mematikan api yang menyala di sumbu molotov.
Massa tampaknya syok dengan kemunculan Gatotkaca yang datang secara tiba-tiba entah dari mana, meskipun didapati kemudian secara lebih mendetail bahwa kamera gawai pintar sempat menangkap gambar ketika Gatotkaca melayang turun dari langit.
__ADS_1
Namun, keterkejutan massa itu tidak lama. Mereka toh telah dibakar oleh emosi yang meledak-ledak sehingga tak peduli siapapun ia, di pihak manapun orang itu, karena telah mengganggu jalannya ‘chaos’ tersebut, maka ia pun harus ikut diserang.
Mungkin ini adalah penggambaran lain yang penting untuk mengenal sosok Gatotkaca.
Kedua massa demi melihat Gatotkaca berdiri di tengah-tengah mereka malah menjadi semakin kalap. Kedua kubu maju secara bersamaan, antara kembali melanjutkan tawuran atau menyerang Gatotkaca. Sialnya hanya dalam waktu kurang dari dua menit, puluhan orang yang membawa kayu, batu, dan besi sebagai senjata mereka kocar kacir.
Ini yang terjadi: Gatotkaca dengan lincahnya menyeruak ke kerumunan, mengangkat dua orang ke udara dan melemparkannya ke ke kerumunan yang marah. Adegan ini dilakukan lagi beberapa kali. Ia melompat-lompat ke udara. Beberapa kali ia bahkan terlihat mengambang beberapa saat di udara kemudian meluncur turun. Batu, kayu dan besi yang diarahkan kepadanya tak tampak mampu melukainya.
Puluhan orang lumpuh tak berdaya. Beberapa mengalami patah tulang di beberapa bagian di tubuh mereka, baik kaki, maupun tangan. Beberapa orang merintih, sedangkan sisanya kebanyakan tak sadarkan diri karena tubrukan dan hempasan tubuh teman-teman atau musuh mereka.
Kekacauan langsung terhenti karena massa bubar. Tindakan Gatotkaca melukai dan melumpuhkan banyak orang dari kedua belah pihak yang berseteru itu menakuti yang lain. Mereka kabur dan meninggalkan tempat kejadian perkara karena jelas tidak mau menjadi korban serupa dengan rekan-rekan mereka.
Tawuran yang semula memiliki potensi besar merusak fasilitas umum dan dan keselamatan warga sekitar berbalik arah. Para warga menyaksikan para pelaku tawuran dari kedua belah pihak, terbaring dan tertelungkup terluka. Mereka tak sadarkan diri atau mengaduh kesakitan.
Warga yang semula bersembunyi dan takut-takut, kini keluar dari rumah-rumah mereka. Tak sedikit yang merasa puas kemudian menyumpahi para pelaku tawuran tersebut. Mereka bersyukur para pelaku mendapatkan ganjarannya. Mereka terluka, sesuai dengan apa yang para pelaku itu mau. Dan tentunya para warga dapat terhindar dari kerusakan dan bencana.
Video berdurasi 3 menit itu, terlihat cukup stabil untuk ukuran rekaman amatir, berhasil merekam dengan sempurna aksi Gatotkaca.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, tepat seperti adegan di depan kamera Hermansyah sebelumnya, Gatotkaca melihat ke arah kamera gawai pintar yang merekamnya sejenak untuk kemudian tiba-tiba melompat dengan tinggi dan kembali menghilang sembari meninggalkan bunyi desiran angin yang kencang.
Erika sama sepertiku. Kami kembali bersemangat dengan berita kemunculan sosok Gatotkaca ini lagi, walau terus-terusan ditempel oleh aparat Kepolisian. Kami diberikan beragam nasehat sampai ancaman agar tidak bereaksi dengan cara yang ‘salah’ terhadap isu ini. Apalagi tindakan sosok Gatotkaca tetap tidak bisa dibenarkan secara hukum. Ia telah melukai orang, bahkan bisa dikatakan hampir membunuh mereka. Tindakan inipun belum bisa diketahui motif dan tujuannya. Apakah Gatotkaca adalah seorang figur vigilante yang melanggar hukum tetapi sebaliknya ingin menegakkan keadilan, atau sekadar perusuh lain?
Tetap saja, aku dan Erika muncul lagi di televisi.
“Saya tidak akan menanggapi kabar yang mengatakan bahwa Gatotkaca hanyalah orang suruhan Negarakrtagama. Biarkan Balai Sigalagala berhadapan dengan masalahnya sendiri. Malah saya dan Mbak Erika di sini yang merasa pantas menuntut Balai karena orang-orang yang menyerang kami. Namun kami telah menjelaskan semuanya kepada pihak Kepolisian yang sedang memprosesnya,” ujarku lugas dan tegas di depan televisi.
“Bila kita semua bersedia membuka pikiran dan kemungkinan, bagaimana bila ada kemungkinan bahwa mungkin Gatotkaca memang orang yang benar-benar berada di pihak yang baik dan benar. Ia hanya merasa perlu membantu saya serta Erika yang berada dalam bahaya. Jangan-jangan posisi Gatotkaca adalah melaksanakan tugas seorang pahlawan?” lanjutku.
“Saya tidak mendukung tindak kekerasan dalam bentuk apapun. Saya juga tidak dengan gamblang mengatakan bahwa tindakan Gatotkaca benar adanya. Tapi, kita kehilangan fokus dan inti dari permasalahan. Terutama ketika Balai Sigalagala menuduh saya sebagai sosok yang berada di balik segala tindakan sosok misterius yang kita sebut Gatotkaca tersebut. Ini juga menutupi apa yang sebenarnya ia lakukan kepada saya dan Erika dengan menggunakan preman-preman suruhannya,” kataku panjang lebar di depan kamera pers sewaktu dimintai keterangan dan pendapat mengenai Gatotkaca dan pernyataan Balai Sigalagala.
Aku mulai berani bersuara, termasuk menanggapi tuduhan Balai Sigalagala. Kemunculan Gatotkaca di video jelas kedua, membuat pandangan masyarakat menjadi lebih jelas sekarang. Segala jenis argumentasi Balai dan orang-orang yang mendukungnya, malah menjadi semakin kerdil.
Aku berani bersuara lantang semacam ini karena bukan hanya hidupku yang terancam, melainkan juga nyawa Erika. Bagaimana mungkin aku bis ahidup tenang bila Erika yang menjadi korban kejadian saat itu? Aku tak bisa memaafkan diriku bila salah satu dari orang-orang itu menyentuh Erika dengan tangan kotor mereka.
Lucunya, di saat yang sama, hubungan asmaraku dengan Erika sudah tidak menjadi buah bibir lagi. Sejak kejadian penyerangan kami dan pertolongan Gatotkaca di parkiran restoran Chinese food, media langsung mengendus dan mencoba mencari tahu hubungan kedekatan kami. Namun apalah artinya hubungan asmara seorang ahli sosiologi dengan seorang jurnalis dibanding dengan beragam kejadian menyangkut Gatotkaca?
__ADS_1