
Setelah memarkirkan mobil, aku berjalan berdampingan menggantarkan Erika ke kamarnya. Aroma harum wanita ini sepertinya tak pernah hilang sepanjang hari. Sedari pagi sampai malam seperti ini, aroma tubuhnya begitu akrab di indera penciumanku.
Diam-diam aku sampai mengendus bau tubuhku sendiri, khawatir tercium sebaliknya.
Sesungguhnya, aku telah beberapa kali mengantarkan Erika sampai tepat di depan kamarnya. Dari pengalaman-pengalaman ini saja sebenarnya sudah menunjukkan bagaimana hubunganku dengan Erika. Namun, tiada kata yang terucap. Aku belum menyatakan apapun kepada Erika. Lalu, apakah aku harus segera menyatakan perasaan yang ada padaku terhadapnya? Masalahnya, aku juga takut sebenarnya aku terlalu percaya diri. Bagaimana bila Erika tak memiliki rasa kepadaku?
Aku mulai menimbang-nimbang untuk menyatakannya saat ini juga. Mumpung aku sedikit memiliki segenggam keberanian. Aku tak peduli untuk menyatakan perasaan ini dimana. Tak perlu membuat drama dengan mencari tempat yang romantis untuk menyatakan cinta. Aku sudah tua, Erika juga sudah berumur. Kami berdua sudah dewasa dan bukan anak remaja lagi.
Deg!
Tunggu. Mengapa kali ini aku merasa sedikit aneh? Apa aku menjadi kembali paranoid? Keadaan terlalu sepi dan tenang di apartemen ini. Kami baru memasuki lift, tetapi sepanjang lorong tadi suasana terlalu sepi.
Memang telah melewati pukul 10 malam, tapi nampaknya para penghuni apartemen memilih untuk terlelap dan mengunci kamarnya rapat-rapat. Di sepanjang lorong lantai kamar Erika pun begitu sepi setelah kami keluar dari lift.
Apa Erika juga merasakannya?
Aku sedikit lega karena dari jauh terlihat seorang laki-laki yang mungkin merupakan penghuni apartemen ini pula. Namun, ia berjalan bergitu cepat setengah berlari. Dengan berjalan tergesa-gesa, ia sempat menubruk bahuku dan masuk ke dalam lift cepat.
Rasa aneh bercampur khawatir datang menyergapku kembali.
Aku berpaling ke arah Erika. Wajahnya sama cemas. Ia balik menatapku. Kami bertukar rasa.
__ADS_1
Tangan Erika menjulur dan meraih tanganku.
Dadaku berdebar keras.
Sial! Ada dua hal yang membuatku seperti ini. Pertama, ya karena Erika menggenggam tanganku. Tangan lembut itu menyentuh dan mengunci tanganku.
Kedua, ternyata kami berdua sama-sama merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan.
Sesampai di depan kamar Erika, perasaan anehku semakin merajalela. Suasana dan aura ini juga menyengat Erika. Apalagi ialah yang paling mengenal apartemennya. Tak berapa lama, genggaman erat Erika di tanganku semakin erat. Ia menggoyangkan tanganku sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya.
Pandanganku menyusuri arah yang Erika tuju.
Aku spontan mendekat, tetapi Erika menarik tanganku untuk mencegahku. Kusentuh tangannya dengan tanganku yang bebas untuk menenangkan. Aku mentransfer informasi kepada Erika seakan menyatakan aku hanya ingin memeriksa sejenak.
Ternyata benar, ada sela di pintu dan tanda-tanda paksaan di area gagang pintu dan lis besi yang menempel di dinding.
Darahku berdesir.
Yang unik setelah semua kejadian ini berlalu nantinya, Erika pada saat itu begitu khawatir dan ketakutan mengingat kejadian yang telah terjadi kepada kami di parkiran restoran beberapa waktu yang lalu. Sedangkan aku saat itu hanya memikirkan bahwa ada maling atau perampok yang masuk dengan paksa. Aku hanya berpikir bahwa aku akan melawan pencuri atau siapapun orang itu yang masuk ke dalam kamar Erika dan menghajarnya dengan sekuat tenaga. Andai aku mengingat pikiran Erika, mungkin akulah yang pertama menariknya untuk menjauh dari apartemen, akan tetapi memang bukan itu yang terjadi.
Aku mundur dari pintu, melepaskan genggaman tangan Erika dengan lembut walau genggaman itu begitu kencang sampai tanganku terasa sakit. Mataku menyisir lorong mencari-cari sesuatu sedangkan Erika terpaku di tempatnya tanpa kata. Aku berjalan tanpa suara ke satu sudut lorong dimana kudapatkan tumpukan benda-benda pertukangan. Mungkin milik pegawai yang bekerja di apartemen ini untuk memperbaiki beragam kerusakan bangunan.
__ADS_1
Dengan hati-hati namun cekatan aku bongkar-bongkar tumpukan barang-barang itu yang diletakkan dalam sebuah kardus bekas besar yang sudah dalam kondisi yang buruk dan tercabik-cabik karena usia. Kutemukan sebuah palu besi yang walau terlihat sudah berumur tetapi masih kuat karena murni terbuat dari besi, bahkan hingga gagangnya juga terbuat dari besi. Kutimang-timang untuk merasakan kekuatan dan kemantapan benda itu di tanganku. Namun aku masih belum merasa cukup, dengan tangan lainnya aku meraih sebuah linggis pendek. Walau pendek, linggis besi itu masih lebih panjang dibanding palu di tangan kananku serta terasa berat dan mantap.
Dengan kedua benda tersebut aku melangkah ke pintu.
Erika kembali meraih lenganku. Wajahnya cemas luar biasa.
Dengan pelan kulepaskan pegangannya untuk kedua kalinya. Tangannya pindah menggenggam kemeja bagian belakangku. Dengan mimik yang kubuat sedemikian rupa, kutatap mata Erika dan mencoba menenangkannya.
Aku melanjutkan berjalan pelan namun pasti ke pintu tanpa suara. Aku merunduk, sedangkan Erika mengikuti dan berjalan di belakangku dengan masih meremas punggung kemejaku. Aku tidak mau menjadi bodoh dengan berdiri dan menyeruak masuk ke kamar tanpa persiapan sehingga siapapun ia yang ada di dalam kamar dapat melihatku dengan jelas.
Jadi aku merunduk-runduk, hampir berjongkok, kemudian mendorong daun pintu dengan linggis di tangan kiriku dengan sangat perlahan sampai terbuka lebar. Syukurnya engsel pintu tidak berderit seperti yang biasa terjadi di film-film horor atau thriller.
Ruangan begitu gelap, mataku menyesuaikan dengan gelap karena lampu di lorong apartemen cukup terang dan berkebalikan dengan keadaan di kamar Erika. Mataku mengerjap-ngerjap untuk menguasai visual. Perlahan kulihat sinar temaram masuk ke kamar dari luar kamar. Kamar Erika memiliki jendela kaca yang besar, ditutupi dengan tirai-tirai geser bergaya modern.
Walau tertutup dan gelap, sinar lampu dari luar apartemen masuk melalui sela-sela tirai. Jantungku berdegup begitu kencang seakan ingin melompat dari rongga dada ketika perlahan kusadari sinar-sinar tersebut membentuk sebuah siluet berbentuk sesosok tubuh yang berbalik memunggungi kami. Sosok itu berdiri tegap menghadap ke jendela dan diam di sana.
Otakku tak bisa berpikir terlalu panjang dengan segala analisis yang biasa aku lakukan di stasiun-stasiun televisi. Ototku mengejang, aku tak pikirkan beragam kemungkinan, instingku mengatakan untuk menghambur ke dalam. Kugerakkan badanku sedikit agar Erika melepas peganganku. Tak kuperhatikan lagi mimik wajah Erika. Segala pembahasan dan teori bisa menyusul nanti. Ini karena aku sudah kepalang basah.
Dengan berteriak keras bagai orang kesurupan aku menyeruak ke arah sang sosok ketika kurasakan pegangan Erika terlepas dari kemejaku. Aku tak ingin Erika tertarik oleh gerakanku apalagi sampai terseret.
Perasaanku dalam sepersekian detik seperti bebas ketika badanku menyerbu ke arah sosok itu. Mungkin ini perasaan luar biasa ketika adrenalin menyembur ke seluruh tubuh. Mungkin ini mengapa kekerasan terus dipuja di sepanjang sejarah peradaban manusia.
__ADS_1