
Aku mencoba menatap balik tatapannya. Sungguh berat, karena sepasang mata itu begitu jernih dan memesona. Namun, aku harus bersikap profesional. Wanita itu tidak sekadar meminta jawaban, tetapi juga perhatian dariku untuk menunjukkan seberapa sungguh jawabanku.
“Begini Mbak Erika. Film, karya sastra dan penuturan lisan adalah cara instan untuk memaparkan sejarah. Ada banyak kebenaran di dalamnya. Namun juga bisa kita sama-sama ketahui bahwa ketidaktepatan yang terkandung jauh melebihi kebenaran di dalamnya. Kita tidak bisa bergantung pada hal-hal yang memberikan celah untuk sebuah fakta. Untuk menyusun sebuah fakta dan truth, tentu elemen-elemen yang didapatkan di dalam cerita rakyat atau karya fiksi cukup diperlukan sebagai bentuk dari perspektif dan interpretasi. Tapi tidak bisa mutlak. Contohnya si Pitung ini. Tahukah anda, Mbak Erika, bahwa sebenarnya banyak versi mengenai cerita si Pitung ini?”
Aku senang sekali menyebut namanya dibanding sekadar sebutan ‘anda’. Terdengar manis di telinga.
Erika tidak menjawab atau menunjukkan tanda-tanda respon. Sepasang mata indahnya itu masih menatapku lekat-lekat.
“Menurut Van Till sendiri si Pitung pada dasarnya dikenal oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu sebagai seorang kriminal. Meskipun begitu, sifatnya yang merampok hanya pada kaum Belanda dan antek-anteknya serta membagi-bagikan hasil rampokannya pada kaum miskin pribumi membuat Si Pitung dikenal sebagai Robin Hood-nya Betawi.
“Dalam salah satu versi cerita lisan, menjelaskan bahwa nama asli Si Pitung ini adalah Salihun. Sedangkan nama Pitung sendiri diduga berasal dari bahasa Sunda, yaitu pitulung, yang artinya ‘minta tolong atau penolong’. Namun tidak berhenti disitu, di versi lain diceritakan bahwa si Pitung dianggap sebagai sebuah kelompok pencuri dan perampok yang berjumlah tujuh orang, bukannya sosok tokoh tertentu. Dalam bahasa Jawa, kelompok ini disebut ‘Pituan Pitulung’. Jadi, nama Pitung berasal dari kata ‘Pitu’ dalam Pituan Pitulung tadi yang berarti ‘tujuh’.
“Sedangkan bagi beberapa orang yang menganggap si Pitung adalah sebuah sosok pahlawan yang nyata, bukannya sekelompok orang, kematiannya pun masih menjadi misteri. Ada yang mengatakan ia tewas ditembak menggunakan peluru emas, ada pula versi yang mengatakan ia mati karena ‘dilemahkan’ kesaktiannya karena dipotong rambutnya. Maka, menurut ssaya, dari sini kita ketahui bahwa pada dasarnya ketidakkonsistenan cerita mengenai tokoh Si Pitung sebenarnya mencerminkan pemberontakan sosial oleh orang-orang Betawi terhadap penguasa saat itu, yaitu Belanda.”
Erika mengangguk-angguk mantap.
__ADS_1
“Persis seperti fenomona saat ini, begitu maksud anda, Pak Negara?” ujar Erika menyambut penjelasanku dengan bersemangat.
“Persis! Masyarakat saat ini merasa mereka perlu ‘pembebasan’ dari penjajahan bangsa sendiri. Masyarakat tidak lagi melawan kolonialis Belanda, melainkan para pejabat korup; ketidakstabilan ekonomi, sosial dan politik; sampai pada pengagungan kekerasan yang terjadi dimana-mana. Hal-hal ini sebetulnya sudah cukup untuk menjadi alasan munculnya sosok superhero ini yang akan membantu mereka untuk merasa aman dan bebas, tepat seperti masa penjajahan Belanda dahulu.”
Kembali Erika mengangguk-angguk.
“Jujur, penjelasan teori ini cukup menarik, Pak Negara. Namun, pertanyaan saya selanjutnya, apakah semudah itu masyarakat secara tiba-tiba dan mendadak menciptakan semacam tokoh superhero khayalan karena situasi yang mereka alami saat ini?”
Aku tak bisa menolak untuk tersenyum. Aku sudah bisa menduga pertanyaan-pertanyaan reporter cantik itu.
Sesi wawancara dan diskusi selesai. Erika berjabat tangan denganku, si guru besar ilmu Sosiologi; penulis terkenal di bidang sosial, budaya dan sastra; serta kritikus permasalahan sosial yang mumpuni: Negarakrtagama.
Acara yang ditayangkan di televisi ini tak pelak diputar berulang-ulang di berbagai kesempatan, baik berita di stasiun televisi tersebut, kanal video di Internet, maupun acara gosip selebritas di stasiun televisi lainnya.
Istilah superhero resmi digunakan di semua media untuk menggantikan istilah tokoh misterius.
__ADS_1
Saat ini pula, dimulai dari tiga bulan yang lalu, waktu dimana diperkirakan mulainya kemunculan fenomena *superhero *ini, aku memang sedang sibuk menulis sebuah buku di bidang sosiologi mengenai budaya kekerasan di dalam bangsa ini. Sebuah tema yang tanpa sengaja serupa dengan fenomena kemunculan sang superhero.
Tanpa dikomando, aku memberhentikan sementara tulisanku.
Bukan apa-apa, isu yang tiba-tiba hangat dan memanas ini dapat menjadi harta yang tak ternilai sebagai data nyata termutakhir bagi buku yang sedang aku tulis. Aku harus mencari sebanyak-banyaknya data yang tersedia untuk memperkuat tulisanku. Dalam benakku kejadian yang sedang marak-maraknya di masyarakat melalui media modern ini akan menjadi contoh nyata bahwa masyarakat memuja kekerasan sebagai bentuk problem solver dan solusi atas masalah yang mereka hadapi tiap saat.
Bagaimana tidak, dalam bulan pertama kemunculan berita ini, beberapa kejadian acak yang terjadi tersebar di berbagai tempat di pulau ini. Insiden-insiden *superhero *di kota-kota di seluruh provinsi yang terbentang di sepanjang pulau berhasil menyedot perhatian masyarakat. Dimana gerombolan perampok yang kerap beraksi membobol bank, ATM dan perampokan toko emas, ternyata ditemukan dalam keadaan terluka parah, walau tidak sampai tewas.
Di kota lain, tiga dari perampok mengalami patah kaki dan tangan. Terbaring di tempat yang sangat menonjol dan menarik perhatian khalayak, pusat kota!
Di dua kota lain di provinsi yang sama, gerombolan geng, termasuk geng motor, dilaporkan kocar kacir terluka dan dilumpuhkan dengan brutal ketika sedang melaksanakan aksinya mengancam keamanan. Menurut saksi, mereka dilumpuhkan dengan sangat kasar dan cepat. Beberapa anggota geng menurut saksi mata terlempar jauh ke berbagai arah oleh gerakan satu sosok tak dikenal. Tidak hanya itu, semua motor mereka hancur berantakan bagai diterjang tank saja.
Di ibukota, selama beberapa minggu, orang-orang yang dikenal sebagai kepala-kepala preman dan geng yang sangat ditakuti bahkan oleh polisi sendiri, ditemukan dihajar babak belur oleh orang yang dikenal. Kejadian beberapa minggu ini dimulai tepat sehari setelah gerakan para preman yang didapati mengancam para pedagang di sebuah pusat pertokoan karena dianggap melawan dan memihak kepada pemerintah daerah yang sedang giat-giatnya mendukung kepolisian dalam usaha pemberantasan preman dan pungli.
Kejadian yang saat itu menurutku acak ini memang memiliki garis merah. Para saksi mengatakan bahwa mereka selalu melihat sesosok misterius yang didapati menghajar habis-habisan para perusuh dan pelanggar hukum tersebut. Ciri sosok itupun hampir mirip. Bercelana panjang dan mengenakan jaket dengan hood atau tudung. Dengan tangkas ia melompat kesana kemari dengan lincah sambil menaklukkan semua pengeroyoknya dengan gampang menggunakan tangan kosong!
__ADS_1