
Namaku Negarakrtagama. Itulah nama lengkapku yang memang hanya terdiri atas satu kata yang panjang, bukan terpisah menjadi Negara dan Krtgama. Meskipun tidak sedikit yang menulis namaku dengan membaginya menjadi dua kata. Terlalu panjang alasan mereka.
Dalam beberapa kasus, namaku ini menjadi permasalahan karena hanya terdiri dari satu kata. Sebut saja untuk pendataan identitas seperti paspor.
Namun, sesungguhnya menurutku, ayahku cukup cerdas memberikan nama itu kepadaku. Namaku sebenarnya diambil berdasarkan pada sebuah kitab bukti sejarah kejayaan bangsa Majapahit. Mpu Prapanca menuliskannya pada daun lontar sebagai sebuah kakawin atau gaya sajak-prosa khas kekusastraan Jawa kuno pada tahun 1365 Masehi atau 1287 tahun saka. Kitab Negarakrtagama berisi penceritaan kejayaan kerajaan Majapahit dan detil kekuasaannya di seluruh nusantara serta Asia Tenggara saat ini pada masa kekuasaan raja Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada.
Mungkin ada harapan yang besar sekaligus pamer latar belakang pengetahuan ayahku. Entahlah. Namun, ‘kegilaan’ ayahku dalam pemberian nama tidak berhenti sampai disitu saja. Adik laki-lakiku yang usianya berpaut belasan tahun juga dinamankan dengan ‘nyeleneh’.
Adikku diberi nama Pararaton.
Pararaton yang dalam bahasa Jawa kuno atau Kawi berarti “Kitab Raja-Raja’ ini merujuk pada sebuah kitab naskah sastra Jawa Pertengahan yang menceritakan tentang sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit. Kedua kitab, baik Negarakrtagama maupun Pararaton adalah bagian dari sumber sejarah penting kerajaan Singhasari dan Majapahit sebagai bagian dari sejarah Nusantara yang agung ini.
Aku tidak paham apa yang dulu terjadi, namun sepertinya ayahku kaget sendiri dengan pemberian nama ini. Adikku si Pararaton, biasa dipanggil Para, kerap menjadi sumber kemarahan ayahku. Anak itu walau masih balita, sanggup membuat uring-uringan ayahku dan membuat suasana rumah menjadi kacau. Lama kelamaan, ayahku merasa ada yang salah dengan adikku si Para, tapi aku sama sekali tak tahu. Puncaknya, ibuku meninggalkan aku dan ayahku, pergi bersama Pararaton. Ayah dan ibuku berpisah.
Sepeninggal ibu dan adikku itu, kemarahan kerap diarahkan ke diriku. Selidik demi selidik, wajahku mirip sekali dengan Pararaton walau bahkan ketika Pararaton masih orok. Jadi ayahku selalu melihat wajah Pararaton pada wajahku. Aku tak pernah tahu apa yang membuat ayah begitu ngeri melihat Pararaton.
Kadang memang tak bisa dihindari, aku berpikir bahwa nama ini terlalu berat buatku. Makna yang luar biasa dibalik dasar penamaanku tersebut menjadi semacam beban. Namun di sisi lain aku juga sangat bangga, apalagi bila sebagai pribadi aku bisa membuktikan nama besar itu dengan kualitas diri. Bukan masalah kesuksesan secara finansial, tapi lebih kepada fungsi dan kegunaan pribadi ini bagi bangsa dan khalayak ramai di Nusantara.
Maka, di sinilah aku sekarang. Seorang muda pada usia tiga puluhan tahun yang sudah menjadi seorang ahli, teoris, kritikus sosial, seorang dosen dan ilmuwan, penulis dan pembicara beragam permasalahan yang berhubungan dengan sosial. Selain itu, aku pun cukup populer di ranah pertelevisian sebagai narasumber yang kadang juga bersanding dengan para politisi dan kritikus-kritikus beragam keilmuan.
“Bisa anda ceritakan apa yang anda lihat tadi? Apa yang sebenarnya terjadi?”
__ADS_1
Seorang reporter membangunkanku dari lamunan.
Kutaksir umurnya akhir dua puluhan. Laki-laki ini sebenarnya juga saksi mata kejadian itu. Kami sama-sama melihat dengan jelas ketika si jendral polisi direnggut di tengah-tengah kelompok jurnalis dan polisi. Para jurnalis memang sedang mengejar berita tentang isu manipulasi kasus dan tindakan melawan hukum serta korupsi yang sedang menerpa si jendral.
Lalu, bagaimana denganku? Mengapa aku di sini? Mungkin takdir. Mungkin takdirku yang menuntunku menjadi salah satu saksi mata kejadian luar biasa ini.
Entah mengapa kaki membawaku ke Markas Besar Kepolisian. Ada rasa ingin ikut menyimak ramai-ramai jurnalis yang berkerumun di Mabes Polri seperti semut di taburan gula. Mungkin pada awalnya aku hanya ingin menyimak – toh tugasku memang sebagai seorang penyimak – secara langsung keramaian ini. Ada juga keinginanku untuk bertemu para jurnalis karena setiap melihat kerumunan jurnalis dan perlengkapan mereka, aku merasa dekat dengan Erika, sang presenter idola hati. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang?
“Maaf, saya pikir saya tidak bisa berkomentar,” jawabku kemudian dengan dingin.
“Tapi pak, bukankah anda ada di tempat kejadian pada saat ...?”
“Saya bilang saya tidak bisa berkomentar! Jawab saja sendiri, kan anda juga ada di tempat. Mengapa perlu bertanya kepada saya?” aku menjawab dengan ketus.
Sang reporter memberikan gestur kepada cameraman-nya yang bertubuh jangkung untuk menjadikan wawancara kami barusan off the record. Ia nampaknya ingin menyelamatkan mukaku di publik. Mungkin pula karena ia pun merasakan hal yang sama denganku, sama-sama terlalu syok.
Kutinggalkan gegap gempita di Mabes Polri, masuk ke mobilku dan melaju ke arah timur. Pergi meninggalkan tempat ini. Aku hanya ingin terus memacu mobilku entah kemana, pokoknya pergi dari kota ini. Entah sampai kapan, entah kemana, entah mengapa. Tanpa usaha sang reporter untuk menyelamatkan mukaku di publik pun mukaku sudah tidak dapat diselamatkan. Aku syok, aku terguncang, aku bingung dimana aku harus meletakkan wajahku lagi. Bukan, bukan di depan publik, tapi di depan diriku sendiri. Aku sekarang yang mempertanyakan semua anggapan yang semula aku percaya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, gegap gempita apa lagi yang akan berlangsung.
Bukan lagi masalah aku harus menjilat ludahku sendiri dan berbalik mengakui keberadaan sang superhero di muka publik, tapi kemudian ada masalah yang lebih besar akan mengikuti setelah itu. Masalah politik dan keamanan.
Siapa orang ini sebenarnya? Benar-benar seorang superhero kah, mahluk halus kah, alien kah, peneror kah? Siapa? Pikiran berkecamuk di kepalaku. Tanpa sadar aku telah berkendara hampir satu jam, tersendat-sendat di jalan yang macet seperti biasa.
__ADS_1
Tiba-tiba nama Erika untuk kesekian kalinya muncul di kepalaku. Di saat seperti ini nama dan wajahnya malah muncul semena-mena di otakku. Tanganku merangkak menuju telepon genggamku. Ada desakan yang sangat kuat untuk menghubunginya tanpa aku tahu alasan pastinya.
Namun ketika aku berhasil menyentuh telepon genggamku, seketika itu pula layar handphone androidku menyala dengan foto wajah Erika yang tersenyum manis terpampang memenuhi layar. Segera saja aku angkat.
“Halo Pak Negara?” suara khasnya memenuhi rongga kepalaku.
“Halo Erika. Baru saja saya ingin ...,” kubatalkan niat untuk mengatakan bahwa baru saja aku ingin menghubunginya.
“Bapak dimana sekarang?” suranya seperti menggesa. Nampaknya ia pun tidak memperhatikan kalimat yang tidak aku selesaikan tadi. Syukurlah.
“Apa yang terjadi, Pak? Saya dengar dari banyak wartawan di kantor. Semuanya heboh. Dalam beberapa menit kedepan semua stasiun televisi akan menayangkan berita ini. Edo mengatakan bahwa bapak ada di sana.”
“Edo?”
“Oh ... reporter pak.”
“Oh, ya,” aku tahu sekarang bahwa Edo adalah reporter yang tadi mewawancaraiku dan alhasil kubentak.
“Bisa kita bertemu hari ini, Pak?”
“Maksud kamu wawancara di televisi? Terus terang saya masih ...”
__ADS_1
“Bukan Pak, secara pribadi, empat mata. Saya benar-benar butuh informasi ini. Saya bisa jamin ini tidak ada hubungannya dengan acara televisi. Off the record pak. Bapak jangan khawatir. Saya harap Bapak bersedia.”