
Beberapa saat sebelum fenomena ini menjadi seheboh sekarang, aku pun sesungguhnya sudah kerap muncul di televisi sebagai nara sumber ahli yang membahas isu-isu sosial. Aku sering menjelaskan permasalah sosial tersebut dengan landasan beberapa teori yang begitu kuat. Ketika isu ini muncul di media, aku juga sebetulnya sempat menjelaskan bahwa masyarakat saat ini, dengan didukung media, merasa sedang memerlukan satu sosok pahlawan.
Sosok pahlawan ini, yang tercampur dengan tayangan film yang masyarakat tonton dari budaya superhero ala Amerika, membentuk sebuah harapan bagi mereka. Kebusukan-kebusukan yang dilakukan oleh penguasa beserta aparat kepolisian, para elit politik, pelaku kriminal dan orang-orang kaya yang tidak tersentuh hukum telah membuat masyarakat muak. Mereka membutuhkan sosok pahlawan, yang walau semula fiktif, kemudian dengan beragam kejadian yang sebenarnya acak mereka gabungkan menjadi kejadian-kejadian yang berhubungan. Voila! Tak lama mereka akhirnya berhasil menciptakan sesosok pahlawan yang nyata. Beberapa orang mulai mengaku melihat orang ini terbang, atau berlari dengan sangat cepat, atau menghajar para kriminal dengan tangan kosong.
Mungkin secara psikologis, hal ini termasuk dalam mere-exposure effect, dimana semua orang memiliki pilihan yang sama hanya karena mereka akrab dengan hal itu. Sosok superhero adalah sosok yang dirasa akrab dengan konsep harapan bagi masyarakat. Maka, tidak heran orang-orang merasa bahwa mereka sungguh percaya dengan keberadaan sosok tersebut.
Teori-teori yang kuungkapkan dan sosokku sangat populer di kalangan media dan peneliti. Akibat dari popularitasku di media, para politisi dan penguasa merasa sedikit tenang. Ini karena seakan ada yang berhasil meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada itu pahlawan atau superhero, yaitu orang yang memiliki kekuatan luar biasa yang tidak dapat dibunuh karena kulitnya kebal serta tidak mempan terhadap senjata tajam dan peluru.
Tidak ada itu orang yang dapat terbang ke angkasa yang dengan sesuka hatinya pergi kemana saja. Tidak ada itu pahlawan yang membela kebenaran dan keadilan dimana ia menghajar dan melumpuhkan semua orang jahat dengan tangan kosongnya. Para politisi mulai yakin posisi mereka aman, bahwa mereka terlalu berlebihan ketika khawatir bahwa sosok itu ada. Mereka kembali nyaman dan merasa bodoh mengapa sempat khawatir bahkan ketakutan atas berita yang tidak jelas bersumber dari mana itu.
Ironisnya, kelak aku adalah orang pertama yang meyakinkan dunia bahwa semua itu salah. Teori awalku salah, pikiran mereka salah, dan yang paling utama aku sendiri salah!
Dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi swasta, aku menjelaskan dasar pemikiran awalku mengenai si sosok misterius yang tidak sekedar menghiasi layar kaca dan media tetapi juga memenuhi berita mengalahkan berita banjir yang terjadi setiap tahun di ibu kota.
“Margaret Van Till, seorang sarjana asal Belanda pernah menjelaskan dalam penelitiannya pada tahun 1996 mengenai sesosok pahlawan lokal historis dan legendaris dalam tulisannya, yaitu Si Pitung. Sosok itu adalah seorang legenda asal etnis Betawi yang terkenal karena kesaktiannya dan tentu saja perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda saat itu. Sifat sang pahlawan dikenal sebagai pembela kebenaran dan keadilan, dimana kejahatan kala itu dianggap diwakili oleh kaum kompeni dan antek-anteknya.”
Aku menghela nafas pendek saja.
__ADS_1
“Lalu, ada apa dengan Si Pitung, dan apa hubungannya dengan yang akan kita bahas kali ini?”
Aku meneruskan kalimatku dengan sedikit didramatisir. “Jelas bahwa fenomena legenda Si Pitung memiliki kemiripan dengan fenomena yang kita hadapi akhir-akhir ini.”
Si presenter televisi swasta itu nampaknya sudah tidak sabaran. Ia memposisikan dirinya sedemikian rupa agar terfokus padaku. Ia menggeser posisi duduknya condong kearahku.
“Mengapa demikian Pak Negara?” ia bertanya.
Terus terang presenter ini sangat menarik. Telah beberapa kali ia menjadi host acara dimana aku adalah tamu dan salah satu narasumber beragam kasus seputar masalah sosial yang terjadi di negara ini dengan skalanya yang biasanya masif. Sebut saja permasalahan kekerasan yang terjadi di seluruh nusantara, dari sekedar tawuran pelajar dan mahasiswa, sampai perilaku kekerasan antar kelompok atas nama agama, ideologi atau etnis. Tidak sampai disitu, kasus perilaku **** menyimpang para remaja bangsa, kasus korupsi di pemerintahan, bahkan isu-isu unik seputar gaya hidup selebritas pun menjadi lahan analisisku. Saking kerapnya aku diwawancarai olehnya, perlahan muncul rasa ketertarikan pada dirinya. Tanpa sadar pun aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaannya.
“Pertama, jelas kedua tokoh baik si Pitung atau sosok misterius yang sedang kita bahas sekarang ini dijelaskan memiliki kekuatan atau sebutlah sebagai kesaktian, yang bisa dikatakan melebihi kekuatan manusia biasa. Seperti penggambaran mengenai para jagoan atau jawara yang dikenal hampir di seluruh dunia. Si Pitung dan si tokoh misterius ini sama-sama dipercaya sangat kuat secara fisik, jago berkelahi baik berduel maupun melawan beberapa orang sekaligus. Selain itu yang paling khas adalah bahwa mereka sama-sama kebal senjata, baik senjata tajam maupun senjata modern seperti pistol atau senapan. Si Pitung pun juga dikenal tidak mempan diberondong mimis timah panas pasukan kompeni. Bahkan, tidak melebih-lebihkan persamaan keduanya, si Pitung pun dipercaya mampu terbang dan menghilang dengan sekejap,” jelasku panjang lebar.
Mata si presenter melebar dan berbinar indah, tanda ia semakin tertarik dengan bahasan ini. Walau senyumnya belum terkembang, aku pastikan ia sangat tertarik untuk terus menggali informasi dari mulutku. Ia menyelipkan helai-helai rambut pendeknya di belakang telinga serta menumpangkan sikunya di meja untuk menopang dagunya.
Sialan, aku harus menarik nafas dalam-dalam kembali melihat pemandangan indah ini.
“Lalu, Pak Negara, anda belum menjelaskan apa-apa mengenai hubungan cerita si Pitung dengan fenomena tokoh pahlawan misterius ini, atau kita bisa sebut superhero mungkin, selain menjelaskan kemiripan mereka,” ia melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
Ingin aku katakan padanya untuk sedikit bersabar karena aku sedang membangun landasan awal teoriku. Namun tentu saja aku tidak melakukannya, sebaliknya aku mengatakan “Ide yang bagus Mbak Erika. Mungkin kita bisa menyebutnya cukup dengan superhero. Mungkin stasiun televisi ini dapat menjadi stasiun televisi pertama yang pertama menggunakan istilah superhero dibanding tokoh misterius walau memang kita belum bisa mendapatkan informasi yang cukup mengenainya sehingga memang masih patut dia disebut misterius. Tapi baiklah saya sebut sang superhero.”
Erika mengerutkan bibirnya yang mungil, mengangkat alisnya yang berwarna gelap mutlak dan melengkung sempurna itu sembari memiringkan kepalanya sedikit. Ini bahasa tubuh yang telah kukenal selama bertemu dengannya dalam acara bincang-bincang dan wawancara tersebut. Artinya, kini ia sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak keberatan.
Maka, akupun melanjutkan.
“Si Pitung yang dikenal sebagai legenda Betawi ternyata juga merupakan sosok yang misterius.”
“Oh ya?” Erika memotong. “Bukannya Si Pitung adalah tokoh legendaris dari etnis Betawi yang memang benar-benar ada?”
“Oh ya?” aku balik bertanya. “Darimana Mbak Erika tahu mengenai sosok Pitung ini?”
“Kebanyakan secara lisan. Karena legenda ini saya pikir diceritakan secara turun menurun dari generasi ke generasi. Yah, meskipun saya juga sadar pasti ada banyak tambahan yang bersifat hiperbolis disana-sini mengenai sosoknya. Lagipula Si Pitung sudah sangat terkenal melalui ...”
“Film?!” giliran aku yang memotong kali ini.
Akhirnya Erika tersenyum lebar mendengar responku. Sangat memesona.
__ADS_1