Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Tujuh


__ADS_3

Harusnya aku melonjak kesenangan karena Erika mengajakku untuk bertemu empat mata. Kapan lagi kesempatan ini terjadi?


Namun sepersekian detik pikiranku melayang, hasil jawaban yang keluar dari bibirku menjadi bertentangan. “Tapi, saya rasa saya belum bisa mencari waktu yang pas,” aku beralasan.


“Please, Pak Negara,” terdengar balasan suara Erika yang memelas.


Sial! Pertahananku runtuh. Mana sanggup aku mendengar suara memohon Erika itu. “Oke, oke ... beri waktu satu atau dua jam. Saya sedang terjebak di kemacetan. Saya pikir dua jam ke depan sudah sore hari. Saya perlu kopi untuk meregangkan otot-otot saya.”


“Sip, Pak Negara. Thanks a bunch, I really appreciate it. Saya tahu coffeeshop yang tepat untuk pertemuan kita. Segera kabari posisi Anda satu jam ke depan Pak Negara,” Erika membalas dengan bersemangat. Jelas ada perubahan raut wajah di seberang sana. Aku bahkan bisa mendengar ia tersenyum lebar tanpa perlu melihatnya.


Baiklah, aku sungguh berharap kopi dan Erika nampaknya akan benar-benar meredakan otot-ototku.


Erika Dermawan Tan nama lengkapnya. Meski ia selalu diperkenalkan sebagai Erika Dermawan, tanpa menyebutkan nama terakhirnya. Setelah lama mengenalnya dengan sering bersinggungan dalam perlbagai acara, aku tahu bahwa ia adalah seorang wanita berumur dua puluh tujuh tahun. Umur ini adalah usia yang matang untuk seorang wanita dalam karir dan kehidupannya. Tubuhnya sebenarnya tidak terlalu ramping, malah termasuk berisi menurutku. Namun, berhubung ia cukup tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata rekan kerja perempuan dan wanita umumnya yang aku kenal, postur tubuhnya terlihat sangat seimbang. Cara berpakaiannya yang elegan pun mendukung setiap penampilannya: ia kerap mengenakan kemeja yang ditutupi blazer resmi meski tetap fashionable, dipadankan dengan celana panjang pegged pants atau slacks berwarna lembuat yang memamerkan mata kakinya.


Kulitnya begitu cerah. Aku tak pernah benar-benar berani memerhatikan warna kulitnya yang putih pualam itu, atau kadang terlihat berwarna seperti pir segar ketika berada di dalam studio televisi.


Namun, aku berani menatap sepasang matanya yang jernih dan bersinar. Bagian atas kelopak matanya melengkung indah, sedangkan bawahnya datar: bagai matahari yang terbit terlihat dari lautan. Sepasang mata itu melebar ketika bersemangat, tetapi menyipit ketika tersenyum.

__ADS_1


Aku sungguh dapat bertatapan dengannya karena di setiap wawancara, koneksi dan interaksi sangatlah penting untuk menunjukkan keseriusan dan kesungguhanku dalam memberikan jawaban dan pernyataan. Maka, memang, saat-saat itulah aku sungguh menikmati wajah seorang Erika Dermawan.


Wajah cantiknya tegas dan dingin. Namun, aku curiga itu hanyalah bagian dari pencitraan sebagai seorang reporter dan host sebuah acara bincang-bincang. Mendapati ia tersenyum lebar atau kadang-kadang tertawa, aku yakin sebenarnya Erika adalah seorang perempuan yang manis.


Sepasang matanya itulah yang ‘menetralkan’ model wajahnya yang tegas sehingga dalam beberapa sudut akan terlihat sisi manisnya. Walau jarang tertawa lepas, senyumnya mampu mencairkan keadaan. Sudut-sudut matanya akan berkerut dan menyipit sehingga membuat wajahnya yang tegas menjadi ramah dan menenangkan.


Maka, di sinilah ia sekarang. Dua jam kemudian Erika Dermawan sudah duduk di depanku, seorang Negarakrtagama. Kami saling berhadapan dan bertatap wajah di sebuah meja bundar kecil di dalam sebuah coffeeshop yang juga kecil tetapi luar biasa nyaman, Le Petit Café. Pilihan Erika untuk bertemu sungguh tepat. Aku bahkan setengah berharap ini adalah sebuah kencan. Andai hati dan otakku tidak sedang sekacau dan segusar ini.


“Pak Negara, terimakasih sekali bapak bersedia bertemu saya di luar acara televisi seperti biasanya kita bertemu,” Erika membuka percakapan setelah mereguk sedikit cappucino-nya. Aku mengangguk dan mereguk berkali-kali black coffeeku sehingga hampir tandas.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?” tanpa tedeng aling-aling ia straight to the point.


Kini Erika yang menghela nafas. “Saya tahu, saya mendengar dengan detil ceritanya dari semua jurnalis. Anda tahu nggak sih, Pak, sekarang beritanya sudah muncul di semua stasiun televisi?” Erika pun nampaknya mulai menggunakan bahasa lisan yang tidak formal. Lebih santai.


“Lalu, mengapa perlu berbicara dengan saya?” jawabku ketus. Aku sedikit menyesal setelah menjawabnya dengan gaya bahasa seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi, pikiran dan perasaanku sedang kacau-kacaunya.


“Pak Negara, saya ingin mendapatkan detil yang keluar langsung dari Anda. Kita nggak perlu berpura-pura lagi, kita sama-sama tahu bahwa Anda adalah bagian dari fenomena ini. Anda harus menjelaskan kepada saya apa yang Anda lihat dan apa yang sebenarnya terjadi, Pak.”

__ADS_1


Penjelasan Erika membuatku meledak. Bisa-bisanya dia menyalahkanku!


“Maksud kamu, saya harus bersaksi bahwa si superhero itu sungguh benar-benar ada dan saya harus menjilat ludah saya sendiri? Saya harus mengakui bahwa seluruh teori saya salah?” nada suaraku nyatanya lebih tinggi dari perkiraanku. Aku sejenak lupa bahwa perempuan cantik di depanku adalah Erika.


Sepasang mata indah milik Erika tersebut spontan melebar. “Maaf, Pak Negara. Sekali lagi maaf. Saya nggak pernah bermaksud seperti itu. Saya tidak akan memaksa Bapak untuk bercerita bila memang Bapak nggak mau. Begini, Pak Negara. Saya mau jujur pada bapak kalau saya sama syoknya dengan Bapak. Kalau saya yang melihat kejadian itu dengan mata saya sendiri, mungkin saya akan bersikap sama seperti bapak. Bahkan mungkin lebih parah.”


Erika menarik nafas. Nampaknya ia belum ingin berhenti berbicara.


Benar saja, ia melanjutkan, “Saya adalah penganut teori-teori Pak Negara. Saya baca semua buku yang Bapak tulis. Saya perhatikan dan tonton hampir semua perbincangan dan wawancara Bapak di stasiun televisi manapun. Sayalah yang paling bersemangat ketika mendapatkan kesempatan mewawancarai Bapak. Praktisnya saya adalah penggemar bapak. Saya percaya semua teori dan penjelasan yang bapak ajukan, tidak saja mengenai si superhero, tapi hampir semua isu dan fenomena yang terjadi di negara kita ini.” Erika menghembuskan nafasnya, seperti sedang mengatur detak jantungnya yang bergemuruh.


“Nah, bapak bisa bayangkan apa yang saya rasakan ketika ternyata bapak dilaporkan dan diberitakan juga ikut menjadi saksi mata kemunculan si superhero? Apalagi selama bapak menghilang – maaf Pak Negara, saya sebut menghilang – berita menjadi liar. Nama bapak disebut terus –menerus. Jadi, sekali lagi saya mohon maaf. Bukan maksud saya untuk menuduh Bapak. Maafkan perkataan saya yang nggak pantas tadi, Pak Negara. Kita di pihak yang sama Pak Negara.”


Andai tidak kujaga, mendengar ini pasti rahangku sudah jatuh ke bawah menerima fakta bahwa Erika Dermawan mengatakan bahwa ia adalah penggemarku. Ingin aku melonjak kegirangan seperti seorang remaja tanggung. Tapi aku langsung sadar. Ini bukan masalah asmara, tapi Erika hanyalah seorang perempuan cerdas yang berbagi pola pikir yang serupa. Dan pola pikir itu diwakili oleh aku, pikiran-pikiranku, dan teoriku.


Kenapa kacau-balau dan berantakan sekali diriku hari ini?


“Saya adalah peragu dan selalu ingin tahu segala hal. Untuk itulah saya melibatkan diri dan mengabdi pada jurnalisme. Kemudian ketika sudah menjadi seorang jurnalis segala masalah sosial yang saya hadapi seakan mendapatkan jawaban dari penjabaran Anda, Pak Negara. Anda adalah harapan saya selama ini,” lanjut Erika.

__ADS_1


Wajahnya yang manis itu terlihat sekali terundung perasaan galaunya sendiri.


Otot-ototku melemas dan aku mulai santai. Otakku yang semula penat kini terasa ringan. Efek kafein dalam kopi sangat kuat ... atau kehadiran dan kata-kata Erika lah yang sebenarnya memberikan efek nyaman semacam ini. Akhirnya akupun terbuka, benteng pertahananku telah berhasil ditembus.


__ADS_2