Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Enambelas


__ADS_3

Merasakan sesuatu yang ganjil dan tidak beres, aku langsung berteriak kepada Erika. “Erika, cepat masuk ke mobil!” seruku.


Erika kaget, matanya membulat.


“Cepat masuk! Cepat!” aku berteriak lebih nyaring sekali lagi.


Walau terlihat kaget, Erika dengan cekatan membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


Aku segera menyusul.


Tak disangka bahwa aku tak beruntung. Belum sempat tanganku mencapai pintu, aku merasa bajuku ditarik oleh seseorang dan aku tersentak keras serta terlempar kebelakang. Tulang ekorku menghempas ke lantai beton. Rasa sakitnya sampai ke kepala. Namun aku masih sempet berteriak, “Erika, kunci pintu, pergi!”


Dua orang mendekat dan mencoba membuka pintu mobil yang telah terkunci. Aku menyaksikan Erika di dalam sana terlihat panik dan sesekali berteriak melihat kedua orang tersebut mencoba membuka pintu dengan paksa.


“Buka! Ayo buka!” salah satu dari orang-orang misterius itu membentak dan mengancam Erika.


Aku khawatir bila Erika tidak segera pergi, dan tidak ada orang yang lewat area parkir ini, mereka akan nekad memecahkan kaca mobil untuk menggapai Erika. Bila sudah sampai seperti itu, aku tidak akan berani membayangkan apa yang akan terjadi kepada Erika.


Aku berusaha berdiri, tetapi satu bogem mentah menghajar wajahku.


Sengatan rasa sakit menyerang pipi yang dikirimkan lagsung ke otak.


Posisiku sebenarnya masih sedang dalam keadaan terduduk. Usahaku untuk berdiri tak membuahkan hasil. Sebaliknya akibat pukulan itu, kepalaku mendongak begitu ekstrem ke belakang sampai menghantam lantai benton.


Kepalaku sakit parah, telingaku berdenging. Walau mataku masih bisa melihat jelas dua orang laki-laki lain berada diatasku, hidungku serasa kebas.


“Salam dari Balai Sigalagala. Dia titip pesan supaya loe jaga mulut,” ujar salah satu dari laki-laki tersebut.


Si pria yang sepertinya adalah orang yang memukulku tadi, meski menggunakan kata ‘loe’, tetapi tidak bisa dipungkiri logat dan aksen Jawa medhoknya yang kental.


Setelah mengatakan kalimat itu, pria medhok itu menjambak rambutku. Dengan sekuat tenaga kupegang tangannya dan berusaha melepaskan diri. Namun ia terlalu kuat, dan aku terlalu pusing. Aku berdiri karena rasa sakit dan mengikuti tarikan tangannya atas rambutku.

__ADS_1


Sampai aku akhirnya berhasil dipaksa pada posisi berdiri, pria satunya datang dan menghajar perutku dengan tendangan.


Tendangan itu begitu keras sampai isi perutku serasa ingin keluar. Ini diperparah dengan rasa kebas di wajah dan menyengat di kepalaku akibat terantuk di lantai serta masih dijambak.


Masih sempat kulihat mobil Erika yang sudah mulai menyala. Derung mobil itu menggema di dalam area parkir.


Tapi, kenapa ia belum beranjak pergi?


Erika menatapku dari balik kaca mobil. Namun, aku tak memiliki suara lagi untuk berteriak memintanya pergi. Aku tak ingin ia menghiraukanku dan segera saja meninggalkan tempat terkutuk ini.


Pria yang menjambak rambutku melepaskan tangannya. Aku berdiri terhuyung-huyung. Tak lama aku melihat salah satu pria yang berusaha membuka pintu mobil Erika mengeluarkan benda dari balik jaketnya yang aku yakini sebagai sebuah pistol revolver dan meodongkannya ke jendela depan mobil Erika.


Aku marah dan panik. Tidak ada rasa takut, melainkan khawatir yang menyerang jiwaku. Maka, aku menyeruduk, mendorong dada laki-laki yang menjambakku tadi sekuat tenaga. Orang itu terjatuh.


Aku juga meninju seorang yang lain tepat di wajahnya. Orang itu mungkin tak menyangka aku akan melakukan perlawanan sedemikian rupa. Ia tersentak sedikit saja. Pukulanku mungkin tak terlalu kuat, dibanding tenaga mereka. Namun itu sudah cukup untuk memberikanku kesempatan melaju.


Aku berlari menderu ke arah si pemegang revolver dan berencana menubruknya keras.


Sialnya, tubuhku ternyata tak benar bisa sampai ke si penodong karena ditahan dari belakang.


Akibatnya fatal.


Dengan gampang mereka menahan semua pukulanku. Satu hantaman menghajar wajahku, satu hantaman lagi menghajar belakang tengkorak kepalaku, dan satu pukulan pamungkas telah menghantam daguku membuatku linglung dan sekali lagi terjerembab ke lantai beton yang dingin.


Cairan merah menutupi rongga pernafasanku, membuatku sulit bernafas.


Tidak hanya sampai disitu, ketika aku megap-megap mencoba bernafas dan sembari tetap sadar, tendangan demi tendangan masuk ke perut, punggung, pinggang bahkan kepalaku. Mereka juga tak segan-segan menginjak-injak tubuhku yang melengkung bagai seekor kucing yang sedang tidur. Mungkin sekali tulang rusukku ada yang patah.


Pandanganku berkunang-kunang, aku tak yakin bisa bertahan.


Tak lama kudengar sebuah ledakan keras.

__ADS_1


Suara nyaring itu tak senyaring dering di telingaku akibat di hajar tadi, tetapi bunyi letusan revolver yang keras itu menyanyat hatiku tanpa ampun.


Erika, Erika, Erika .... hanya namanya yang dapat aku ucapkan dengan rintihan yang aku sendiripun sulit untuk mendengarnya. Aku sepertinya ingin menangis, tetapi terlalu sulit karena darah menutupi mulut, hidung dan wajahku.


Tiba-tiba kusadari bahwa tendangan bertubi-tubi ke badanku sekarang sudah berhenti. Dengan susah payah aku memposisikan diriku untuk melihat ke arah mobil Erika. Dengan posisi merangkak dan pandangan yang kabur, aku melihat sebuah kejadian yang luar biasa.


Sebuah siluet bergerak dengan cepat. Kecepatan bayangan itu diluar akal.


Setiap gerakannya diikuti dengan sebuah teriakan, yang aku yakin adalah teriakan yang keluar dari mulut gerombolan laki-laki yang menyerang kami.


Aku seperti sedang melihat sebuah adegan film found footage atau dokumenter. Tak peduli seberapa tak mungkinnya kejadian ini, semuanya sungguh-sungguh terjadi.


Ada satu tubuh yang melayang didorong keras oleh sosok siluet tersebut.


Aku juga mendengar bunyi derak tanda tulang yang patah.


Ada bunyi geraham dan tengkorak yang retak.


Ada banyak bunyi badan yang berdebam.


Kejadian yang luar biasa cepat itu terekam di kepalaku. Hanya dalam waktu sejenak saja, empat lawan terlempar kesana kemari.


Tak lama suasana kembali hening. Siluet itu kini berdiri ... menatapku.


Aku rasakan tangan lembut menyentuh tubuhku, semerbak harum masuk ke hidungku melalui sela-sela bau karat darah.


Aroma itu sangat kukenal. Itu aroma Erika. Ya, aku melihat Erika. Wajahnya cemasnya menatapku. Suaranya tak kudengar lagi. Tak lama kurasakan badanku terangkat ke udara. Aku merasa tubuhku sendiri sangat ringan. Di antara kesadaranku, aku mendapatkan diriku ternyata sedang melayang, terangkat dari lantai beton ke dalam mobil Erika. Seperti ada kekuatan besar yang mengangkatku dengan mudah.


Sebuah suara bariton terdengar.


“Saya menghargai usaha bapak mendukung tindakan saya. Namun bapak harus lebih hati-hati. Terlalu banyak kebusukan di negeri ini,” suara bariton itu jelas sedang berbicara denganku.

__ADS_1


“Erika, tolong antarkan beliau ke rumah sakit. Saya harap beliau tidak apa-apa, rumah sakit akan menangani dan merawatnya.”


Suara itu hilang, tersisa bunyi desingan angin yang keras dan suara mobil. Tak lama aku tak sadarkan diri.


__ADS_2