
Setelah selesai menelepon kantor polisi, Erika berjalan kembali ke arah sofa.
“Kenapa Anda membantu kami, Tetuka? Sebenarnya apa tujuan kemunculan Anda?” Erika bertanya sembari kembali duduk kembali tepat di sampingku.
“Darah jurnalis Anda rupanya tidak sabaran, Erika,” Tetuka berkata.
Erika paham makna kata-kata sang Tetuka. Ia tersenyum tipis. Ia sama sekali tak berniat untuk menggunakan kesempatan ini sebagai produk medianya. Buru-buru, Erika menjelaskan.
“Ini semua off the record, Tetuka. Saya seperti masyarakat pada umumnya hanya haus akan informasi mengenai Anda. Saya berbicara di sini mewakili diri saya dan Pak Negara sendiri, sebagai bagian dari masyarakat yang Anda selamatkan, dan bukan jurnalis atau siapapun yang berusaha mengambil keuntungan dari informasi yang bisa saya jual mengenai anda. ” Erika melanjutkan menjelaskan.
“Anggap saja kita memiliki visi yang sama,” ujar Tetuka.
“Maksud Anda?” kali ini aku yang bertanya.
“Selama ini, Anda dan Erika lah yang mendukung saya dalam usaha saya memberantas kejahatan dan membela rakyat yang tertindas.”
Mataku serasa bersinar mendengar jawaban ini, “Jadi benar bahwa tujuan Anda adalah melawan kejahatan dan membela kebenaran?”
Tetuka mengangguk. “Bisa dikatakan seperti itu. Sederhananya, saya tidak suka melihat kesewenang-wenangkan dan penggunaan kekuasaan yang berlebihan. Apalagi memperbudak orang lain dengan kekuatan yang dimiliki kelompok tertentu.”
“Tapi darimana kami bisa yakin bila cara Andaadalah dengan dengan menggunakan kekerasan diluar jalur hukum yang legal?” aku melanjutkan pertanyaan.
Tetuka berjalan mendekat. Kedua tangannya yang semula dilipat sekarang lurus disamping tubuhnya. Kedua tangannya pun mengepal.
Aku seketika duduk dengan tegak.
__ADS_1
Erika membuka mulut seakan segera ingin mengoreksi pertanyaanku, “Maaf Tetuka, maksud kami bagaimana cara Anda untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, sedangkan seakan-akan Anda menentang hukum itu sendiri. Kami tidak bermaksud untuk meragukan Anda.”
“Saya tahu itu, Erika.” Tetuka berdiri tidak jauh dari kami.
Gerakannya yang semula kami anggap sebagai bentuk ketersinggungannya ternyata sebaliknya adalah caranya untuk mengakrabkan diri dan lebih santai.
“Saya tidak pernah sok jagoan dan meminta-minta untuk dipuji dan dielu-elukan seperti seorang superhero seperti yang media sebutkan sebelumnya. Saya tidak kenal konsep pahlawan atau superhero. Tapi saya mengerti benar bahwa di luar sana ada banyak orang yang tertindas oleh orang-orang atau kelompok-kelompok yang lebih berkuasa namun batil. Saya juga paham betul bahwa saya memiliki kekuatan dan kemampuan yang diberikan Yang Kuasa untuk dapat digunakan semestinya. Inilah yang dapat saya lakukan dengan apa yang saya miliki.”
Penjelasan sang Tetuka tersebut sepertinya sudah merangkum segala pertanyaan kami mengenai apa sebenarnya tujuan kemunculannya di negara ini. Segala hal misterius tentangnya hanya dalam beberapa kalimat sepertinya terjawab sudah. Aku dan Erika seperti tahu bahwa tak perlu lah menanyakan lebih dalam mengenai tindak-tanduknya dan sikapnya terhadap hukum dan kekuasaan bangsa ini. Apa yang telah aku dan Erika pikirkan selama ini sama persis dengannya.
Sang Tetuka hanyalah seseorang yang sangat peka terhadap keadilan dan kebaikan. Sikap negara yang lalim terhadap rakyatnya, pejabat yang korup, kriminalitas yang tinggi, serta chaos yang disebabkan ketidakteraturan membuat seorang Tetuka gatal untuk memberikan sumbangsih. Caranya mungkin tidak dibenarkan secara hukum, dimana hukum sendiri diciptakan untuk menciptakan keteraturan. Namun bila hukum itu sendiri telah dikotori, harus ada cara lain yang dilakukan. Aku tidak bisa membenarkan tindakan main hakimnya sendiri, akan tetapi kadang perlu adanya ‘hakim’ dan penegak kebenaran yang hakiki yang muncul di luar hukum yang telah ternoda itu sendiri.
Aku pun mungkin memiliki kecenderungan yang serupa bila memiliki kekuatan semacam itu. Malah mungkin bisa lebih parah dan mungkin sekali menggunakannya dengan semena-mena. Sang Tetuka jelas menggunakan kekuatannya dengan tujuan apa.
Sang Tetuka yang telah terlihat jelas di depanku ini memiliki rambut panjang tanggung yang berwarna hitam kelam yang walau tidak rapi menurutku sama sekali tidak menunjukkan kelusuhan, sebaliknya malah menunjukkan wibawanya. Ia mengenakan hoodie hitam yang lengannya disingsingkan sampai siku. Ia mengenakan sebuah celana panjang jeans dan sepasang sepatu boot. Hoodie-nya mencuat di punggungnya.
“Hmm ... apa benar Anda kebal, Tetuka?” Erika tiba-tiba bertanya.
Wanita itu tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Menurut anda, Erika?”
“Ya. Saya melihat palu besi yang dipukulkan Pak Negara ke kepala Anda mental,” ujar Erika.
Darahku berdesir mendengar ini. Ternyata aku tak salah duga. Memang paluku tadi tepat mengenai kepalanya.
__ADS_1
“Saya juga pernah melihat Anda ditembak di video rekaman yang saya tonton. Anda bahkan tidak terluka sama sekali dengan seragan semacam itu.”
Sang Tetuka bergeming dengan perkataan Erika dan juga terdengar seperti pancingan.
“Sekuat apa kulit Anda? Maksud saya, sekebal apa Anda terhadap senjata?” tanya Erika bersemangat.
Erika semakin tertarik mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sedangkan sang Tetuka hanya tersenyum. Wajahnya masih terlihat begitu tegas.
Erika memandangku. Tahulah kami bahwa sang Tetuka nampaknya tak bersedia menjawab pertanyaan -pertanyaan tersebut.
Erika masih terlalu penasaran dan mengganti pertanyaannya. “Apa lagi kesaktian Anda? Anda bisa terbang, bergerak dengan cepat, dan kuat. Apa Anda bisa menghilang?”
“Saya tidak bisa menghilang, Erika,” Tetuka tersenyum kembali. Diluar perkiraan, nampaknya malah ia senang dengan permainan tanya jawab ini.
“Apakah Anda punya kelemahan? Maksud saya, seperti kryptonite yang melemahkan Superman, atau rambut yang dipotong agar Samson lemah?”
“Atau peluru emas seperti si Pitung?” aku menambahkan.
Sepertinya Tetuka tidak bisa menahan tawanya. Ia membuka mulut dan sungguh akhirnya tertawa. Tawanya yang sederhana, namun terdengar tulus, membuatku sebagai laki-laki iri betapa kuatnya kewibawaan orang ini.
“Kelemahan saya adalah ketika masyarakat sudah tidak butuh bantuan saya dan saya sudah tidak dipercaya mereka. Maka dari itu, untuk membunuh saya adalah mudah, jauhkan saja saya dari rakyat, saya akan mati perlahan-lahan. Saya bukan dewa dan bukan Tuhan, saya dapat dilemahkan dan dibunuh oleh siapa saja yang memang berniat jahat. Tetapi selama kebaikan dan rakyat di pihak saya, saya tidak akan kalah.”
Sepertinya aku pernah mendengar pernyataan Tetuka ini, tapi aku lupa dimana dan oleh siapa.
Pernyataan sang Tetuka dalam hal ini menurutku tidak menjawab pertanyaan Erika mengenai letak kelamahannya karena ia hanya menjawab secara filosofis.
__ADS_1
Sang Tetka mundur, kemudian membuka tirai dan menggeser jendela kaca kamar apartemen Erika sembari berkata, “Saya rasa cukup perjumpaan kita kali ini Pak Negara, Erika. Saya mendengar derap langkah kaki petugas polisi sedang menuju kesini. Sampai bertemu kembali. Mohon jaga diri Anda sekalian.”
Sosok sang adiwira tersebut melesat terbang keluar melalui jendela yang terbuka secepat kilat dengan meninggalkan bunyi desiran angin.