Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Tigapuluh Dua


__ADS_3

Di dalam ruangan kamar Erika itulah percakapan antara aku, Erika dan sang Tetuka sungguh terjadi. Ini adalah pertemuan ‘terwajar’ yang pernah ada diantara kami, dan uniknya ternyata terjadi cukup lancar.


Sang Tetuka menunjukkan sikap persahabatannya. Raut wajahnya hangat, meski tidak bisa dikatakan sedang tersenyum atau terlalu ramah. Cukup normal saja, tidak galak apalagi mengintimidasi. Padahal, untuk sosok dengan kekuatan semacam itu, menjadi intimidatif harusnya sudah menjadi sebuah hal biasa saja. Buktinya, mereka yang memiliki kekuasaan, hampir pasti membusungkan dada dan membuat orang lain menjadi tidak nyawan.


Aku menghela nafas, memahami mengapa Erika masih mencurigai Kepolisian dan para anggota-anggotanya.


Erika dengan kikuk mempersilahkan sang Tetuka untuk duduk. Namun, sepertinya sosok adiwira itu lebih nyaman untuk berdiri, layaknya seorang prajurit, seorang ksatria yang selalu siap dalam keadaan apapun.


Dalam kesempatan ini, sang Tetuka khusus datang untuk menanyakan apa sebenarnya maksudku dan Kompol Janaka yang akhir-akhir ini diberitakan di berbagai media, khususnya stasiun televisi tempat Erika bertugas.


Jadi benar, bahwasanya sang Tetuka memang memperhatikan media juga. Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Lalu, sebenarnya dimanakah ia tinggal sebenarnya? Sebuah indekos? Rumah sendiri? Kontrakan? Benteng? Gua? Sebuah fasilitas berteknologi canggih di sebuah pulah di tengah laut Jawa? Bagaimana cara menanyakan hal ini kepadanya?


“Jujur, aku sebenarnya sudah menjelaskan kepada Negara kalau ide ini buruk sekali,” Erika berdiri dari duduknya. Ia sekarang menggunakan kata ganti orang ‘aku’ kepada Gatotkaca. Kata ganti yang biasanya ia gunakan ketika berbicara denganku. Aku mengernyit. Namun, semoga tak seorang pun diantara mereka melihatnya.


“It’s literally a bad idea. Aku heran kenapa Negara sampai berpikir seperti itu. Apalagi Janaka belum tentu bisa dipercaya. Kita tahu polisi seperti apa. Kamu lebih tahu itu,” ia menujukan kalimat ini untuk sang Tetuka. Lagi-lagi, Erika menggunakan kata ganti ‘Kamu’ untuk ‘Anda’ kepada sang Tetuka. Erika jelas sudah merasa ada kedekatan tertentu di dalam hubungan kami dan sang Tetuka, sehingga seakan terdengar lebih akrab dan dekat.


Aku tersenyum kecut mendengar alasan Erika yang dikatakan dengan menggebu-gebu tersebut.

__ADS_1


Sang Tetuka mengerling ke arahku, kemudian tersenyum kepada Erika, “Tenang Erika, saya perlu penjelasan ini langsung dari Pak Negara.”


Aku rasa itu senyum pertama yang pernah kami lihat dari sang Tetuka. Atau, entahlah, mungkin sebelumnya ia pernah tersenyum, tetapi karena berada dalam suasana dan keadaan berbeda, aku tak terlalu mengingatnya.


Erika kembali duduk, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah semi merengut. Ia tetap memesona di mataku.


Mau tidak mau, aku pun kemudian menjelaskan semuanya kepada sang Tetuka. Bagaimanapun, tujuan utama dari segala wawancaraku dengan Erika serta komunikasiku dengan Kompol Janaka memang adalah untuk dapat menemui sang Tetuka.


Aku memulai dari penjelasan bahwa masyarakat berhak tahu identitas Gatotkaca sang Tetuka. Ini sebetulnya berdasar pada alasan agar paling tidak masyarakat tidak kecele, tertipu dengan pikiran dan imej yang telah mereka buat tentang sosok adiwira dan penyelamat mereka tersebut. Lagipula mengenai hak masyarakat akan segala informasi, Erika sebagai jurnalis harusnya lebih paham mengenai hal itu. Yang dituju hanya mendengus. Erika tak bisa membantahnya. Memang masyarakat harus tahu the truth, kebenaran. Baik bila memang baik, buruk memang bila buruk.


Sang Tetuka tak bereaksi. Tetapi raut wajahnya masih memancarkan kehangatan. Maka, kembali menjelaskan.


“Dan jujur, aku tidak mau berdiri sendiri, Tetuka.” Aku menatap ke arah Erika.


Erika menatapku balik. Wajahnya yang semula keras mendadak langsung melembut. Hampir saja ia tersenyum. Nampaknya, dampak kata-kata yang kuucapkan mengena di hatinya. Ia tahu aku tidak mungkin bertindak sendirian tanpa keputusan dan persetujuannya.


Aku kembali menjelaskan bahwa akupun tidak ingin nantinya sang Tetuka hanya akan digosipkan, digunakan namanya oleh beragam pihak untuk mencari keuntungan atas fenomena ini. Terutama kaum elit politik dan penguasa. Dengan memunculkan diri, harapanku, harapan kami, sang Tetuka dapat menjelaskan semuanya kepada publik, termasuk alasan tindakannya.

__ADS_1


“Saya tidak perlu menjelaskan apa-apa mengenai tindakan saya kepada siapapun, Pak Negara. Mengapa Anda berpikir saya harus melakukannya?” sang Tetuka bertanya. Walau pertanyaannya bermakna tantangan, tetapi sesungguhnya ia menyampaikan masih dengan nada damai dan bersahabat.


“Aku sebenarnya setuju denganmu, Tetuka,” ujar Erika pelan. Kemudian ia memandangku, dengan sepasang mata yang sudah tidak lagi penuh kelelahan. Sepertinya malah Erika sedang memohon kepadaku dalam nada bicara dan pandangannya.


”Negara, apa tidak bisa kita biarkan saja Tetuka seperti ini. Mungkin ada beberapa tindakannya yang tidak sesuai dengan hukum, tetapi bukankah kita tidak perlu meragukan lagi niatnya?


Aku memandang Erika dengan sabar, “Erika, kamu juga tahu kita berada di sisi yang sama. Aku juga mendukung Tetuka,” aku bereaksi atas pernyataan Erika kemudian kembali menjawab pertanyaan sang Tetuka, “Saya tidak akan meminta kamu untuk melakukan apa yang tidak kamu mau. Lebih tepatnya, saya tidak berani meminta kamu untuk melakukan apa yang tidak kamu suka. Saya, ehm ... kami, memohon kepada kamu untuk sedikit saja memberikan kami informasi. Ini sebagai bentuk permintaan agar harapan kami bukanlah mimpi. Publik memiliki hak untuk tahu secercah saja mengenai dirimu. Walau mungkin kamu merasa bukanlah seorang pahlawan, tapi kami sudah terlanjur menganggapmu sebagai seorang pembebas, ksatria dan adiwira yang mampu membantu kami melawan kesewenang-wenangan. Kami hanya butuh sedikit penyejuk hati. Dengan kemunculanmu secara resmi, masyarakat akan dapat sedikit terobati dengan mengetahui bahwa mereka memang sedang berdampingan dengan sesosok tokoh yang nyata, bukan sekedar harapan dan khayalan mereka saja.”


Aku terus mengoceh menjelaskan semuanya semampuku. Aku sama sekali tidak berniat untuk memaksa san Tetuka. Aku hanya ingin ia mempertimbangkan ini. Bila ia tidak setuju, aku pun mendapatkan jawaban, seperti apakah sosok sang Tetuka ini. Siapa tahu ia memang ingin misterius dan melakukan semuanya dengan sendiri pula.


Ada sejenak ruang kosong yang terbentuk setelah penjelasanku itu. Ruangan itu hening. Meski hanya beberapa detik saja, tetapi rasanya sewindu.


“Pak Negara, katakan pada Janaka kalau saya akan memberikan kesempatan untuk berkomunikasi. Beberapa saat lagi saya akan mengunjungi anda. Sebaiknya Anda juga sudah mengomunikasikan ini kepada Janaka. Selamat malam Erika. Selamat malam Pak Negara,” sang Tetuka menggeser jendela kaca dan langsung melesat ke udara menghilang di antara gedung-gedung dan padatnya bangunan, ke angkasa yang hitam kelam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bunyi menggelegar itu merunyamkan segalanya hari ini.

__ADS_1


Entah berapa ratus bahkan ribu butir mimis timah panas dimuntahkan dari moncong senapan dan pistol siang itu. Mimis tajam berlompatan liar merajam tubuh sang Tetuka. Desingan mimis timah panas itu seakan menabrak benteng baja ajaib yang tak tertembus. Tidak seperti Abimanyu dalam dunia pewayangan yang tertancap ratusan panah pasukan Kurawa dalam peperangan di lapangan Kurusetra, mimis-mimis itu hanya sanggup merobek pakaian sang Tetuka, membuatnya compang-camping akan tetapi tanpa mampu menggores kulitnya sama sekali.


Tak kusangka akan begini jadinya.


__ADS_2