
Setiap saat aku semakin yakin Yang Maha Kuasa turut serta dalam rencana besar bagi negara ini ketika sang jendral polisi yang telah lama menghilang ternyata pulang dalam keadaan utuh ke rumahnya.
Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa-masa kehilangannya. Ia tidak terlihat linglung, tidak terlihat kesakitan, tidak terlihat kacau sama sekali. Sebaliknya ia terlihat waras dan sehat.
Namun yang paling menggemparkan adalah bahwa sesampainya ia ke rumah, ia langsung mengendarai mobilnya ke markas besar Kepolisian. Semua anggota Kepolisian terhenyak atas kedatangannya yang tiba-tiba. Para pers yang sudah berhari-hari hampir selalu stand by di sekitar tempat tinggalnya tentu saja tak mau diam saja. Meeka kecolongan karena tak tahu mendadak sang jendral sudah ada di dalam rumahnya. Maka mereka langsung mengejar sang jendral sampai ke markas besar.
Beberapa menit sang jendral berada di dalam kantor dengan anggota Kepolisian di depan markas besar menghalau para jurnalis memburu berita. Tak lama ia keluar dan menatap semua kamera yang diarahkan kepadanya. Kasak kusuk dari para jurnalis yang telah menunggu berita ini langsung tak dapat dielakkan.
“Pak Jendral, bagaimana keadaannya, Pak?” jurnalis mulai sahut menyahut.
“Bagaimana kabar Bapak dan apa yang sebenarnya terjadi, Pak?”
“Apa yang Gatotkaca lakukan terhadap anda, Pak?”
__ADS_1
Semua pertanyaan bersahutan. Semuanya terekam secara nasional di semua televisi dan kembali menjadi berita terpanas abad ini. Bedanya, kali ini nama Gatotkaca telah resmi digunakan mengganti tokoh misterius atau sang superhero.
Sang jendral melambaikan tangannya untuk meredakan sahutan para pers. Ia mulai membuka mulut, “Saya kemari hanya menyampaikan kepada teman-teman dan rekan-rekan saya untuk segera bertobat dan mengakui kesalahan mereka. Mereka tidak akan bisa lari dari orang ini. Mereka juga tidak bisa lari dari dosa-dosa mereka. Saya mengakui kesalahan saya dengan sadar dan dengan keyakinan penuh bahwa saya masih dapat memperbaiki diri saya. Demi bangsa, demi keluarga, dan demi kehidupan kotor saya sendiri. Terimakasih dan cukup sekian.”
Sang jendral menyeruak kerumunan pers yang ganas bagai kumpulan serigala berebutan daging rusa. Dengan bantuan personil polisi, sang jendral berhasil masuk ke mobilnya dan pergi dari markas besar Kepolisian. Itulah rekaman terakhir, kata-kata terakhir sang jendral, dan kemunculan terakhir sang jendral dalam keadaan bernafas. Karena satu kali duapuluh empat jam setelah itu, sang jendral ditemukan gantung diri di dalam rumahnya.
Kekacauan merajalela di masyarakat. Media terus memburu semua potongan puzzle informasi yang bisa mereka kumpulkan. Pertanyaan mengapa, apa, siapa, dimana, dan bagaimana menjadi inti pekerjaan para jurnalis. Kalimat-kalimat sang jendral dirangkai sedemikian rupa untuk mendapatkan informasi yang utuh.
Dugaan demi dugaan menyeruak. Kepolisian tetap menutup erat kasus ini dan menyatakan sang jendral mengalami syok berat dan menimpakan kesalahan kepada Gatotkaca – yang tetap mereka sebut sebagai sosok misterius – dimana meski Kepolisian berani pelan-pelan mengakui keberadaan Gatotkaca. Mereka masih menganggap sosok ini sebagai sosok yang berbahaya dan memilih mengacuhkan racauan sang jendral.
Teori konspirasi bertaburan. Tindakan sang jendral sama sekali tidak bisa dilogikakan. Semengerikan apa tindakan Gatotkaca pada sang jendral sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri?
“Seorang jendral besar Kepolisian bunuh diri, yang menyelidiki kasus ini polisi, yang memutuskan dan menyimpulkan hasil penyelidikan juga polisi. Sedangkan, yang paling dirugikan dari tindakan sang jendral adalah polisi sendiri. Coba, kira-kira, apa kesimpulannya?” ujar Hermansyah suatu saat ketika kami sekali lagi berkumpul.
__ADS_1
Aku dan Erika hanya mengedikkan bahu dan tersenyum kecut.
Keadaan luar biasa ini membuat para ahli beragam ilmu, dari hukum, psikologi, politik, budaya, agama termasuk sosial seperti aku terus melancarkan beragam analisis mereka. Beberapa tokoh budaya dari luar Jawa menolak keras penamaan menggunakan Gatotkaca karena lebih merujuk pada satu etnis tertentu, yaitu Jawa. Pada kesempatan itu pula aku mencoba meredakan pandangan mereka dengan pikiranku sekaligus menempatkan posisi di jalan tengah.
Aku mengatakan bahwa Gatotkaca adalah legenda Nusantara, salah satu budaya Indonesia yang sifatnya menasional, bukan sekedar milik orang Jawa. Wayang sendiri dikenal oleh orang Sunda, Bali, bahkan Sumatra dan Kalimantan. Dunia pewayangan yang pada awalnya berakar pada budaya Hindu India juga telah meresap pada nafas budaya nusantara. Misalnya saja nama sebuah daerah di Nusa Tenggara Barat, yaitu Bima, menurut sejarah memang nama daerah itu berasal dari nama seorang tokoh pewayangan Pandawa, yaitu ayah sang Gatotkaca sendiri.
Penggunaan nama Gatotkaca oleh media dan masyarakat menurutku bukan karena merujuk pada suku tertentu, namun karena ciri-ciri fisik dan kemiripan superhuman strength-nya serupa dengan tokoh pewayangan yang juga sudah menasional ini. Lagipula nama Gatotkaca sudah terlanjur digunakan dengan nyaman oleh masyarakat. Ini lebih bagus daripada sebutan Superman Indonesia yang terkesan norak dan terlalu komikal.
Pembahasan kecilku ini mendapatkan reaksi yang beragam. Ada yang berpikiran bahwa aku malah sibuk membahas nama dan merespon persoalan yang tidak hakiki dan bukan esensi. Permasalahan utama sesungguhnya adalah tentang keberadaan Gatotkaca dan bagaimana sebenarnya posisi sosok itu di dalam kancah politik dan sosial masyarakat. Apa yang sesungguhnya telah ia lakukan terhadap sang jendral dan tentu siapa dirinya sebenarnya.
Tidak hanya sampai disitu, kaum agamawan merasa perlu membahas ini lebih lanjut. Mereka khawatir masyarakat akan jatuh kedalam agama-agama baru atau pandangan-pandangan yang menyimpang dari agama. Misalnya menganggap si Gatotkaca adalah nabi baru yang diutus Tuhan, atau malah Tuhan itu sendiri. Memang kekhawatiran mereka bisa dipahami, mengingat tidak sedikit sekelompok orang atau oknum yang kemudian memaknai kehadiran Gatotkaca dengan berlebihan. Mereka menganggapnya dewa.
Untuk hal ini, aku juga merasa perlu menetralisir pola pikir para agamawan dengan beragumentasi bahwa sebaliknya sebagai orang yang beriman, kita jadi semakin yakin bahwa Tuhan itu ada dan sedang bertindak. Dalam setiap agama sangat dimungkinkan manusia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Baik karena latihan atau pemberian Tuhan yang mahakuasa. Misalnya saja kaum fakir di Timur Tengah atau Asia Selatan yang merujuk pada gaya hidup estetis penganut Islam Sufi. Kaum Fakir juga dikenal dalam agama Jain, Buddha dan Hindu di India yang terkenal dapat tidur di atas paku atau tidak makan selama jangka waktu yang panjang.
__ADS_1
Menurut tokoh suci Sufi yang terkenal, Abdul-Qadir Gilani, seorang fakir adalah orang yang diberikan rahmat dari Allah sehingga memiliki kekuatan atas kehendak-Nya. Bahkan Sultan Bahoo menjelaskan lebih jauh bahwa fakir adalah orang yang mendapatkan otoritas penuh dari Allah. Ini menyebabkan ia sangat dekat dengan Tuhan dan hal-hal fisik di dunia seperti rasa sakit dan lapar tidak menjadi masalah. Meskipun konsep ini masih terus menjadi kontroversi antar penganut kepercayaan, atau dalam kepercayaan itu sendiri, paling tidak kita tahu bahwa memang ada orang-orang tertentu yang dapat mencapai ‘kesaktian’ atau kekuatan fisik karena imannya.
Sama seperti Ram Bahadur Bomjon, seorang biksu muda dari Nepal yang dikenal di dunia barat sebagai The Buddha Boy, dimana beberapa orang beranggapan bahwa ia adalah reinkarnasi dari sang Buddha Gautama – meski lebih banyak yang menyangkal karena sang Buddha sendiri sudah mencapai Nirvana dan tidak dapat dilahirkan kembali. Tokoh ini sangat terkenal karena dapat bermeditasi tanpa makan dan minum dalam jangka waktu yang sangat lama. Ia bermeditasi tanpa bergerak sama sekali dari posisi awal mula meditasinya.