
Telah tiga hari setelah kejadian yang menghebohkan itu, media terus memberitakan dengan versi mereka, yaitu versi yang sebenarnya cukup dilematis. Di satu sisi media sendiri mengakui bahwa berita ini cacat. Segempar apapun, semeyakinkan apapun, bila tanpa didukung bukti-bukti yang nyata dan valid, ini hanya menjadi sekedar hoaks dan isu belaka. Namun di sisi lain, jurnalis-jurnalis itulah yang menjadi saksi hidup. Mereka bersumpah melihat hal yang sama. Dan ketika mereka bercerita, semua menceritakan detil yang lebih dari 80 persen serupa, hanya dengan tambahan informasi dan gaya masing-masing pencerita.
Kepolisian terus berkasak-kusuk mengerahkan pasukan sampai ke lubang-lubang tikus. Mereka mebentuk tim-tim khusus untuk menangkapi preman dan masuk ke gorong-gorong dunia gelap para kriminal. Mencari informasi yang mungkin mengenai keberadaan sang superhero atau sang jendral yang diculik. Dalam waktu tiga hari yang singkat itu, Kepolisian menjadi lebih serius dibanding media yang telah meliput berita ini selama berbulan-bulan.
Kepolisian juga bahkan mencari informasi dengan sangat cepat dan terstruktur, meski memang belum ada tanda-tanda ditemukannya sang superhero maupun sang jendral polisi.
Hingga tibalah waktu yang bersejarah bagi negara dan bangsa ini serta diriku sendiri tentunya. Aku muncul ke permukaan melalui sebuah stasiun televisi yang secara khusus memintaku untuk berkomentar mengenai hal penting yang telah berlarut-larut ini. Akupun tanpa sungkan sengaja meminta Erika sebagai presenter yang secara khusus mewawancaraiku. Bahkan aku tegaskan bahwa hanya Erika lah satu-satunya presenter yang berhak dan boleh mewawancaraiku.
Selama tiga hari setelah kejadian ‘penculikan’, media mencari-cari dimana aku gerangan, bahkan bisa dikatakan mereka memburuku. Mereka haus akan segala informasi yang mungkin dapat dikumpulkan dan digunakan sebagai penambah fakta dan berita mereka. Sedangkan aku memang menghilang karena sebuah kesepakatan bersama Erika. Aku memintanya untuk mendukung tindakanku berikutnya yang menggunakan kekuatan media dan pengetahuan dan posisi yang kumiliki.
Sebagai salah satu saksi kunci kejadian yang menghebohkan itu, aku memiliki posisi yang unik dan kuat. Apalagi aku bukan termasuk salah satu jurnalis, sehingga sangat mungkin segala ucapanku nantinya di wawancara ini dapat menjadi sebuah informasi yang luar biasa. Belum lagi melihat statusku sebagai seorang ilmuwan dan pendidik yang sudah barang tentu memiliki pola pikir yang patut di perhitungkan karena semua hal yang aku katakan selalu berdasarkan landasan pikiran yang ilmiah pula. Jangan lupa juga, aku cukup terkenal di ranah pertelevisian walau aku bukanlah selebritas.
Mungkin disinilah peran yang aku mainkan dalam fenomena akbar ini.
Stasiun televisi tempat Erika bernaung tersebut sepertinya merasa superior karena berhasil memenangkanku dan meletakkannya sebagai televisi yang pertama kali menayangkan wawancara eksklusif ini. Barisan iklan dan reklame menanti. Begitu pula para politisi, aparat Kepolisian, dan tentu saja masyarakat luas ikut menanti dengan semangat yang besar. Bahkan aku benar-benar tidak sadar bahwa apa yang akan kulakukan saat ini ternyata memiliki efek yang luar biasa besar. Fenomena sang superhero akan menjadi sebuah kejadian bersejarah dan mungkin menjadi legenda bangsa yang sama luar biasanya.
Di hari H, Erika terlihat sangat menawan saat itu. Bukan dengan busana yang ia kenakan, atau make up yang ia pakai, namun dengan mata yang berbinar dan senyum yang lebih cepat dan sering mengembang dari biasanya.
Ia pun sama excited-nya denganku.
__ADS_1
Selama tiga hari penuh kami selalu bertemu dan membahas semua ini. Tidak seperti sewaktu ia mewawancaraiku seperti saat ini, dalam tiga hari tersebut Erika tidak hanya mendengar dan bertanya, ia malah ikut memberikan pendapatnya, masukan dan bahkan teorinya sendiri. Praktisnya, kami ‘bekerja sama’ dalam mempersiapkan semuanya. Semua yang akan aku katakan dan semua yang akan ia tanyakan terangkum dengan detil dan tertata dengan baik.
Kami siap!
“Selamat malam, Pak Negara.” Erika memulai sapaannya.
“Selamat malam, Mbak Erika,” jawabku.
“Bagaimana kabar Anda, Pak Negara?”
“Ah, saya baik-baik saja. Terimakasih sudah bertanya,” ujarku.
Meski telah sering bertemu wanita ini di luar acara interview dan bincang-bincang televisi, melihatnya tersenyum lebar tetap meruntuhkan jiwaku.
“Nah, bagini, Pak Negara. Telah kita ketahui bersama sebuah event yang sangat luar biasa telah terjadi. Berita menghebohkan telah tersebar dalam beberapa hari ini. Meski kita yakin pula bahwa awalnya berita ini telah berlangsung sebelumnya selama berbulan-bulan lamanya, tapi saya merujuk kepada kejadian khusus tepatya yang terjadi tiga hari yang lalu. Telah diberitakan dengan gencar oleh para jurnalis dan awak media mengenai kemunculan kembali tokoh fenomenal yang dikenal oleh media sebagai sang superhero. Kemunculan itu tidak biasa. Desas-desusnya, kedatangan sosok misterius itu disertai dengan penculikan – bisa dikatakan demikian – seorang pejabat tinggi Kepolisian, yang seperti kita ketahui juga, sedang berperkara. Namun, tidak hanya itu, utamanya adalah bahwa dalam kesempatan kali ini, kabar yang berhembus dengan sangat keras menyatakan bahwa Anda ternyata berada di sana. Anda merupakan salah satu dari saksi mata kejadian ini. Apa yang dapat Anda sampaikan mengenai hal ini, Pak Negara?”
Aku menarik nafas dalam-dalam. Bukan untuk mendramatisir keadaan, akan tetapi memang hal yang ingin aku sampaikan ini cukup berat dan mungkin saja beresiko karena melibatkan isu dan liarnya pendapat dan pertentangan argumentasi di masa mendatang. Tarikan nafasku akhirnya adalah sebagai tanda pembulatan tekadku.
“Terimakasih Mbak Erika atas undangan wawancara ini. Sebelum menjawab pertanyaan Anda yang memang mungkin tanpa merasa terlalu percaya diri dapat saya katakan telah dinanti-nanti ini, saya ingin sedikit menyampaikan beberapa hal atau cerita. Mungkin yang akan saya sampaikan akan terasa sedikit melenceng dari pertanyaan anda. Namun pada akhirnya semuanya akan terjawab,” kataku.
__ADS_1
“Anda pasti mengenal seorang tokoh terkenal bernama Samson?”
Pertanyaanku ini sudah sesuai dengan rencana kami sebelumnya.
“Maksud Anda si Samson yang terkenal sebagai orang kuat itu?” Erika bertanya.
Aku kemudian meraih tablet untuk membuka tumpukan informasi yang telah kupersiapkan di sana.
“Ya, tepat, Samson si orang kuat. Samson adalah seorang tokoh penting atau figur besar yang dikenal dalam kitab-kitab dan ajaran tiga agama Abrahamik, yaitu Yahudi, Kristiani dan Islam. Ia dikenal juga dengan nama Shimson dalam bahasa Ibrani dan Shamshūn atau Šamšūn dalam bahasa Arab. Dalam ketiga agama besar itu, Samson dikenal sebagai seorang manusia yang dikaruniai kekuatan luar biasa oleh Tuhan. Kekuatan ini ia gunakan untuk melawan musuh-musuh Tuhan, termasuk menumbangkan kekuatan para penganut kepercayaan penyembahan terhadap berhala.”
Erika tak bereaksi karena tahu akan dibawa kemana arah penjelasanku ini.
“Dalam ajaran Islam ia dikenal dengan kemampuan melunakkan besi dan merubuhkan istana. Samson juga dikenal sebagai orang yang dapat membunuh seekor singa dengan tangan kosong dan membantai sekumpulan pasukan musuh seorang diri.”
“Baik Pak Negara, saya ingat cerita itu, terutama cerita bahwa walau Samson dikenal kuat. Tetapi sayangnya ia juga memiliki kelemahan. Ia akan menjadi lemah bila rambutnya dipotong,” Erika berkata.
“Delilah lah perempuan yang memotong rambutnya,” lanjutku.
Erika menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Aku kemudian bersiap melanjutkan.