
Cuping hidung Balai Sigalagala kembang kempis. Aku tahu ia sedang terbakar amarah sekaligus gairah ketika sedang mengumbar kata-kata busuknya itu. Dasar sakit!
“Kita tidak menampik bahwa dalam beberapa kejadian, Gatotkaca memang sepertinya membantu masyarakat. Namun apa gunanya bila ia menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya? Apa gunanya kita hidup di dunia demokratis ini. Negara kita adalah negara hukum, tak ada satupun warga masyarakat yang berhak melakukan hal yang melanggar hukum. Berkaca dari tindakannya, mulai sekarang, kita belajar bahwa siapapun dari warga masyarakat yang lemah akan gampang dianiaya oleh orang-orang yang lebih kuat. Ini diwakilkan dengan perilaku sosok asing yang kita kenal sebagai Gatotkaca tersebut. Sekali lagi, saya adalah salah satu contoh besarnya. Saya adalah warga masyakat. Bahkan saya secara legal memiliki kewenangan sebagai wakil dari masyarakat. Namun lihatlah apa yang saya alami. Tanpa alasan yang jelas, dengan berlandaskan kecurigaan dan fitnah, saya menjadi korban kekerasan Gatotkaca. Entah berapa banyak diluar sana yang mengalami hal yang sama dengan saya,” ujarnya.
Aku tersentak dengan betapa pandai orang itu berkata-kata. Bahkan, jujur, bila aku tidak tahu isi hatinya yang sesungguhnya, bisa saja aku terpesona. Cuih!
“Untungnya Kepolisian secara profesional dan bijak dapat melepaskan saya dari fitnah yang keji yang dilakukan oleh Gatotkaca, sehingga saya dapat bebas dan membersihkan nama saya walau luka fisik masih membekas dengan jelas. Saya tidak akan tinggal diam. Saya akan mendesak kepada pihak Kepolisian agar menindak pelaku kekerasan, tidak peduli apakah ia orang kuat semacam Gatotkaca sekalipun. Gatotkaca tidak bisa dibiarkan berlaku seenaknya di negara hukum ini. Mengancam, menganiaya orang dengan sekehendak hati.”
Balai Sigalagala belum mau berhenti nampaknya. Ia sudah mendapatkan sorotan. Kata-katanya merasuk ke dalam logika manusia.
“Kepolisian bahkan sengaja dipermalukan dengan kasus penculikan sang Jendral pada beberapa waktu yang lalu. Kepolisian harus memburu Gatotkaca, karena ia meresahkan masyarakat. Ia adalah orang yang berbahaya bagi bangsa ini. Masyarakat pun jangan segan-segan melaporkan segala tindak-tanduknya. Jangan memuja orang tersebut, karena ia bukan nabi, bukan Tuhan!” Seru Balai menutup konferensi pers.
Aku tak tahu apakah aku juga berubah mood seperti yang Erika rasakan. Ucapan Balai Sigalagala sangat masuk di akal. Aku seperti digerogoti bias dan kepentingan semata. Kalau boleh jujur, tidak ada yang tahu siapa atau apa Gatotkaca itu. Ia memang menyelamatkanku dan Erika dari tindakan buruk Balai. Namun, kami tak punya cukup bukti, apalagi argumentasi karena posisi Gatotkaca tak lebih misterius dibanding kegiatan Balai di dalam perpolitikan.
“Walau jelas ada kemunafikan dalam penjelasan dan kata-katanya, tidak bisa kita pungkiri ada benarnya juga beberapa hal yang Balai sampaikan,” Hermansyah berkata ketika kami berkumpul lagi. Ia mengucapkan ini dengan desah pasrah yang bisa kumaklumi. Aku juga merasakannya.
Erika sama sekali tidak ingin membuka mulutnya kali ini. Mungkin ini adalah masalah dilematis. Di sisi lain, sebagai seorang jurnalis, ia harus bersikap netral. Lagipula kata-kata Hermansyah maupun Balai sungguh tidak salah. Orang dengan kekuatan semacam Gatotkaca dapat melakukan hal tak terbatas tanpa dapat dicegah. Bagaimana bila ternyata Gatotkaca sudah, sempat atau akan melakukan kesalahan? Orang dengan kekuatan seperti itu bisa menjadi bencana besar, bukan? Pertanyaan yang selalu aku sendiri pikirkan setiap saat.
__ADS_1
Namun di sisi lain, perilaku Balai jelas sudah menunjukkan bahwa ia adalah sang antagonis, benar-benar seorang penjahat kelas kakap yang munafik.
Hermansyah menatapku dan bertanya, “Gimana menurut Bro Negara?”
Aku menghela nafas, tetapi tidak secara terlalu. “Saya juga benci mengakuinya, Her. Namun saat ini kita kurang sekali informasi dan komunikasi dengan Gatotkaca. Kita tidak memiliki kesempatan untuk mewawancarainya. Ini menyebabkan keragu-raguan dan ketidakpastian dalam masyarakat. Kita tahu kalau orang-orang yang berada di kekuasaan itu memang kotor, Kepolisan juga tidak bisa lari dari sisi kotor. Namun pasti ada orang-orang bersih di dalam sana yang ingin membuat semuanya lebih baik. Masalahnya adalah, kita tidak tahu pasti Gatotkaca berdiri di sisi yang mana.”
Aku buru-buru melirik Erika. Khawatir akan sikapnya, aku segera menambahkan, “Meski tentunya saya juga tidak bisa menutupi bahwa apa yang sudah Gatotkaca lakukan terhadap saya dan Erika adalah hal luar biasa yang tidak mungkin kami lupakan seumur hidup. Kami berterimakasih pada dirinya.”
Untunglah mood Erika dapat juga membaik hari itu. Sembari menyelipkan helai-helai rambut di belakang telinganya, wajahnya mulai bersinar ketika aku antarkan ia pulang.
Kami menyusuri dengan lambat jalan yang dipenuhi mobil-mobil dengan lampu-lampu jalan dan gedung-gedung di samping kiri kanan kami, merayap bagai kumpulan serangga listik yang berwarna-warni.
Aku melirik curi-curi, kadang malah memaksa melihat Erika dari ujung mataku. Wanita ini tak berkurang cantiknya. Kulitnya yang putih segar itu bahkan serasa menyala dalam gelap. Sinar berwarna-warni bermain-main di wajahnya sepanjang perjalanan.
Namun, kami tidak berdiam diri. Kata-kata bahkan canda sudah mengalir lancar. Ketika bertukar kisah itulah aku berani terang-terangan memandangi wajah ayu wanita berdarah oriental ini. Aku suka sekali ketika ia tersenyum, apalagi tertawa. Sudut dagu, pipi sampai lehernya memiliki lengkung indah yang sulit untuk kugambarkan. Yang jelas, setiap kali aku menatap wajah Erika, jantungku sulit sekali untuk dicegah berdetak dengan cepat dan bergemuruh.
Erika tinggal di sebuah apartemen di pusat kota. Apartemennya terletak terhimpit di antara bangunan-bangunan beton lainnya. Walau begitu, apartemen Erika termasuk jenis apartemen elit nan mahal. Aku berpikir bahwa keterbatasan lahanlah yang menempatkan apartemen ini di tempat semacam itu.
__ADS_1
Bangunan itu berdiri berhimpitan dengan bangunan-bangunan lainnya. Untungnya ketika memasuki area apartemen, entah bagaimana semuanya menjadi tenang. Sepertinya bangunan-bangunan padat di sekitar apartemen malah menjadi benteng apartemen ini yang tugasnya melindungi dan menyembunyikannya dari kebisingan jalan di luar.
Singkat kata, akhirnya kami sampai juga di apartemennya. Semula, aku hanya ingin mengantarkan Erika sampai lift untuk kemudian pulang memesan taksi online. Namun, Erika mencegahku.
“Paling tidak, antar aku sampai ke kamar, ya Pak Negara,” pintanya. Sepasang mata sayunya memandang ke arahku dengan memohon. Siapa yang sanggup menolaknya?
Tapi, bukankah akan menjadi terlalu menonjol bila aku langsung saja menerima permintaan ini?
“Erika, ehm …, apakah tidak ….”
“Jadi, Bapak masih khawatir dengan apa yang orang-orang bakal katakan? Mereka akan menggosipi hubungan kita? Begitu?” potong Erika memrotes. Ia terlihat sekali ingin diantarkan sampai ke kamarnya.
Tunggu, ‘hubungan kita’? Memangnya kami memiliki hubungan? Batinku.
“Bukan, bukan begitu, Erika. Sudahlah, saya cuma berlebihan. Jangan khawatir, saya temani kamu sampai kamar,” ujarku kemudian.
Erika tertawa lebar. Ia nampaknya senang karena menang dan berhasil mengerjaiku.
__ADS_1