Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Empat


__ADS_3

“Saya pikir ini sesuatu yang ganjil. Bukannya saya tidak percaya pada hal-hal supranatural, namun saya rasa ini agak berlebihan,” kataku suatu saat ketika Erika mewawancaraiku di lain acara pada awal-awal fenomena ini terjadi.


“Bisa anda jelaskan dimana letak berlebihannya, Pak Negara?”


Seperti biasa, Erika bukanlah orang yang sabar. Ia tahu cepat lambat akupun pasti akan menjelaskan dengan detil semua opini dan pikiranku. Tapi ia tetap saja segera bertanya, atau bahkan memotong kata-kataku agar aku segera bereaksi.


“Begini Mbak Erika. Kalau kita perhatikan, semua saksi tidak memiliki detil yang sama persis ketika mereka menjelaskan mengenai sosok misterius ini. Memang semua mengatakan bahwa ia memakai hoodie atau tudung di jaketnya. Tapi ini pun nampaknya karena setiap orang yang mengaku sebagai saksi saling terpengaruhi oleh cerita dan berita sebelumnya.”


“Maksud anda?” Erika menyela sekali lagi.


“Ya, anda bisa lihat. Semua saksi mata mengatakan mereka melihat dengan jelas dengan kepala mereka sendiri. Tapi tak satupun foto, video atau barang bukti fisik yang bisa kita dapatkan. Bayangkan berapa banyak dari mereka yang membawa smartphone? Apalagi jaman sekarang dimana gawai pintar rata-rata sudah dilengkapi oleh kamera dan video yang bisa dikatakan cukup canggih.”


“Tapi, bukankah bisa saja mereka tidak sempat berpikir untuk mengambil foto, apalagi merekamnya, melihat situasi yang ada?”


Aku terkekeh pelan. “Ah, itu lebih tidak mungkin. Anda sadar ‘kan masyarakat kita sangat peka dengan hal-hal unik mengejutkan dan fenomenal? Jangankan kejadian semacam ini, kecelakaan lalu lintas pun sempat mereka abadikan, bahkan diupload ke Internet.”


Kami tertawa bersama. Saat seperti inilah yang kerap aku tunggu, dimana Erika tertawa lepas, karena ia sangat memesona.


Aku melanjutkan, “Selain itu, hanya ada satu ciri kuat yang utama dari sosok tersebut, yaitu penggunaan hoodie sebagai bagian dari kostum superhero-nya. Sisanya, tidak ada persamaan antar satu pernyataan saksi dengan saksi lainnya. Kalau tidak salah saya mendengar salah satu saksi mengatakan orang misterius yang sedang menghajar gerombolan geng motor pada tengah malam tersebut memakai sepatu boot dan celana jeans. Ini malah mengingatkan saya pada penyanyi rock,” kataku sembari tertawa kecil. Sayang tidak dengan Erika.

__ADS_1


“Di kesempatan lain, misalnya di ibukota, dari sepuluh saksi yang melaporkan pengamatan mereka, tak satupun yang melihat wajahnya. Beberapa mengaku melihat ia menggunakan sepatu biasa seperti anak sekolah, yang saya asumsikan sebagai sneakers, yang walau tetap menggunakan hoodie, akan tetapi kali ini berwarna merah, tidak seperti yang rata-rata dilaporkan, yaitu hitam atau gelap.”


“Jadi, maksud anda, sosok misterius ini tidak nyata?” tanya Erika mengernyitkan keningnya.


Aku terkekeh. Aku juga sadar Erika sedang menyimpulkan pendapatku yang bisa jadi merupakan antitesis dari apa yang sudah banyak orang percayai di negeri ini mengenai sosok superhero misterius tersebut.


“Well, agak susah untuk langsung menyimpulkan seperti itu. Tapi perlu diketahui, kejadian ini sangat tidak normal, bahkan untuk negara semacam Indonesia ini. Banyak sekali kemungkinan. Yang paling mendasar adalah rekayasa orang mengenai seorang tokoh, ya ... seorang! Bisa jadi ini hanya semacam pertempuran geng, atau tawuran antar kelompok, dimana kelompok yang satu sangat kuat dan brutal sehingga dapat melumpuhkan kelompok yang lain dengan cepat.”


Erika mengerutkan bibirnya, mengangkat alisnya serta sedikit memiringkan kepalanya. Gestur yang sudah sangat kukenal, tanda ia tidak keberatan. Namun begitu, mental jurnalisnya tentu tak berhenti sampai disitu. Kepuasannya hanya terbatas oleh waktu.


“Atau mungkin ini semacam konspirasi dari pihak …, ehm … penguasa?” sebutnya dengan hati-hati.


“Maksud saya, tidak dengan maksud menuduh, apa mungkin seperti gerakan semacam penembak misterius di masa lalu? Namun bukan kepada pembunuhan, tapi pemberian pelajaran bagi orang-orang yang dianggap tidak taat hukum.”


Aku mengangguk-angguk dengan keras.


“Ya, ya, ya ... saya paham maksud anda. Meski saya tidak yakin dengan kemungkinan ini, toh kita tetap perlu memikirkan beragam kemungkinan, bukan?”


“Mengapa anda tidak yakin, Pak Negara?”

__ADS_1


“Wah, pemerintah kita saat ini saya rasa terlalu terbenam pada isu-isu HAM yang sudah sangat mengglobal. Terlalu pikir-pikir dan tidak akan berani coba-coba mengambil resiko memainkan peran keamanan ala masa lalu, apalagi nanggung dengan hanya sebatas memberikan peringatan kepada para pembuat onar dan preman. Lagipula, saya lebih melihat bahwa fenomena ini harus lebih dikaji. Mungkin kita akan simak apa berita-berita masih akan terus menempatkan kejadian-kejadian baru, atau media hanya mengulang-ulang berita yang sama hanya dari perspektif berbeda untuk membentuk opini. Atau apakah media akan terus menyambung-nyambungkan cerita yang satu dengan yang lain dengan harapan cerita mengenai sosok misterius ini akan terus berlanjut.”


Wawancaraku selesai disitu.


Erika menjabat tanganku dengan erat. Percakapan kali ini juga semestinya memberikan kepuasan bagi kami berdua. Bagi wanita itu mungkin dapat memuaskan dahaga jurnalismenya, dan bagiku, kepuasan memandangi dan berinteraksi dengannya.


Bukuku yang sempat kutunda penulisannya akhirnya tersusun sudah. Selesai dengan teori-teori dan pembahasan yang kaya ditambah dengan data-data paling mutakhir yang cukup meyakinkan. Dalam buku itu, aku menyimpulkan bahwa saat ini masyarakat memang sedang membutuhkan sosok pahlawan generasi baru. Bukan pahlawan Nasional yang melawan penjajahan, tetapi seorang pahlawan yang juga harus menggunakan kekerasan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Ini dikarenakan keadaan bangsa dan negara yang telah begitu parah. Buku itu menjabarkan tentang rasa paham dan maklumku akan adanya fenomena ini. tapi, yang dikhawatirkan tentunya adalah bahwasanya masyarakat akan terus berdampingan dengan kekerasan, bahkan memujanya, bila fenomena ini tidak lekas berakhir.


Bukuku laris manis dan rencananya akan dicetak kembali. Sebenarnya bukan karena popularitas dan lakunya bukuku yang membuatku senang. Ini lebih karena ternyata masih banyak masyarakat yang suka membaca. Mereka rela untuk membeli buku dan membawanya pulang. Atau mungkin, mereka yang membeli bukuku adalah kelompok sosial masyarakat lain yang sama concern-nya denganku mengenai fenomena ini, lalu mencari jawaban versi lain? Bisa jadi banya orang yang sama gelisahnya, tetapi enggan bahkan menolak mendapatkan jawaban dari sisi gaib, atau supranatural.


Bila memang begitu, berarti tetap saja fenomena ini besar sekali efeknya.


Namun, tanpa aku sadar, jarak wawancaraku dengan Erika ke wawancara lain yang terpaut kurang dari sebulan saja, sudah banyak laporan-laporan terbaru mengenai si sosok misterius alias si superhero yang terus melaksanakan kegiatannya.


Berita-berita ini membanjiri media dan Internet laksana ombak. Media tidak perlu mengulang berita dan menambahkan detil dimana-mana karena sebentar saja, materi berita telah tersedia.


Kabar mengenai si superhero yang menghajar para preman dan perampok, menolong orang-orang yang dirugikan oleh perusahaan besar dan keamanannya, dan seterusnya dan seterusnya ternyata disertai dengan “bukti-bukti” fisik seperti korban dan kehancuran material. Bangunan dan kendaraan yang dirusak oleh aksi sang superhero berbarengan dengan ucapan para korban sendiri. Meskipun aku tidak terlalu percaya kata-kata mereka. bagaimanapun, mereka adalah para penjahatnya, bukan?


Berita-berita yang berseliweran di media massa serta Internet ini telah menumpuk sedemikian rupa sampai akhirnya sampailah kemunculan sebuah kejadian yang luar biasa.

__ADS_1


Kejadian ini sepertinya menjadi titik didih fenomena yang ada.


__ADS_2