
Ketika siuman, aku melihat seluruh ruangan berwarna putih. Aku sempat linglung, namun semua menjadi melegakan ketika kulihat di ujung bagian ruangan. Di sana, seorang gadis cantik sedang membaca majalah dengan melipatkan kakinya.
“Erika,” aku sendiri sempat kaget mendengar suaraku.
Erika mendongak. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang melihatku. Ia mendekat, menyentuh tanganku dengan lembut dan berkata, “Bapak sudah sadar?”
“Berapa lama aku di sini, Erika?”
“Bapak tertidur seharian, dua puluh empat jam.”
Erika kemudian menunjukkan gestur bahwa ia akan beranjak dari kamar ini. Mungkin memanggil perawat atau dokter karena aku telah sadarkan diri.
Aku menggengam tangannya untuk mencegah.
Erika menatapku dan langsung memahaminya. Ia mengangguk, mengetahui bahwa aku masih menginginkannya berada di kamar ini.
“Tapi dokter tadi memang mengatakan bapak akan baik-baik saja. Memang bapak mengalami banyak memar, tapi tak ada bagian vital yang terganggu. Tulang pun tak ada yang retak. Padahal saya sudah sangat khawatir melihat bapak dianiaya seperti itu.”
Aku menarik nafas. Ternyata tulang rusukku yang kupikir awalnya patah juga baik-baik saja.
“Erika, kamu tidak apa-apa?”
“Selain bersemangat? Ya, saya dalam keadaan utuh Pak Negara,” Erika tersenyum.
Aku mengernyit. “Bersemangat?”
__ADS_1
“Pak Negara, banyak sekali yang ingin saya bahas dan ceritakan kepada bapak. Tapi saat ini keadaan bapak lah yang membuat saya bahagia, yaitu bapak baik-baik saja.”
Pintu ruangan terbuka, dua sosok yang kukenal sebagai Edo dan Hermansyah menghambur ke dalam. Mereka diikuti seorang perawat yang langsung mengecek keadaanku.
“Pak Negara, Anda sudah bangun?” Edo bertanya sambil mimik wajahnya menunjukkan kepedulian yang sangat.
Aku mengangguk.
“Alhamdulilah Pak Negara,” Hermansyah menimpali.
“Kami bertiga benar-benar khawatir sekaligus senang karena bapak sudah bangun,” Hermansyah melanjutkan.
Bertiga mereka tertawa lebar, bahkan Hermansyah pun tertawa. Mereka terlihat lega luar biasa. Mereka tidak tahu bahwa akulah yang sesungguhnya paling lega melihat kondisi Erika saat ini. Kecemasanku hilang sudah. Meski dengan tubuh yang masih lemah dan memar di seluruh tubuh dan wajahku, aku tidak merasa sakit yang berlebihan.
Sungguh sebuah keajaiban.
“Erika sudah menceritakan semua kejadian luar biasa ini kepada kami dan Kepolisian. Sejak kemarin malam polisi sudah berada di TKP. Anda dan Erika mungkin adalah orang pertama yang berkomunikasi dengan Gatotkaca, Pak Negara,” Edo berkata.
Aku mengernyitkan dahi, “Gatotkaca?” aku sedikit linglung. Ternyata tidak semua ingatanku atas kejadian di kompleks parkiran dapat kembali dengan sempurna.
“Ah, udahlah, Do. Ntar aja bahas masalah ini. Yang penting Pak Negara sudah baikan. Itu yang terpenting. Biarin istirahat dulu,” Erika kembali tersenyum.
Linglungku tidak terlalu lama. Sehari setelah aku keluar dari rumah sakit, kesehatanku meningkat dengan cepat.
Erika seperti tak mau menahan lama-lama untuk segera menjelaskan dengan detil kejadian yang kami alami dimana Gatotkaca secara mengejutkan terlibat di dalamnya.
__ADS_1
Kami saat itu berada di restoran Chinese food yang batal kami kunjungi karena peristiwa nahas itu. Ini karena Erika bersikeras untuk tetap mengunjungi restoran tersebut kembali untuk menghormati derita kami, katanya. Mulai kusadari bahwa Erika juga memiliki sifat keras kepala dan teguh dengan pendiriannya. Itulah sebabnya ia tidak segera meninggalkanku pada saat aku menyuruhnya untuk segera memacu mobil saat itu.
“Gatotkaca datang dengan tiba-tiba malam itu Pak Negara. Ia bergerak sangat cepat namun tegas. Yang ia lakukan adalah menubruk kedua orang yang sedang memukuli bapak. Dalam satu kali hempasan satu orang menabrak pilar dan satunya lagi terangkat tinggi sampai menubruk langit-langit parkiran dengan keras. Salah satu dari dua orang yang terfokus pada mobil saya memiliki senjata api. Melihat kedua temannya runtuh dan kesakitan, si laki-laki yang memegang pistol langsung mengarahkan ke Gatotkaca dan menembakannya, bukan di tubuh, tapi di kepala!
“Itu sebabnya saya berpikir saat itu juga bahwa orang-orang suruhan ini bukan preman biasa, tapi pembunuh profesional dan mungkin juga disiapkan dalam beragam kondisi sehingga ia menembak di kepala yang tidak dilindungi. Berbeda dengan bagian tubuh yang dimungkinkan menggunakan rompi anti peluru,” Erika mulai bercerita setelah kami selesai melahap makanan kami.
“Oh, pantaslah saya sempat mendengar suara letusan pistol. Saya benar-benar khawatir tembakan itu diarahkan ke kaca mobil kamu Erika. Bahkan saya tidak lagi menyadari bahwa tendangan bertubi-tubi yang diarahkan kepada saya sudah sama sekali berhenti. Saya hanya memikirkan keselamatan kamu.”
Erika menggenggam tanganku. Pandangannya teduh, “Tidak apa-apa Pak Negara. Bapak tak perlu khawatir lagi, saya baik-baik saja. Saya belum sempat mengucapkan terimakasih karena Bapak mau bersusah payah mencoba menyelamatkan saya, dan saya dengan keras kepalanya tidak mau beranjak pergi. Saya telah membuat Pak Negara khawatir. Namun saya tidak bisa meninggalkan Bapak sendirian.”
Seperti biasa, rasa khawatir yang semenjak kejadian itu masih menggumpal dalam dadaku langsung saja sirna. Luntur oleh tatapan teduh dan genggaman tangan Erika.
“Lanjutkan ceritamu, Erika. Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi saat itu,” pintaku.
“Nah, saya juga melihat dengan jelas bahwa letupan pistol itu membuat Gatotkaca mendongak sedikit. Mungkin karena dorongan peluru yang sangat kuat karena ditembakkan dari jarak yang sangat dekat. Namun, ia sama sekali tidak terluka. Ia kebal Pak Negara! Ia memang Gatotkaca dengan otot kawat dan tulang besi.”
Sepasang mata Erika yang melengkung bagai matahari terbit itu kini membulat.
“Gerakan super cepat Gatotkaca kemudian membuat dua orang itu bernasib sama dengan kedua teman lainnya. Gatotkaca menepis pistol hingga terlepas dari tangan si penembak tadi, kemudian mendorong dadanya. Dorongan yang sewaktu saya lihat hanya seperti sentuhan itu mengakibatkan efek yang luar biasa dan tidak diduga. Preman itu terlempar jauh, bahkan melewati dua atau tiga mobil sekaligus dan terjatuh dengan bunyi yang susah saya gambarkan. Mungkin seperti ranting pepohonan yang patah.
“Sisanya yang satu orang, karena lihat ini mencoba melarikan diri. Namun belum selangkah aja, Gatotkaca berhasil mencengkram jaketnya, membawanya melayang sejenak, terbang ... ya terbang Pak Negara, dan kemudian menghujamkan orang ini ke bumi, ke lantai beton sampai ia tak berkutik,” Erika menarik nafas panjang.
“Seratus kali pun saya ceritakan kejadian ini, seratus kali juga cerita ini tidak akan berubah. Saya melihat dengan detil semua kejadiannya Pak Negara. Selesai menghajar keempat gerombolan preman itu – yang saya perkirakan tidak lebih dari 30 detik saja – Gatotkaca mengangkat Pak Negara ke mobil saya. Ia mengangkat Pak Negara seperti hanya mengangkat selembar kapas. Bapak mungkin masih ingat apa yang ia ucapkan kepada kita?”
__ADS_1
“Ya, Erika. Saya pun masih mengingat dengan jelas perkataannya,” jawabku singkat.