Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtagama Ihwal Tigapuluh Satu


__ADS_3

Gayung bersambut.


Sepuluh hari setelah pertemuan kami dengan Kompol Janaka, stasiun televisi Erika terus menayangkan ‘salam persahabatan’ Kepolisian yang diwakilkan langsung oleh sang Kompol sendiri.


Terhitung Kompol Janaka telah berkali-kali muncul di televisi sambil memberikan informasi kemajuannya dalam usaha pemberantasan skandal kotor oknum Kepolisian. Memang Kompol Janaka sepertinya serius dalam hal ini. Sebagai akibatnya, dalam hatiku pun aku mulai percaya dan mulai memberikan kemungkinan bahwa Kompol Janaka adalah orang yang ‘bersih’.


Selain terus mencoba menyampaikan salam perdamaian dengan sang Tetuka, Kompol Janaka juga berkomunikasi dengan masyarakat. Menjelaskan berkali-kali bahwa sang Tetuka, atau yang dahulu kerap disebut dengan Gatotkaca oleh media dan masyarakat, bukanlah musuh. Namun begitu, bukan berarti semua tindakannya bisa dibenarkan. Negara ini tidak bisa menormalisasi segala tindakan yang berada di luar jalur hukum. Betapapun kacau dan bobrok penegakan hukum di negeri ini, sikap mendukung kekerasan malah menjadi perilaku kontrapoduktif dan malah menjerumuskan proses-proses penegakan hukum ke dalam jurang yang jauh lebih dalam.


Mungkin ini menjadi masuk akal, karena tidak ada yang tahu dengan jelas siapa, bagaimana, darimana asalnya atau apa maunya tokoh misterius dengan kekuatan luar biasa itu sebenarnya. Dengan kondisi yang penuh dnegan pertanyaan dan kebingungan semacam ini, Kepolisian meminta masyarakat juga paham dan mau mengerti bahwa institusi tersebut harus melakukan beragam langkah sebagai pencegahan terhadap kejadian buruk yang mungkin mengintai. Masyarakat diminta memercayai Kepolisian sebagai institusi yang mencoba untuk melakukan tugasnya melindungi dan mengayomi masyarakat.


Di kesempatan yang sama, snag Tetuka juga dibujuk untuk mau berkomunikasi dengan Kepolisian. Karena, sekali lagi, Kompol Janaka menegaskan bahwa mereka berada di pihak yang sama dalam masalah penegakan hukum.


Tentu saja dalam hal ini aku juga terlibat di dalamnya.


Di sisi lain, terjadi juga perubahan yang cukup signifikan dalam setiap sesi wawancaraku dengan Erika. Bila sebelum-sebelumnya Erika selalu mendukungku dan berbicara dengan lembut dan sabar, tetapi ketika mewawancaraiku mengenai sang Tetuka akhir-akhir ini ia terus menyudutkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. Ia kerap memotong penjelasanku, bahkan beberapa kali menyangkal argumentasiku dengan menggunakan dalil-dalil yang bertentangan berasal dari argumentasi-argumentasiku di beragam wawancara sebelumnya.


Misalnya saja Erika seakan menuduhku berpihak kepada kekuasaan dan aparat secara khusus. Ini karena sang Tetuka sudah dianggap menjadi bagian dari masyarakat dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat itu sendiri. Dulu aku sendiri yang menjelaskan bahwa masyarakat sudah muak dengan perilaku kaum penguasa yang menindas masyarakat dan selalu melakukan pelanggaran-pelanggaran serta semena-mena terhadap masyarakat. Aku sendiri yang mengatakan bahwa sang Tetuka secara fisik dan simbolis mewakili keresahan masyarakat itu sendiri.


Sedangkan saat ini, aku seperti mau saja percaya pada Kompol Janaka dan menjadi tangan Kepolisian. Ini berarti aku berada di pihak yang berseberangan.


Untuk setiap wawancara tersebut, aku selalu hanya bisa mengatakan bahwa anggapanku dari semula mengenai sang Tetuka masih tetap tertanam dalam hatiku dan aku masih berpendapat yang sama. Sang Tetuka adalah representasi dari geliat keresahan masyarakat, dan bagaimanapun sosok itu benar-benar bisa dimengerti dan dipahami.


Hanya saja kadang kita harus memperhatikan beragam hal lain dan tidak sekedar membela semua tindakan sang Tetuka, apalagi secara membabi buta dan sporadis. Ada nilai-nilai yang harus dihormati. Misalnya, kedaulatan hukum, kedaulatan negara, keamanan masyarakat itu sendiri dan tentunya faktor utama lain yang luput dari pemikiran kita, misteri.

__ADS_1


Bahwasanya kita tidak tahu siapa sebenarnya Gatotkaca sang Tetuka itu sendiri. Jangan sampai kita tertipu dengan harapan kita sendiri yang telah membumbung ke angkasa. Khawatirnya nantinya masyarakat harus dipersiapkan dengan paksa untuk menerima kejatuhan dan kekecewaan yang luar biasa bila ternyata sang adiwira tidak seperti yang dikira atau diharapkan.


Walau tidak jarang perseteruan kami di layar televisi ini mempengaruhi kehidupan pribadi dan hubungan kami, Erika masih menjadi kekasihku. Aku kerap gemas dengan dirinya yang ketika sudah berubah mood, lalu melupakan profesionalitasannya sebagai seorang jurnalis. Namun, bagaimana bisa aku menyalahkannya? Ia terlalu menarik, terlalu cantik, terlalu memesona. Paling-paling aku mengalah dan kembali meminta maaf. Untuk apa berseteru dan berargumentasi dengan orang yang kau cintai, bukan?


Erika sendiri, meski memerlukan waktu yang cukup lama, tetap juga sadar bahwa aku ada benarnya. Buktinya, sang Tetuka akhirnya datang mengunjungi kami.


Suatu malam seperti biasa aku mengantarkan Erika ke apartemennya. Sesampai di pintu kamarnya, aku agak ragu untuk menawarkan menemaninya untuk sebentar saja berbincang-bincang, menonton acara televisi atau menonton film, atau sekadar duduk-duduk di balkon sembari menyesap kopi seperti yang biasa kami lakukan. Ini karena kulihat matanya begitu sayu, dan wajahnya lumyan murung. Mungkin karena lelah bekerja seharian, atau masih kesal denganku karena beberapa kali tidak sependapat, khususnya dalam isu-isu dan hal-hal yang menyangkut sang Tetuka. Padahal toh, sejak mulai memiliki hubungan khusus ini kami kerapkali memiliki pandangan yang tidak selalu sama. Tidak seperti sebelumnya, Erika selalu saja mengangguk-angguk menunjukkan bahwa ia selalu berdiri dimana aku berdiri dalam setiap sesi wawancara kami. Setelah menjadi kekasihnya, Erika mulai berani menunjukkan pendapat-pendapatnya secara pribadi. Namun, itu sama sekali tidak mengganggu hubungan, malah sebaliknya, malah memperkuatnya.


Akhirnya, aku berinisiatif untuk berpamitan saja. Kecuali Erika yang mencegahku.


Namun, saat itulah Erika tersentak.


Ada bunyi semacam ketukan di jendela kamarnya.


“Tetuka!” serunya


Aku bingung, “Tetuka? Maksud kamu apa Erika?”


“Tetuka datang!” ia memandang ke arahku dengan semangat yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi kemudian menimpali dengan semangat yang tiba-tiba terangkat.


“Negara, kamu tidak mendengarnya? Sang Tetuka ada di sini!”


Erika kemudian berbalik memunggungiku, langsung masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Aku otomatis mengekor ikut masuk ke dalam kamarnya, masih bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Erika langsung menghambur ke jendela, menarik tirai modernnya dan menggeser jendela kaca besarnya.


Maka tahulah aku apa yang dimaksud Erika.


Di luar jendela terlihat sesosok tegap mengambang di udara. Rambut panjang tanggungnya berkibar, kedua tangannya ia silangkan di dada.


Darimana Erika tahu kalau sang Tetuka berada di balik jendela kamarnya?


“Boleh saya masuk, Erika?” suara bariton sosok itu menggema sampai ke dalam kamar.


“I ... iya, tentu saja. Silahkan masuk, Tetuka,” dengan terbata, namun tanpa bisa menghilangkan ketakjubannya, Erika menjawab. Ia kemudian mundur agar sosok adiwira itu dapat masuk ke dalam kamarnya.


Dengan anggun, sang Tetuka pun masuk sembari masih melayang di udara dan kemudian turun, menempelkan kakinya di lantai kamar perlahan, sama anggunnya, walau tak bisa kupungkiri kegagahan pada auranya.


Setelah sang Tetuka masuk, Erika segera menggeser jendela kaca tersebut untuk menutupnya.


“Pak Negara, selamat malam,” matanya yang tajam menatapku sembari mengucap salam.


“Selamat malam, Tetuka.”


Aku menjadi kikuk. Walau sebelumnya pernah bertemu dengannya di tempat yang sama, bagaimanapun Tetuka bukanlah sosok karakter yang biasa. Lagipula pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa, sama sekali dalam kondisi yang berbeda dengan pertemuan-pertemuan kami sebelumnya.


Apakah kami harus bersalaman?

__ADS_1


__ADS_2