
Adegan yang terekam dalam kamera Hermansyah itu terus diputar berulang-ulang tiap menitnya bahkan tiap detiknya di seluruh stasiun televisi. Scene itu ditayangkan di sekilas berita atau newsflash, berita nasional, infotainment dan tentunya Internet.
Video berdurasi tidak kurang dari 3 menit itu berhasil direkam oleh Hermansyah, seorang cameraman yang selalu menyertai reporter bernama Edo ke lapangan pemberitaan mereka.
Mungkin mereka berdua adalah jurnalis paling beruntung di dunia saat ini.
Dari sekian banyak orang baik pekerja profesional sebagai jurnalis maupun masyarakat awam yang ingin mengabadikan kemunculan sang superhero, mereka berdualah yang secara jelas berhasil merekam kemunculannya.
Ini menjadikan video mereka ini yang pertama dan saat ini satu-satunya bukti fisik atas keberadaan tokoh misterius ini.
Kejadian luar biasa itu terekam hanya beberapa hari setelah wawancara terakhirku dengan stasiun televisi dimana Erika menjadi host-nya. Setelah wawancaraku yang heboh tersebut, Kepolisian tidak sungkan-sungkan ‘mengundangku’ ke kantor mereka. Dengan alasan ingin meminta klarifikasi atas tindakanku tersebut, mereka memberikan peringatan atau mungkin lebih kepada ancaman, agar aku lebih bisa mengontrol diri.
Sebagai seorang tokoh, pendidik dan pengajar, aku harusnya lebih bisa berpikir jernih dan rasional tanpa harus melibatkan masyarakat hanya karena pola pikir dan emosi pribadi saja. Ini dikhawatirkan dapat menggoncang pola pikir masyarakat dan kegiatan lain yang lebih masif. Tentu saja terutama dalam hubungannya dengan pendapat publik terhadap Kepolisian yang dianggap menutup-nutupi fakta ini.
__ADS_1
Namun tanpa disangka dan dinyana, inilah yang terjadi kemudian.
Aku berpikir mungkin memang Tuhan campur tangan secara langsung dalam peristiwa ini.
Bagaimana tidak, terjadi sebuah perampokan besar di siang bolong di sebuah bank swasta di Jakarta. Kejadian yang sepertinya konyol dan hanya ada di film-film Hollywood ini memang nyatanya terjadi.
Satu paket dengan gaya film barat, para perampok tidak bisa keluar dari bank, karena salah satu pegawai bank berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian ini pada seorang petugas Kepolisian.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, rombongan petugas Kepolisian dengan mobil dan motor sudah mengepung bank tersebut. Begitu pula dengan romongan pers yang jelas tidak mau kalah dengan berita panas yang seperti durian runtuh bagi para kuli tinta ini.
“Gue bilang sama Hermasyah kalo kita gak bisa gini. Terlalu crowded. Gue mikir untuk ambil gambar yang lebih significant. Gue mikir Kayaknya kita bisa masuk ke toko kain pas di sebelah bank. Gue pernah beberapa kali ke toko kain itu trus numpang buang air kecil di toiletnya. Kalo gak salah, di bagian belakang toko itu langsung nyambung ke bagian belakang banknya. Bener aja, ada ruang sempit dari WC ke bagian belakang bank. Setahu gue, pegawai suka pakai gang kecil di bagian belakang bank buat ngrokok pas break kantor. Pas kencing gue sering perhatiin mereka dari WC,” Edo menjelaskan kepadaku dan Erika mengenai cerita bagaimana ia dan Hermansyah berhasil mengambil gambar sensasional itu.
Ia bercerita secara khusus kepada kami berdua, seakan kami adalah dua orang beruntung pertama yang mendengar langsung kisah tersebut dari sang saksi.
__ADS_1
“Nah, pegawai toko kain terang aja marah-marah pas gue paksa buka pintu belakang deket WC buat meliput. Bodo amat, gue yakin ma insting jurnalis gue. Noh, tanya aja Hermansyah, cameraman pendekar kita,” Edo melanjutkan ceritanya sembari menepuk-nepuk bahu Hermansyah. Yang bahunya ditepuk cuma cengengesan.
“Pas pegawai toko kain mengancam melaporkan ke bosnya dan polisi, pas itu juga kita berhasil keluar ke gang kecil di belakang bank. Benar-benar pas kita berhasil keluar dan record gambar, pintu belakang bank didobrak. Jadi benar-benar pas. Meski cuma tiga menit, rasanya lama banget. Kita bener-bener bisa lihat detil. Sama persis dengan yang terekam di kamera Hermansyah. Pas si bos dan beberapa aparat polisi datang ngusir kami karena dianggap mengganggu jalannya tugas polisi – tentu saja plus bikin kacau toko kain – kami sudah dapat tu video,” Edo tertawa lebar.
Memang, di dalam video terlihat jelas beserta audio yang sempurna bahwa pintu bagian belakang sebuah bangunan terdobrak dengan bunyi yang keras beserta berhamburan lima orang yang sepertinya terlempar ke luar. Bagian belakang bangunan tersebut terhalang oleh pagar kawat yang tinggi, namun di sela-sela pagar kawat tersebut, dapat terlihat dengan jelas dimana terlihat seorang pemuda berdiri tegap menyusul keluar setelah kelima orang sebelumnya terlempar keluar – lebih tepatnya ‘dilempar’ keluar.
Selanjutnya, gambaran inilah yang mencengangkan semua orang yang melihatnya, bahkan setelah berkali-kali diulang. Dengan tangan kosong pemuda tersebut menghajar kelima orang yang diduga keras sebagai para gerombolan perampok dengan penutup wajah.
Beberapa orang berdiri dan menyerang si pemuda tersebut dengan tinju mereka, namun dengan kecepatan yang tidak bisa digambarkan, apalagi berasal dari tubuh seorang pemuda, sosok itu berkelit kemudian membalas memukul ke bagian-bagian tubuh para perampok. Para perampok kocar kacir, dalam artian harfiah. Salah satu perampok terkena tinju si pemuda dan terlempar menabrak pagar besi dan menghadap ke kamera, membuat Hermansyah dan Edo mengutuk karena terkejut dan kamera bergetar, walau Hermansyah terus merekamnya.
Adegan-adegan berikutnya benar-benar di luar nalar manusia. Sang pemuda melempar, membanting, memukul para perampok dengan sangat cepat dan mudahnya sampai para perampok tersebut terkapar pingsan dan tak berdaya. Scene paling sensasional, fenomenal dan menurut Edo significant, adalah ketika si pemuda yang berdiri gagah melihat kami di sela-sela pagar kawat, dan melihat ke arah kamera selama beberapa detik dan terdengar gumaman Edo dan Hermansyah yang bercampur antara ngeri dan excited sebagai latar belakang.
__ADS_1
Kemudian sosok itu melompat, atau katakanlah terbang, dengan sangat tinggi dan cepat – walau kamera masih sempat menangkap gerakan lompatannya sampai sosok tersebut menghilang – dengan meninggalkan bunyi desiran angin yang kencang seperti pesawat jet baru saja lepas landas.
Gambaran fisik sang pemuda yang olehku dan media disebut sebagai superhero itu ternyata sama sekali mirip dengan penggambaranku, para jurnalis, dan semua orang yang mengaku sebagai saksi mata keberadaannya. Saat itu sang superhero mengenakan sebuah jaket hitam tanpa kancing dengan hoodie yang seakan menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru yang sudah memudar warnanya dan sepasang sepatu boot. Usianya ditaksir dua puluhan, namun wajah dan mimiknya yang keras membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Rambut panjang tanggung, kumis dan jenggot tipis, serta sorot matanya yang menatap dalam ke kamera memberikan kesan tegas, perkasa, namun bercampur dengan kesan misterius yang tinggi. Selain semua penggambaran itu, aku pikir semua orang sepakat bahwa ia tampan.