
Polisi menjadikan Erika dan aku sebagai saksi kejadian ini. Bukan kenapa-napa, keempat kawanan preman ini didapati terikat dengan posisi duduk oleh sebuah kawat baja di depan restoran Chinese food dimana kami sedang makan saat itu. Menurut informasi yang didapatkan oleh anggota Kepolsiian, mereka mengaku dibayar untuk mengancamku karena dianggap menghasut publik dengan opini-opiniku.
Dan tak heran lagi, Balai Sigalagala lah yang menyuruh mereka.
Kesaksianku adalah bahwa aku mendengar salah satu preman itu mengucapkan pesan dari Balai Sigalagala menjadi catatan penting.
Sebuah ancaman.
Pers pun jelas sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Penuturan langsung dari mulutku dan Erika mengenai kejadian itu serta Erika yang lebih menceritakan mendetail mengenai kemunculan Gatotkaca telah menjadikan media tanpa waktu senggang untuk terus mendapatkan berita-berita panas seputar Gatotkaca.
Balai Sigalagala menolak mengakuinya dan mengatakan bahwa ini adalah fitnah oleh orang yang benci kepadanya. Polisi pun belum menetapkannya sebagai tersangka otak penyerangan terhadap seorang sosiolog dan seorang presenter wanita.
Namun aku sangat yakin, Balai Sigalagala pasti sedang ketakutan karena sangat mungkin Gatotkaca sendiri yang akan mengunjunginya. Toh, sosok itu sudah terbukti berhasil mengalahkan orang-orang suruhannya untuk mengintimidasiku dengan mudah. Mendatangi langsung Balai Sigalagala, kemungkinan besar bukanlah sebuah masalah.
“Erika, saya sudah mendengar ceritamu berkali-kali, termasuk yang kamu ceritakan kepada pers. Namun saya masih heran, mengapa ia menolong kita dan bagaimana caranya ia bisa mengendus semua ini?”
“Pak Negara, mulai sekarang berhentilah merendah dan berpikiran sederhana. Anda adalah tokoh penting di negara ini. Anda tidak sadar bahwa Anda lah yang menggerakkan pikiran publik mengenai Gatotkaca. Bahkan seperti yang Gatotkaca sendiri katakan, Anda mendukungnya, memercayai tindakannya sebagai sebuah hal yang berjalan lurus dengan keadilan. Anda adalah orang yang penting dan significant, meminjam kata Edo. Gatotkaca nampaknya memang bukan orang biasa. Ia cerdas. Memperhatikan segala sesuatu. Ia benar-benar menguasai lapangan. Jiwa-jiwa apa saja yang kotor dan ia sudah dapat meramalkan tindakan mereka. Kita harus mendukungnya dengan penuh Pak Negara.”
__ADS_1
Erika tanpa putus melanjutkan, “Dia akan benar-benar menjadi idola baru. Seorang pahlawan muda yang gagah, berani, dan menurut saya memang sangat tampan. Jangan lupa suara baritonnya yang berwibawa di hadapan para gadis namun menakutkan bagi para begundal. Mudah bagi publik untuk mencintainya.”
Selesai Erika menuntaskan kalimat-kalimatnya ada rasa aneh di rongga dadaku, sedikit perih. Tanpa sadar aku menjawab dan mencoba memaksakan senyum, “Wah, ternyata kamu menjadi penggemar pertama Gatotkaca tampaknya, Erika.”
Rasanya aku mengucapkannya biasa saja, tetapi Erika berhasil menangkap makna lain di balik ucapanku itu. Ia tersenyum dengan manis dan aku mendadak kembali lega karena sesungguhnya aku sedang cemburu, dan Erika tahu itu.
...----------------...
Balai Sigalagala terhempas ke dinding. Keempat bodyguard alias tukang pukulnya telah lebih dahulu kocar-kacir. Keempat tukang pukul tersebut sebelumnya dikenal terlatih bertahun-tahun sebagai preman pasar bayaran yang menawarkan jasa pada orang-orang dengan penawaran tertinggi. Mereka terlibat dalam beragam kasus kriminal dari sekedar ancaman, sampai penganiayaan dan pembunuhan.
Orang-orang itu telah menjadi suruhan bos-bos besar, politisi bahkan aparat untuk melaksanakan aktifitas kotor mereka. Bahkan saat ini keempat orang tersebut sedang menjadi buronan. Apa mau dikata, mereka dihajar habis oleh sang Gatotkaca bersama Balai Sigalagala yang harusnya akan kebingungan mencari alasan apa hubungannya dengan empat begundal itu.
Dalam tayangan CCTV terlihat pintu didobrak dengan keras. Sesosok pria menyeruak masuk dengan kecepatan luar biasa. Menghajar keempat begundal yang hampir bisa dikatakan tidak siap dengan serangan ini. Tak lama Balai pun melayang menghempas dinding walau badan tambunnya pastilah sangat berat.
Seperti biasa, pers lebih dahulu mengetahui kejadian ini. Jelas sudah kebusukan Balai terkuak dengan gamblang.
Penyerangan Gatotkaca mungkin secara hukum tidak dibenarkan. Namun, isu yang mengemuka lebih kencang selanjutnya adalah, mengapa keempat begundal bersamanya saat itu? Apa hubungan mereka? Bukankah keempat kriminal itu sedang menjadi buronan? Andaikata Balai menyangkal hubungannya dengan keempat kriminal tersebut, toh rekaman CCTV sudah menjadi bukti bahwa mereka berkumpul dengan akrab. Bahkan video tersebut telah mampir di Youtube dan berseliweran di semua saluran televisi. Gatotkaca kembali menyita perhatian semua orang.
__ADS_1
Wajah Balai Sigalagala menyeringai di hadapan puluhan kamera pers yang berfokus padanya. Tidak kurang dari dua puluh pengacara ada di sekelilingnya bercampur dengan petugas Kepolisian. Walau tangannya diborgol, badan tambunnya tetap tegap dengan angkuh. Wajahnya yang sinis tak bisa ditutupi lebam yang belum hilang sewaktu menghajar dinding kantornya.
“Apa hubungan Anda dengan para buronan, pak Balai?”
“Bagaimana perasaan Anda sekarang?”
“Mengapa Gatotkaca menyerang Anda, Pak?
Puluhan pertanyaan berhamburan dari mulut para jurnalis. Petugas Kepolisian bersama rombongan pengacara membuat benteng manusia agar mic para wartawan tidak menggasak wajah Balai Sigalagala. Walau berusaha menembus para pemburu berita, Balai masih sempat mengucapkan kalimat-kalimat panjang yang dengan jelas terekam oleh media.
“Saya tidak bersalah! Sudah jelas ini akan-akalan si Negara. Ia sengaja mengirim tukang pukulnya untuk menghajar saya. Kita sekarang sama-sama tahu bahwa ternyata orang yang kalian sebuat Gatotkaca itu sebenarnya tak ubah hanya seorang preman yang kebetulan punya kekuatan fisik yang luar biasa. Mau dikemanakan negara kita bila orang bisa seenaknya main hakim sendiri? Saya tidak peduli bila Gatotkaca itu dewa sekalipun. Saya akan tuntut Negara dan menyeret sekaligus premannya ke penjara.”
Nampaknya Balai Sigalagala terlalu percaya diri. Ia masih selamat bukan karena Gatotkaca tidak mampu melukainya. Ini hanya sebuah peringatan bagi seorang politisi busuk. Namun bagaimanapun, seorang politisi juga memiliki kekuatan. Kekuasaan yang Balai miliki dapat mempengaruhi dewan dan akhirnya juga dapat mempengaruhi pemerintah dan kabinetnya. Secara psikologis pemerintah merasa perlu serius menangani hal ini. Ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa beredar di Istana Kepresidenan. Aparat semakin disiagakan.
Tak berapa lama pintu rumahku diketuk pada suatu malam. Sepasukan anggota Kepolisian khusus menjemputku dengan alasan untuk meminta keterangan. Walau telah beberapa kali menjelaskan kejadian yang aku alami, kali ini aku tak bisa menghindar dari masalah, karena aku sendiri dianggap sebuah masalah.
Luka-lukaku telah mengering. Hanya saja yang kukhawatirkan sekarang adalah tindakan Gatotkaca. Aku paham resikoku sekarang. Para elit positif sudah membenciku. Bahkan aparat pun menurunkan pasukan khusus mereka hanya untuk menjemputku untuk kembali menanyakan hal yang terjadi. Mereka mencoba melihat kesinambungan antara kejadian pengeroyokanku dan serangan Gatotokaca terhadap Balai. Kadang aku merasa, betapa berpengaruhnya Balai sampai-sampai Kepolisianpun termakan ucapannya. Aku khawatir Gatotkaca akan datang untuk membantuku. Entah dia akan menyeruak masuk ke markas Kepolisian, menghajar para aparat, atau malah kembali menghajar Balai. Bila ini terjadi, sudah barang tentu penjelasan Balai menjadi masuk akal. Gatotkaca akan dianggap sebagai pencari keonaran. Entah siapapun dia, Gatotkaca ternyata hanya antek seorang Negara yang bertindak kasar kepada siapapun yang dianggap pantas untuk diberi pelajaran.
__ADS_1
Untungnya Gatotkaca tidak datang malam itu.