Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Duapuluh Delapan


__ADS_3

Tidak ada waktu untuk meragukan sepak terjang Tetuka.


Satu video memperlihatkan Sang Tetuka dengan hoodie khasnya, celana panjang berbahan jins berwarna biru, serta sepasang sepatu boot berdiri tegak di depan sekumpulan orang dengan beragam senjata tajam. Orang-orang tersebut adalah para pendemo yang melakukan kekerasan. Mereka adalah kelompok yang menentang pembangunan sebuah sekolah. Diduga mereka adalah masa bayaran dari seorang pengusaha kaya yang menginginkan area lahan tersebut untuk dibangun pusat industrinya. Suasana demonstrasi kemudian menjadi mencekam karena para pendemo membawa alat-alat tajam seperti parang dan celurit.


Adegan berikutnya tidak diperlihatkan, mungkin karena terlalu eksplisit.


Maka, aku meraih lengan Erika dan mengajaknya untuk meninggalkan tempat makan tersebut. Kami perlu untuk melihat video dengan lebih jelas. Pasti video ini telah tersebar secara luas di internet.


Benar saja, di apartemen Erika, kami berdua langsung mendapatkan video penuh dari sumber aslinya setelah membutuhkan sedikit saja waktu mengulik-ulik internet dan meminta informasi dari Edo serta Hermansyah.


Di kelanjutan video itu, terlihat aparat Kepolisian segera datang ke lokasi. Namun sebelum aparat Kepolisian sampai di tempat perkara, massa mulai mengganas. Kamera dari layar gawai pintar itu terbilang cukup stabil dalam merekam adegan demi adegan yang terjadi.


Beberapa warga yang pro pembangunan sekolah bahkan terancam nyawanya karena ditendang, dipukul dan diancam dengan senjata tajam yang dibawa oleh para pendemo.


Saat itulah terlihat semacam kilatan di angkasa yang kemudian jatuh ke tanah dengan dentuman keras tepat di antara massa pendemo dan alat-alat berat serta warga masyarakat yang berkumpul di sana.


Massa terhenyak, tetapi sebentar saja, karena teriakan-teriakan provokatif muncul saling bersahutan. Massa yang berjumlah sekitar dua puluhan itu menyerang sosok Tetuka. Parang dan celurit disabetkan dan dipukulkan ke arah figur yang mendadak datang tersebut. Mereka jelas melihat bahwa sang Tetuka adalah sosok ancaman.


Berikutnya adalah adegan yang luar biasa spektakuler, dimana satu persatu anggota massa yang menyerangnya dilumpuhkan oleh sang Tetuka. Ia menangkap lengan para penyerangnya, menarik dan melemparkannya ke para penyerang lain. Dua orang membacok Tetuka, tetapi terlempar dengan dorongan tangan Tetuka. Senjata-senjata tajam para penyerang terlempar dan menancap di tanah.


Dalam waktu sekejap para pengeroyok tersebut berjatuhan ke tanah ketika Tetuka terbang sambil membawa beberapa orang dengannya kemudian melepaskan di udara, cukup untuk membuat mereka terluka. Gerakan ini seperti salah satu dari trademark atau signature dalam banyak aksinya. Salah satunya mengingatkanku pada saat Tetuka membubarkan tawuran beberapa waktu yang lalu.


Di televisi sendiri kemudian dilaporkan beberapa orang yang terluka karena tungkai kaki dan tangan retak.

__ADS_1


Namun, yang paling memiliki kesan besar adalah video kedua malah menunjukkan aksi yang lebih besar karena berasal dari kamera pers dengan kualitas gambar yang sempurna.


Video ini tak lama menyusul setelah berita pertama. Hermansyah yang segera mengirimkan file video itu ke emailku. Berita ini juga sedang akan rilis dalam hitungan menit. Jadi bisa dikatakan bahwa video yang satu ini benar-benar fresh from the oven.


Di video pers tersebut diberitakan bahwa satu regu pasukan khusus anti narkoba sedang melakukan penggerebekan ke markas sekelompok pengedar narkotika.


Para pengedar yang berjumlah lima orang ini adalah warga negara asing, Rwanda. Mereka menggunakan sebuah rumah kontrakan di sebuah pemukiman yang sangat padat penduduknya. Keberadaan mereka sebenarnya cukup menonjol, selain dikarenakan fisik mereka sebagai orang Afrika yang membedakannya dengan masyarakat sekitar, mereka juga hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Prancis.


Puluhan kilogram kanabis atau dikenal dengan ganja, sedang mereka bungkus untuk segera diedarkan. Menurut informasi yang didapatkan Hermansyah, sebenarnya mereka memang tidak berniat untuk berlama-lama di negara ini. Mereka sedang dalam rencana untuk segera terbang ke negara lain.


Sayangnya, kegiatan mereka keburu tercium oleh Kepolisian.


Kepungan polisi ternyata tidak dapat dengan mudah menangkap para pengedar ini, karena mereka mempersenjatai diri mereka lengkap dengan senjata api.


Ini adalah situasi yang cukup menegangkan karena Kepolisian harus turut melindungi warga yang tinggal di sekitar tempat tinggal para pengedar tersebut.


Ini adalah sebuah berita besar jilid kedua, pikirku. Erika menatapku menyetujuinya.


Evakuasi segera dijalankan. Warga harus mengungsi menjauh dari TKP untuk menghindari tembakan yang nyasar. Sedangkan pers harus menjauh pula dari lokasi.


Namun, ada satu kamera video pers yang berhasil mendapatkan posisi yang pas, yaitu di sebuah bukit kecil dari TKP, diantara perumahan padat yang warganya telah dievakuasi, dan satu-satunya video yang merekam kejadian ini.


Dijelaskan kembali oleh Hermansyah bahwa pengepungan ini terjadi selama hampir dua jam lamanya. Itu sudah termasuk baku tembak para pengedar narkoba dengan Kepolisian. Sampai saat itu belum terlihat bahwa gembong-gembong narkoba itu akan menyerah.

__ADS_1


Seperti kemunculan-kemunculan sebelumnya, sang Tetuka kali ini pun muncul seperti kilat dari langit yang kemudian melesat masuk menembus atap genteng rumah yang dikepung itu dengan bunyi berdebum. Kamera bahkan dapat merekam kejadian itu dengan sangat baik.


Dalam beberapa detik saja, sang Tetuka terlihat keluar lagi melesat terbang dengan membawa serta dua orang berkulit gelap dan turun beberapa meter saja dari posisi cameraman. Tentu ini tidak saja membuat sang cameraman mengutuk karena terkejut, aku dan Erika pun tak kalah tersentaknya, seperti menonton sebuah film aksi atau thriller.


Syukurnya, sang cameraman tidak beranjak dari lokasinya, malah terus merekam dan memfokuskan pada gambar sang Tetuka.


Sebelum kedua orang tersebut dijatuhkan ke tanah, mereka berteriak-teriak seperti orang gila dalam bahasa Inggris dengan aksen khas bercampur dengan bahasa Prancis karena ketakutan, “Let me go! Laissez-moi passer! Laisser-moi passer!” lepaskan aku, lepaskan aku!


Badan keduanya berdentum di tanah dan langsung tak sadarkan diri. Tetuka sadar bahwa kamera sedang merekamnya dan ia sendiri sempat menatap ke kamera dengan pandangan tajamnya. Sang Tetuka melompat lagi ke rumah lokasi penggrebekan di bawah bukit yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi kamera dan dimana ia menjatuhkan dua orang Rwanda tersebut. Ia terlihat kembali menembus atap bangunan tersebut dan menghilang, tidak terlihat lagi.


Aku menghela nafas, hampir seragam dengan Erika.


Kami mencoba meraba-raba kesadaran.


“Kamu sadar kita hidup di dunia yang seperti apa sekarang ini, Erika? Dunia dimana cerita dan legenda yang sedari dulu dianggap kisah-kisah isapan jempol belaka dan merupakan simbol-simbol yang memerlukan interpretasi semiotis atau sastra, ternyata hadir di depan kita. Tepat di depan hidung kita,” ujarku.


Erika tersenyum begitu lebar. Kedua pipinya menelan sepasang matanya sehingga hampir-hampir tak terlihat.


“Dan Bapak sadar, bahwa kita baru saja jadian, secara resmi?”


Hatiku mencelos. Erika sungguh menyebalkan. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini ia mengganggu dengan kalimat yang membuatku kaget dan tersipu seperti itu.


Wajah wanita itu nakal luar biasa. Ia tertawa, membuat jantungku berdebar semakin kencang.

__ADS_1


__ADS_2