
Aku sedang makan malam dengan Erika. Namun, tempat dimana kami berdua menikmati makan malam ini bukanlah sebuah restoran fancy dan bergaya mewah ala candle light dinner. Makan malam ini hanyalah makan malam berdua biasa, tetapi tetap merupakan yang paling istimewa. Erika toh menolak untuk pergi makan malam ke tempat khusus yang mahal tersebut. tidak ada acara khusus, katanya.
Kami berdua duduk dengan beratap cembung langit dengan bintang-gemintang yang berkelap-kelip bagai lampu taman.
Tempat makan ini hanya memiliki sedikit bagian yang merupakan bangunan, sisanya meja dan dan kursi disusun di alam terbuka. Kami beruntung, cuaca sedang cerah malam ini sehingga tidak ada air hujan yang turun dan mengganggu makan kami.
Pemilik rumah makan yang menunya makanan lokal ini, sengaja memasang lampu-lampu mengitari pohon yang ada di halaman. Ia dapat pula memanfaatkan kolam kecil yang berhasil memantulkan cahaya sehingga indah di mata.
Tanpa perlu susah payah, suasana ini tetap membuatnya romantis.
Aku menghela nafas, kembali mencium aroma harum nan menenangkan Erika. Aku sungguh-sungguh menikmati kebersamaan dengan wanita, bahkan sekarang aku masih menikmati pemandangan rupa wajahnya yang cantik, kulitnya yang terang seputih pualam dan secerah matahari pagi.
“Erika. Hmm … boleh saya bicara jujur dengan kamu?” ujarku takut-takut.
Aku pikir, setelah beragam kejadian yang telah kami lewati, sudah saatnya aku mengutarakan perasaanku kepada Erika. Aku tidak kuat menanggung terlalu lama perasaan ini sendirian. Pengalaman hidup dan mati sudah kami lalui bersama. Aku tak peduli lagi apakah Erika akan menerima pernyataanku, atau akan ada perubahan yang terjadi di dalam hubungan kami. Namun, sudah seharusnya ia tahu dengan apa yang kurasakan selama ini.
“Memangnya, apa yang Bapak mau bilang? Kenapa harus minta izin, sih, Pak?” ujar Erika sembari mereguk es lemon tea-nya.
“Eh, bagaimana memulainya ya? Saya tidak punya pengalaman yang cukup soal seperti ini. Tapi, setelah lama kita kenal, dan sudah banyak yang kita hadapi serta lalui, sudah saatnya kamu tahu apa yang saya rasakan terhadap kamu, Erika,” kataku.
Erika diam. Ia menatap tepat ke arah bola mataku. Sepasang matanya sungguh indah, tetapi raut wajahnya tak terbaca. Aku kembali takut-takut melanjutkan ucapanku.
__ADS_1
“Soal hubungan kita, Erika. Aku suka dengan ….”
Erika menutup mulutnya, menahan tawa. Sepasang matanya berbinar ceria sekaligus nakal.
Kalimatku terputus, dan aku sendiri langsung bingung dibuatnya.
Erika melepaskan telapak tangannya yang dikatupkan ke mulutnya. Ia tersenyum lebar dan sedikit terkikik.
“Ya ampun, Pak Negara. Kok harus seperti ini, sih?” ujarnya.
Aku mengernyit. Mendadak aku merasa diejek dan ditertawakan. Aku menunduk.
“Lho, Pak Negara, kok seperti anak remaja saja, sih. Jangan ngambek seperti itu. Aku minta maaf.”
“Harusnya aku yang heran, Pak Negara. Jadi, selama ini Bapak tidak meganggap bahwa kita memiliki hubungan yang istimewa? Jadi Bapak harus …, harus menembak aku dahulu agar hubungan kita ini bisa dikatakan resmi seperti anak-anak muda itu?”
Aku mendongak. Terkejut kedua kalinya.
Kedua tangan Erika perlahan merayap di atas meja, kemudian meyentuh dan menggenggam tanganku. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Erika tersenyum begitu manis dan menatapku lekat-lekat.
“Pak Negara, aku pikir Bapak sudah tahu bahwa tanpa kata-kata, hubungan kita bukan hubungan biasa. Aku tahu Bapak merasakan perasaan istimewa itu, dan aku juga sama. Harusnya ‘kan Bapak sadar itu. Apa karena kita tidak saling memanggil dengan kata-kata khusus seperti sayang atau cinta? Atau karena tidak ada kata resmi pacaran?”
__ADS_1
Aku serasa melayang dan membentur langit.
“Kita sudah berumur, Pak Negara. Kita bukan pasangan pacaran, tetapi jauh lebih dalam dari itu. Kita berbagi perasaan yang besar melebihi kesenangan berjalan-jalan, bermesraan di tempat-tempat mewah, atau berjalan bergandengan. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Bapak sedari awal aku mewawacarai Bapak. Nah, sekarang apa masih perlu penjelasan tentang hubungan kita? Atau, Bapak mau memanggil saya dengan sayang?” jelas Erika.
Sepasang matanya kembali berbinar nakal, kemudian tenggelam dalam tawanya yang melebar dan menelan indera penglihatan tersebut.
Aku ikut tertawa, sama lebarnya.
Hatiku mencelos. Erika menyelamatkanku dari rasa malu. Ia tadi sengaja memotong kalimatku agar tidak terdengar kekanak-kanakan, bahkan bagiku sendiri. Aku setuju, kami telah dewasa. Mungkin sekali Erika lebih tahu sifatku daripada aku sendiri. Setelah sekian lama mewawancaraiku, berinteraksi denganku, tidak heran bila ia terus mendalami sifat dan kebiasaan narasumber, sama seperti yang ia lakukan kepada narasumber lainnya.
Kata-kata bukan segalanya. Harusnya aku lebih peka dan sadar bahwa selama ini Erika merasakan hal yang sama denganku. Namun, bagaimana pula caranya aku dengan percaya diri yakin bahwa Erika Dermawan, wanita yang luar biasa cantik dan menarik di mataku itu, bisa berbagi rasa yang sama dengan laki-laki semacam diriku?
Ah, sudahlah. Yang penting, aku berhasil menggaet hatinya dan menjadikan hubungan ini sebagai sesuatu yang sungguh istimewa.
Aku tertawa karena malu, Erika tertawa, ya karena lucu. Namun, kami berdua lega. Perasaan itu tetap berhasil diledakkan.
Luar biasa. Aku tak menyangka tanganku digenggam erat dengan lembut oleh tangan Erika. Aku sungguh sedang jatuh cinta dan terlena.
Kami masih berbagi tawa dan rasa ketika sayup-sayup terdengar berita di televisi yang ada di meja kasir, tak jauh dari meja kami, mengabarkan berita tentang sang Tetuka.
Sang Tetuka memang semakin sering muncul di televisi akhir-akhir ini. Nampaknya, masyarakat sudah merasa bahwa sosok itu adalah bagian dari kehidupan. Perlahan mereka mulai menerima ada sosok berbeda nan istimewa yang hadir di tengah-tengah mereka dan menjadi berita dalam skala harian. Hitung-hitung, dalam seminggu saja, sudah ada dua video yang merekam kemunculannya. Tidak sampai disitu, ada juga belasan berita tentang keberadaan sosok itu sehingga semakin memperkuat eksistensinya.
__ADS_1
Berita-berita tersebut menceritakan dari sepak terjangnya yang sekadar menghajar preman, sampai menanggapi gembong-gembong narkoba telah berhasil menghiasi beragam media, baik cetak maupun televisi dan radio, serta internet tentunya. Berita yang kami dengar dari televisi di dekat meja kasir itu adalah mengenai salah satu video amatir dari masyarakat. Video tersebut berada dalam kualitas yang baik.
Spontan, aku dan Erika berdiri. Kami mendekat ke kasir untuk melihat lebih dekat berita tentang Tetuka tersebut.