
Ketika gerbang diriku terbuka, akupun akhirnya rela menceritakan semuanya. Dari apa yang kulihat secara mendetail, sampai termasuk segala pandangan dan lagi-lagi teori terbaruku mengenai sang superhero.
Erika membelalak mendengar ceritaku bahwa sosok itu sungguh merupakan seorang manusia. Hanya saja, kekuatannya sungguh tidak masuk akal. Tidak ada seorang manusia pun yang mungkin memiliki kemampuan yang seujung jari saja dibandingkan dengannya. Lompatannya yang terlalu tinggi, kegesitannya yang tak terukur, sampai kekuatannya mengangkat sang Jendral adalah milik seseorang yang jelas bukan manusia biasa.
Erika mendengar dengan seksama. Ia percaya padaku seratus persen.
Tidak hanya itu, keterbukaanku ini membuat kami berbicara dengan berapi-api. Ia kerap mengangguk dan merespon kisah yang kusampaikan dan pemikiran yang kupaparkan. Dalam menit-menit berikutnya, kami berbicara seakan tidak sebagai seorang presenter dan narasumbernya, melainkan sebagai dua orang teman yang saling berbagi pikiran. Erika pun menjadi ikut terbuka sehingga membuat percakapan kami tidak hanya seru tetapi juga hangat.
Tak ragu lagi dan tanpa rasa negatif semua penjabaranku mengalir seperti air pegunungan yang turun ke persawahan. Aku tidak lagi merasa diserang. Aku tidak lagi merasa seperti dituduh karena kesalahanku memaparkan teori bahwa si superhero sebenarnya hanya halusinasi saja.
Bisa dikatakan akhirnya dengan tegas aku berani mengakui bahwa sosok itu memang ada, nyata dan aku adalah salah satu saksi utama yang masih hidup aman sentosa yang melihat keberadaannya. Entah mengapa dan bagaimana, tekadku perlahan namun pasti membulat dan mengeras. Secercah cahaya yang semula mengintip dari balik tirai sanubariku sekarang sudah merengsek keluar dengan membabi buta.
Erika terdiam melihatku mendadak terhenyak. Aku sadar ia memerhatikanku selagi aku seperti sedang tak berada di bumi. Sikapku yang mendadak diam ini mungkin sekali menjadi misteri bagi Erika. Namun, sebelum ia memanggil namaku untuk bertanya apa yang sedang terjadi padaku, aku menatapnya.
“Erika ..., aku memutuskan agar kamu harus meliput saya! Kita harus membuat acara khusus. Kita harus jelaskan pada masyarakat dan negara ini, bahkan kalau perlu seluruh dunia untuk mengabarkan keberadaan si superhero. Itu yang kita perlukan. Itu yang bangsa ini butuhkan. Kita nampaknya harus bersepakat untuk mendukung keberadaan si superhero diluar perdebatan kelak atas tindakan yang dilakukan. Keberadaan sosok itu harus diberitakan dengan akbar. Saya tidak peduli bila para politisi mengamuk karena ini. Saya tidak peduli bila para pejabat kebakaran jenggot. Saya pun tidak peduli bila pada penjahat negeri ini meradang karena mereka merasa terancam dengan dideklarasikannya keberadaan nyata si superhero!” kataku akhirnya setelah hampir dua jam berbagi komunikasi dengan Erika.
__ADS_1
Erika mengerutkan bibirnya, mengangkat alisnya dan memiringkan kepalanya sedikit, seperti biasa, tanda ia setuju. Namun kali ini ia tersenyum lebar dan tertawa renyah.
Hatiku membuncah seperti ingin meledak. Perasaan acak-adul telah menyiksaku sejak pertama kali menjadi saksi atas kemunculan si superhero. Aku tak bisa mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana setiap rasa dan pikiran saling bertentangan. Sekarang, hanya dalam beberapa jam saja, perasaannya semakin campur aduk tak karuan. Bedanya, lebih banyak hal positif dan berani yang seakan berhasil mengubur semua ketakutan dan kegelisahanku. Apa aku sesungguhnya seseorang yang sentimental?
Sebut saja kehadiran Erika. Aku sama sekali tak menyangka wanita yang selama ini menempati ruang di pikiranku itu hadir dalam situasi dan peran berbeda. Selain karena dia membuat hatiku berbunga-bunga dengan alasan yang kekanak-kanakan, aku menjadi tidak sendiri. Aku punya seorang teammate.
Seakan-akan hidupku digariskan untuk sesuatu yang besar.
Baiklah, mungkin aku berlebihan. Tapi, tidak ada salahnya berpikir ‘besar’ bukan? Aku hanya harus tahu dimana peranku dalam fenomena ini.
Berita ‘penyerangan dan penculikan’ sang jendral berguling seperti bola api membakar semua yang dilewatinya. Surat kabar cetak tradisional, televisi dan Internet tak habis-habisnya memberitakan kejadian ini. kisah si superhero mendominasi semua platform berita.
Di tempat lain, sebagai aparat yang bertugas menjaga keamanan warga dan menjaga kestabilan, Kepolisian langsung turun tangan serta menerima permintaan media untuk menjelaskan tanggapan serta tindakan mereka. Apalagi inti dari permasalahan ini sebenarnya adalah Kepolisian itu sendiri.
Dalam wawancara yang menghebohkan itu, Kepolisian sudah tidak segan-segan lagi memutuskan bahwa si superhero sebenarnya adalah seorang kriminal, penjahat, mungkin seorang peneror. Mereka menempatkannya sebagai villain, musuh masyarakat.
__ADS_1
Hanya saja kepolisian tidak pernah mengakui bahwa sosok tersebut adalah seseorang dengan kemampuan superherhuman dan yang kerap disebut-sebut sebagai superhero oleh media. Mereka menolak segala penggambaran media bahwa sosok misterius tersebut dapat melompat tinggi seperti terbang, bergerak dengan cepat, dan memiliki kekuatan fisik diatas rata-rata manusia. Kepolisian menyangkal berita yang disampaikan belasan jurnalis mengenai kejadian tersebut. Para petinggi kepolisian mengatakan media terlalu mengada-ada serta menantang bukti nyata dari kehadiran sang superhero. Kepolisian mengingkari fakta-fakta yang diberikan para jurnalis dengan berbalik menuduh para jurnalis mereka-reka dan malah meresahkan masyarakat dengan berita yang tidak-tidak. Sepertinya media bersekongkol untuk mem-blow up fenomena ini hanya demi berita sensasional.
Sebaliknya, Kepolisian menyatakan dengan resmi bahwa memang mereka mengakui sang jendral diculik. Ini adalah kejadian peneroran. Bahkan sebenarnya kepolisian tidak bisa mengatakan bahwa pelakunya hanya seorang. Mereka tidak menjelaskan secara detil bagaimana hal ini bisa terjadi. Mereka menutup rapat-rapat semua penceritaan dan penggambaran kejadian yang sebenarnya. Beruntung bagi kepolisian karena sikap mereka ini didukung oleh kelemahan bukti oleh para awak jurnalis yang memang tidak memiliki apa pun untuk ditunjukkan kepada masyarakat. Meskipun kepolisian harus menanggung malu dan menahan amarah karena merasa ‘kecolongan’.
Lain halnya dengan media yang begitu kesal dan meradang. Mereka semua setuju bahwa Kepolisian sengaja menutupi apa yang sebenarnya terjadi walau tak sedikit dari anggota Kepolisian adalah saksi-saksi utama kejadian ‘penampakan’ sang sosok superhero.
Beberapa jurnalis secara objektif beranggapan bahwa Kepolisian hanya menutupi hal yang memang bisa sangat berbahaya bagi kemanan dan masyarakat secara umum.
Seseorang dengan kekuatan semacam itu sudah barang tentu sangat berbahaya. Apalagi kenekatannya menyerang kepolisian, diluar apakah sang jendral memang bersalah atau tidak. Tindakannya adalah sebuah tindakan beringas, menentang hukum. Lagipula kepolisian belum bisa mendefinisikan seperti apa orang atau mahluk ini, seberapa kemampuannya, dan seperti apa pula maksud dan tujuannya.
Beberapa lainnya memiliki pemikiran yang lebih sederhana. Kepolisian terlalu kotor. Terlalu banyak oknum yang bermain di sana. Mereka sedari awal sudah mencoba menutupi segala kejahatan dan keburukan mereka dan membela siapa saja yang berada di pihak mereka terutama para pejabat dan anggota-anggotanya. Kepolisan terlalu kaget dengan kejadian ini dan segera merapatkan badan untuk melindungi aset dan rahasia kebobrokan mereka.
Apalagi siapa tahu memang seperti yang telah orang-orang katakan bahwa superhero ini memang ada. Entah seseorang, entah sekelompok orang yang memiliki kekuatan khusus yang menghajar para penjahat yang membela yang lemah dan menegakkan keadilan. Sosok ini melayang dalam kerahasiaan dan menumpas para begundal. Kepolisian merasa bahwa institusi mereka kotor sehingga mereka terancam dan takut untuk diadili, sama seperti para politisi dan pengusaha-pengusaha nakal. Hukum telah mereka kuasai, tapi tidak dengan hukum jalanan yang sekarang sedang dirajai sosok sang superhero.
__ADS_1