Sang Tetuka Adiwira

Sang Tetuka Adiwira
Hikayat Negarakrtgama Ihwal Duapuluh


__ADS_3

Erika mengalihkan pandangannya ke seorang ahli telematika yang duduk di sebelahku.


“Menurut Bapak Barly, beranikah Anda menjamin keaslian video ini?” Erika membuka suara.


Kejadian ini adalah sebuah interview lagi yang diadakan oleh stasiun televisi dimana Erika bekerja. Stasiun televisi ini meroket menjadi media terdepan di dalam isu-isu yang berhubungan dengan Gatotkaca. Tidak hanya itu, popularitasnya mengalahkan segala berita yang berseliweran di internet.


Sang ahli telematika, menggaruk dagunya dan mengedikkan kepalanya sedikti ke arah kiri. “Yah ... meski tidak seratus persen, saya cukup yakin video ini asli dan bukan rekayasa. Terlalu sederhana bila kita berpikiran bahwa video ini adalah buatan. Di negara kita saya rasa belum ada orang yang cukup mampu menciptakan rekayasa secanggih film-film Hollywood. Walaupun ada, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menghabiskan energi membuatnya. Selagi kita menunggu informasi dari Kepolisian yang menurut berita yang saya dapatkan dari media, termasuk stasiun televisi ini, bahwasanya pihak Kepolisian telah menahan paling tidak lima puluh tiga orang yang terlibat baku hantam di dalam video tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa memang kejadian di video itu benar-benar nyata.”


Mulai pertanyaan kepada akhi telematika ini, pembahasan semakin bergulir. Aku masih dengan argumentasiku yang sama bahwa Gatotkaca bisa dianggap sebagai simbol sosok pahlawan di era modern di negara ini. Tindakan yang dilakukan oleh figur itu memang melawan hukum bila melihat dari perspektif legal. Namun, sama sekali tidak bisa menisbikan kemungkinan bahwa mungkin sekali ia dianggap sebagai sosok superhero oleh banyak orang. Sebut saja, para warga yang rumah mereka hampir saja terbakar dan banyak korban bila Gatotkaca tidak datang tepat waktu dalam tawuran tersebut.

__ADS_1


Walau begitu aku mencoba meyakinkan kembali bahwa aku tidak dalam posisi membenarkan atau menyalahkan tindakannya. Secara pribadi, aku berterima kasih ketika ia menolongku dan Erika pada kejadian di parkiran tempo hari. Namun aku tidak mau terlampau jauh menghakiminya. Bila tindakannya dirasa merugikan kepentingan umum, masyarakat sendiri yang akan tidak percaya dan resah.


Syukurnya, keadaan hari ini telah menjadi berbeda. Aku dan Erika tidak sendiri dalam pemikiran kami. Pak Barly dengan argumentasinya menjelaskan keaslian video-video yang selama ini telah beredar di masyarakat melalui media. Bahkan sebagai tambahan, seorang ilmuwan terkemuka seperti pak Junaedi yang juga hadir pada wawancara kali ini juga menjelaskan kemungkinan orang seperti Gatotkaca itu sungguh ada.


“Bila kita melihat dalam video tersebut, gerakannya yang seperti melayang di udara bisa dikatakan sebagai sebuah fenomena levitation,” ujar pak Junaedi dengan aksen Jawa-nya yang kental.


“Di luar kepercayaan para penganut agama dan kepercayaan, secara ilmiah gerakan seperti terbang Gatotkaca ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Levitation adalah keadaan tubuh manusia yang mengambang di udara. Ini bisa dikarenakan oleh lompatan yang tinggi sehingga tubuh dalam keadaan melayang di udara selama beberapa saat. gampangnya, kita bisa melihat di dalam contoh, misalnya, seperti lompatan seekor katak yang membuatnya melayang di udara. Seorang yang bernama Blavatasky pernah menggambarkan fenomena levitation atau disebut juga Æthrobacy pada tahun 1877. Ia menjelaskan bahwa bumi adalah sebuah badan magnetis yang mengandung listrik positif, sedangkan semua bentuk zat termasuk tubuh manusia memproduksi listik negatif. Gravitasi yang membuat semua benda jatuh ke bumi pada dasarnya adalah daya tarik bumi karena daya magnetis tersebut. Oleh sebab itu seseorang dapat saja terbang atau memiliki kemampuan levitation bila ia mampu mengeluarkan daya listriknya sehingga sama dengan daya magnetis bumi sehingga ia akan terlempar karena ditolak oleh daya tarik bumi seperti dua magnet dengan kutub yang sama. Hal ini bisa dicapai dengan kekuatan yang dihasilkan dari niat atau keinginan yang sangat kuat. Bahkan ada pula sebuah jenis penyakit tertentu pada sistem syaraf seseorang, keadaan seseorang yang berada dalam ekstasi, atau hal-hal serupa lainnya,” jelas Pak Junedi.


“Itulah mengapa banyak cerita mengenai para biksu agam Buddha di Tibet yang dapat melayang di udara ketika sedang dalam meditasi. Keadaannya yang trans dan ekstasi mungkin sekali menciptakan fenomena magnetis bumi tersebut. Nah, bila kita saksikan dan perhatikan bersama di dalam video tersebut, Gatotkaca seakan mahir mengendalikan daya magnetis di tubuhnya. Ia mengontrol gravitasi. Melompat kesana kemari, bahkan ia terlihat mengambang di udara dalam sepersekian detik. Ini benar-benar luar biasa.”

__ADS_1


Popularitasku, dan Erika tentu saja, semakin meningkat. Sepertinya masyarakat menganggap aku adalah orang terdekat Gatotkaca mungkin seperti Batman dan James Gordon. Namun bagiku yang lebih penting sekarang adalah sikap dan reaksi para politisi dan orang-orang hukum. Mendadak mereka terlihat segan dan bisa jadi takut karena siapa tahu memang Gatotkaca memiliki hubungan khusus denganku. Sehingga setelah permasalah dengan Balai Sigalagala, mereka tidak mau bermasalah denganku. Bisa berabe kalau sampai bersentuhan denganku. Oleh sebab itu perilaku mereka berubah drastis. Dalam banyak kesempatan mereka sangat baik, ramah dan cenderung mengalah padaku dengan sikap yang dilebih-lebihkan. Baik dalam wawancara televisi yang bisa dilihat publik, atau pertemuan langsung.


Namun, tak lama, sesuai yang kami duga dan prediksi, Balai Sigalagala bebas.


Alasan sepele yang bisa dijelaskan seorang komisaris polisi untuk memutuskan membebaskan Balai Sigalagala adalah bahwa Kepolisian kekurangan bukti. Dijelaskan bahwa terbukti para begundal pengeroyokku dan Erika di tempat parkiran waktu itu mengaku bekerja atas inisiatif sendiri dengan alasan karena membenciku. Mereka mengaku tidak disuruh dan dibayar oleh Balai Sigalagala. Bahkan mereka mengaku tidak pernah mengatakan itu kepadaku. Memang mereka mengakui bahwa mereka adalah simpatisan Balai Sigalagala dan partai politik yang ia wakili. Itupun kembali dijelaskan bahwa Balai Sigalagala dan partai politiknya sama sekali tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan tindakan keji itu. Bahkan para petinggi partai sudah mengajukan surat tuntutan atas nama baik kepada para begundal itu. Dengan kata lain, menurutku, para orang suruhan Balai itu menanggung dosa-dosa Balai dan mengambil resiko untuk dipenjarakan agar Balai dapat bebas.


Begitu juga dengan empat preman yang dihajar di kantor Balai. Walau CCTV berhasil merekam keakraban mereka, sebenarnya mereka mengakui bahwa mereka sedang mengancam dan memeras Balai untuk memberikan sejumlah uang. Ini ada hubungannya dengan proyek politik. Balai mengaku bahwa ia menolak permintaan keempat preman tersebut dan hendak melaporkannya kepada Kepolisian kelak.


Masih menurut pengakuian Balai, di saat yang sama ketika keempat preman itu hendak menyerang Balai, Gatotkaca datang secara tiba-tiba dan langsung menghajar mereka semua. Bahkan secara membabi buta juga menghajar Balai.

__ADS_1


Inti dari argumentasi dan penjelasan mereka, Balai tidak bersalah. Tidak sampai disitu, kumpulan massa juga berdemo di depan kantor Kepolisian meminta agar polisi melepaskan Balai. Semua paham bahwa massa tersebut adalah massa bayaran entah dari partai atau Balai sendiri.


__ADS_2