
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan saling beradu. Smith langsung melindungi Dita yang tadi terkena tembakan di lengannya.
" Ta, kamu nggak apa-apa kan?"
Dita mengangguk, ia lalu mengangkat senjata laras panjangnya dan mengarahkan kepada musuh. Sekitar 10 menit adu senjata itu berlangsung dan kemenangan mutlak ada di kubu Dita.
Salah seorang anggota Dita menghampiri orang-orang tersebut. Dicarinya identitas mereka. Terdapat sebuah tato di leher belakang bawah.
" Lapor Princes, mereka adalah anggota kelompok gangster."
Dita bernafas lega. Setidaknya mereka bukanlah orang bagian dari misi yang mereka hadapi.
" Ta, gimana apa lenganmu nggak masalah begitu?"
" Haish, hanya satu peluru. Ini bukan apa-apa. Ayo segera selesaikan. Keburu pagi."
Smith membuang nafasnya kasar, ia sangat mengkhawatirkan Dita tapi tampaknya Dita tidak begitu mempermasalahkan lukanya. Ya tadi Dita lah yang terkena tembak. Beruntung hanya mengenai lengannya saja. Itu pun oleh Smith langsung diikat agar tidak banyak darah yang keluar.
Smith meminta Dita untuk tidak ikut melanjutkan menerobos masuk. Tentu saja Dita tidak mau, ini adalah misinya. Dia harus menyelesaikan bagaimana pun situasi dan kondisinya.
Mr. Sun meminta maaf karena tadi ia sempat salah. Dita tentu paham, ini berhubungan dengan sesuatu yang besar maka tidak akan semudah perkiraan.
" Ta, kalian bisa leluasa masuk. Yang kalian butuhkan saat ini adalah head to head. Jadi segera selesaikan dan keluar. Waktu kalian 10 menit, sebelum pasukan lainnya menyadari."
" Aku mengerti Mr. Sun thanks."
" Berterima kasihlah saat semuanya sudah selesai."
Dita mengerti, ia dan tim nya kembali menerobos gedung tersebut. Jika mereka tadi mengambil arah jalan ke kiri setelah berhasil masuk ke gedung, kini mereka mengambil jarak ke sisi kanan. Dan ruang bawah tanah sisi kanan terlihat lebih luas. Terdapat dinding-dinding yang terbuat dari metal baja. Lampu-lampu menerangi lorong tersebut. Terdapat banyak penjaga sepanjang lorong.
" And, it's show time."
Dor
Dor
Dor
Dita menarik saru sudut bibirnya. Sudah lama dia tidak menggunakan keahliannya di lapangan. Smith hanya terkekeh geli melihat Dita yang sangat bersemangat.
" Apa bagi mu ini adalah permainan paint ball?"
__ADS_1
" Hahaha ini lebih seru dari itu bang."
Bruk
Bruk
Bruk
Satu persatu para penjaga berhasil di libas habis oleh mereka hanya dalam kurun waktu 3 menit.
Klik, sreeeet.
Pintu kaca tebal dengan pengamanan berlapis itu terbuka dengan sendirinya. Para ilmuan yang terlihat sedang bekerja itu tentu merasa terkejut. Ini bukan jatah orang-orang itu mengadakan kunjungan, tapi mengapa ada orang yang datang.
" Who are you, why you can come here?"
" We will save you all."
Senyum kelima ilmuan itu mengembang. Mereka seketika mengangkat tangan dan meletakkan semua hal yang dikerjakan. Dita dan Smith menuntun mereka keluar dari tempat itu. Tapi satu diantara ilmuan itu berhenti dna kembali masuk ke dalam.
" What are you doing?"
" We have to destroy all of this. Jika ini tidak hancur, maka akan disalah gunakan oleh mereka. Kalian keluarlah dulu. Ini mungkin akan sedikit memberi efek."
Dita memberi kode kepada Smith untuk membawa yang lainnya menuju ke luar ruangan. Sedangkan Dita memilih untuk menemani pria itu. Melihat wajah asia pria tersebut, Dita memberanikan diri berbicara dengan menggunakan bahasanya.
" Tentu saja, dan sialnya kemarin kita membuatnya. Aku akan mengacaukan dulu file komputernya. Beri aku 2 menit untuk itu."
Pria itu tahu waktu mereka tidak banyak. Dengan cekatan ia menggunakan kesepuluh jarinya di atas keyboard. Komputer seketika berbunyi. Dan dia juga mengambil salah satu formula berwana hitam lalu diteteskan ke formula berwana merah cerah.
" Ayo lari, cepat! Tutup pintunya."
Blaaam
Duaaaar
Sebuah ledakan terjadi di dalam laboratorium tersebut. Semua tentu terkejut. Tapi mereka tidak ada waktu untuk terus melihat hal itu, semuanya langsung berlari menuju keluar sebuah peringatan disampaikan oleh Mr. Sun dan Silvya. Waktu mereka tidak kurang dari satu menit untuk keluar dari gedung itu.
" Go go go! CEPAT!!! 3, 2, 1."
Blaaam
Grubuuuuk
Bangunan tersebut amblas. Benar-benar terlihat seperti di telan bumi. Semua berhasil keluar hidup-hidup. Nafas mereka memburu. Takut? Tentu saja, mereka juga manusia biasa. Meskipun memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni tapi tetap saja mereka punya ketakutan terhadap kematian.
" Baiklah, setelah ini kalian bisa kembali ke negara kalian. Maaf."
__ADS_1
Blub
Blub
Dita menembak kelima ilmuan itu dengan tembakan jarum yang berisi formula penghapus ingatan. Mereka langsung pingsan. Saat bangun nanti mereka tidak akan ingat apa yang sudah terjadi beberapa saat lalu. Rupanya formula tersebut sudah disempurnakan oleh Jason. Yang tadinya hanya menghapus ingatan selama beberapa jam sebelum diberikan ke tubuh, kini menjadi beberapa hari sebelumnya.
Ya, mereka tidak akan ingat bahwa mereka telah diculik dan diselamatkan. Mereka juga tidak akan ingat bahwa mereka mendapatkan perintah untuk membuat senjata biologis.
" Kalian sudah bekerja keras. Terimakasih untuk semuanya. Mari kuta kembali ke rumah masing-masing."
Semua tim tersenyum. Terlihat wajah-wajah kepuasan dari masing-masing mereka. Smith tersenyum senang. Misi ini selesai, meskipun tadi ada sedikit maslaah namun semua dapat diselesaikan dengan mudah.
Dita memerintahkan anggota timnya untuk mengantar masing-masing dari ilmuan ini ke negara asal mereka. Gadis itu sedikit terkejut saat salah satu dari mereka berasal dari negara tetangga yang amat dekat.
" Pantas saja bisa berbahasa indonesia," ucap Dita pelan.
" Lalu apa akan membawanya pulang bersama kita?" Smith mendengar apa yang dikatakan Dita, lalu ia bertanya mengenai orang tersebut.
" Tidak bang, dia tidak boleh tahu identitas kita. Terlebih identitas ku. Haish, berabe jadinya nanti bang."
Smit mengangguk paham. Mereka pun melaksanakan segala hal sesuai rencana semula. Dita dan Smith pulang bersama tim, dan beberapa anggota mengantarkan para ilmuan ke negara mereka.
" Mission complete"
**
**
Di markas besar militer, Alsaki begitu khawatir 2 hari ini. Ia terus saja memeriksa ponselnya. Ya ia mengirim pesan kepada Dita apakah mereka sudah selesai atau belum. Apakah misi mereka berhasil atau ada kendala. Alsaki sungguh dibuat sampai gila.
" Sudahlah Al, jangan seperti itu. Aku yakin Dita bisa menangani hal itu."
" Ad, permasalahannya kita nggak tahu siapa yang bantu Dita. Misi rahasia seperti ini jelas sangat berbahaya Ad."
Bukannya khawatir, Adyaksa malah terkekeh geli melihat raut wajah sang teman. Alsaki benar-benar terlihat sangat panik. Bila boleh dibilang, mungkin Alsaki lebih panik saat ini ketimbang mendengar kabar ayah nya sakit.
Entahlah, mungkin rasa Alsaki sudah mati terhadap pria yang seharusnya ia panggil bapak itu. Terakhir kali sepertinya Alsaki memanggil bapak kepada Bagio saat SMA. Sebutan bapak menurut Alsaki sungguh tidaj pantas disematkan kepada pria tua itu.
" Malah ketawa kamu Ad. Seneng banget ngeledek temen."
" Makanya kalau cinta ngomong. Jadi ayang beb langsung ngasih kabar kalau doi dah balik. Awas lho Al entar di comot orang duluan baru nyesel."
Alsaki berdecak kesal. Tidak Brahma tidak pula Adyaksa, kedua orang itu selalu mengatakan hal yang sama.
" Kapten Alsaki, ada seseorang yang mencari mu. Dia ada di pos depan."
Alsaki dan Adyaksa saling pandang. Merak tentu bertanya-tanya. Siapa gerangan yang mencari Alsaki bahkan sampai ke markas.
__ADS_1
TBC