
Alsaki dan Dita langsung pergi menuju tempat dimana panggilan tadi mereka dapat. Alsaki yang mengemudikan mobil melajukan mobilnya lebih cepat. Sedangkan Dita, gadis itu berusaha untuk terus berkomunikasi dengan orang yang menghubunginya.
" Bukannya tadi dia masih baik-baik saja?"
" Iya kak, tapi pas semua orang pergi dia mulai kacau."
Alsaki mengangguk paham. Dita sengaja mengaktifkan mode loudspeaker pada panggilan teleponnya agar Alsaki bisa mendengarnya.
Keduanya sebenarnya bingung. Bukannya kemarin bocah itu baru saja pulang ke kampungnya untuk melaksanakan pertunangan, tapi mengapa sekarang jadi begini.
Selain Dita dan Alskai yang bergegas menuju lokasi, Brahma dan Adyaksa pun melakukan yang sama. Kedua orang itu juga tengah berada di dalam mobil untuk datang ke tempat yang Ekadanta katakan. Rasa khawatir memenuhi otak mereka berempat mengenai keadaan Indra.
Tadi yang menelpon Dita adalah Brahma dan yang menelpon Alsaki adalah Adyaksa. Kedua orang itu sudah terlebih dulu di hubungi oleh Eka mengenai keadaan Indra. Saat Indra tengah berada di sebuah laut. Pria itu tampak berjalan masuk ke air dan berdiri disana. Eka tentu takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Indra. Pikiran Eka sudah melalang buana entah kemana.
Eka yang tidak berani menghadapi Indra langsung menghubungi Brahma. Eka merasa tidak enak jika langsung menelpon Alsaki karena ia tahu Alsaki sedang dalam masa-masa bahagia. Eka takut akan menganggu.
Ciiit
Kedua mobil dengan 4 penumpang itu turun di area depan pantai dan langsung berlari. Mereka menghampiri Eka yang hanya berdiri di pantai dengan pandangan lurus ke depan.
" Mana Indra!" Teriak Alsaki tepat di tepat di depan Eka. Eka hanya menunjuk ke arah Indra berdiri di bibir air laut. Mata Alsaki membulat sempurna saat ia melihat ada ombak yang lumayan besar akan datang. Alsaki diikuti Brahma dan Adyaksa berlari sekuat tenaga untum mengambil Indra yang diam saja di sana. Pria itu tidak bergerak sama sekali padahal ombak sebentar lagi menyapu tubuhnya.
Greb
Alsaki memeluk tubuh Indra dan langsung menarik mundur. Indra hanya diam tanpa perlawanan. Pandangan pria itu tampak kosong hingga ia tersadar saat Alsaki berteriak.
" Apa yang mau lo lakuin hah!"
" Laah Bang Al, Bang Brahma dan Bang Ady ngapain kalian di sini. Bukannya Bang Al lagi nerima kenaikan pangkat. Kok malah pada di sini."
__ADS_1
Ketiga orang itu saling pandang. Mereka bingung dengan reaksi Indra yang seolah tidak terjadi apa-apa. Brahma pun langsung mengatakan apa yang Eka katakan tadi. Indra langsung tertawa terbahak-bahak mendengar setiap ucapan Brahma.
" Laaah Eka nya salah paham. Iya bener sih aku lagi kacau tapi aku nggak gila mau suicude. Aku masih punya Tuhan dan orang tua. Ngapain juga melakukan hal yang dilarang agama."
Plak
Indra mendapat keplakan dari ketiga seniornya itu. Sungguh mereka sangat takut tadi. Semua orang berpikir Indra akan melakukan bunuh diri dengan menghanyutkan tubuhnya ke laut. Tetapi rupanya mereka hanya salah sangka. Dan semua itu adalah ulah Eka. Mereka berempat berjalan menuju Eka dan Dita berdiri. Sesampainya di sana Alsaki, Brahma dan Adyaksa langsung menyentil kening Eka.
" Kalau ngasih info tuh yang bener. Bikin kita spot jantung. Sialan emang !"
" Eeh emang nggak to. Laaah kupikir Indra mau begitu. Habisnya dipanggil nggak nyahut. Aku mau ngedeket udah takut duluan. Takutnya aku ngedeket dia semakin jauh masuk ke air."
Satu sisi Eka bersyukur Indra tidak melakukan apa dia pikirkan. Tapi di sisi lain dia sedih dengan nasib cinta Indra.
" Sorry cuuy, gue pikir lo bakalan suicude gegera gagal nikah."
" Apa???"
Dita kemudian menarik Indra dan membawa mereka ke tepian pantai. Dibawah pohon-pohon mereka kini berada. Brahma meminta Eka membeli minuman dan camilan untuk menemani waktu mereka di sana.
Adanya mereka sedikit menarik perhatian. Pasalnya keenam orang itu masih menggunakan seragam lengkap mereka. Apalagi Alsaki dia tidak menggunakan seragam loreng tapi seragam dinas resmi sehingga membuat tampilan pria itu semakin gagah dan tampan tentunya.
" Sekarang ceritakan kepada kami." Dita to the point meminta Indra bercerita. Terlihat pemuda 25 tahun itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia sebenarnya tidak ingin membuat Dita tahu soal apa yang ia alami. Tapi nampaknya ia memang harus menceritakan apa yang terjadi.
" Iya apa yang dikatakan Eka benar. Aku gagal menikahi dia kak. Semua terjadi saat H-3 acara tunangan di gelar. Dia tiba-tiba meneleponku dan mengajak bertemu. Saat itulah dia mengatakan tidak bisa melanjutkan hubungan kami sampai jenjang pernikahan. Kedua orang tuanya tiba-tiba tidak setuju dia menikah dengan ku karena ... ."
Cerita Indra terus berlanjut. Ia mengatakan bahwa kedua orangtuanya si wanita tidak ingin putrinya menikah dnegan Indra karena Indra sering dikirim tugas. Mereka tidak mau putrinya jadi janda muda. Rupanya saat Indra tertembak di negara P kabar itu diketahui oleh calon tunangan dan keluarganya. Dan dari itulah mereka menjadi ragu melanjutkan hubungan.
Indra hanya pasrah. Mungkin memang belum jodoh dan alasan yang dikatakan memang benar. Ia cukup mengerti tentang hal itu. Akan tetapi yang bikin Indra sakit hati adalah 2 hari setelah sang kekasih memutuskan hubungan ia melihat cerita media sosial mantannya itu menikah. Diketahui bahwa suami mantannya itu adalah seorang pengusaha.
__ADS_1
Terang saja Indra merasa sangat kecewa. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Percuma juga dia marah dan memaki toh mereka tetap juga menikah.
Dita menepuk punggung Indra. Tidak ada kata semangat yang bisa Dita ataupun yang lain katakan karena mereka tahu itu tidak akan berpengaruh. Saat ini Indra memang lebih butuh ditemani.
" Baiklah mari kita main saja," usul Alsaki. Semuanya menoleh ke arah Alsaki dan saat pria itu memberitahu akan bermain apa sontak semuanya langsung setuju.
" Mari kita let's go!!" Indra berteriak semangat membuat semuanya tersenyum.
Sebuah doa tulus masing-masing dari mereka ucapkan dalam hati agar Indra menemukan jodoh yang benar-benar menerima Indra dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Di tempat lain Jason sedang berada disebuah bangsal. Ia duduk di sebelah brankar pria yang kemarin dia operasi. Pria itu tersenyum simpul saat pria yang diketahui bernama Robertho itu mulai mengerjapkan matanya.
" Apa kau bangun?"
" Si-siapa Anda dan dimana saya berada?"
Jason mengatakan semua yang terjadi mengenai kecelakaan itu dan luka apa saja yang diterimanya. Robertho hanya mengangguk sebagai respon dari cerita Jason.
" Baiklah aku akan bertanya. Siapa namamu dan dari mana kamu berasal?"
Robertho sesaat terdiam ia mencoba berpikir tentang pertanyaan Jason mengenai identitasnya. Robertho memejamkan matanya. Dalam bayangannya ia melihat dirinya bersama dua orang lainnya di sebuah tempat tapi di tidak tahu tempat apa itu. Mereka berganti-gantian memanggil nama. Tapi bukan satu nama melainkan tiga nama. Jelas saja ia langsung merasa bingung.
" Apa kamu sudah ingat siapa kamu?"
" Aku, siapa aku. Mengapa namaku banyak?"
Jason tersenyum simpul ia lalu menyuntikkan sesuatu ke infus Robertho. Sepertinya Robertho aka Khaleed aka Ameer benar-benar berada di tempat yang tepat. Dan pastinya Jason happy, dia punya objek penelitian yang baru.
" It's show time!"
__ADS_1
TBC