Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 32. Beruntung dan Tidak Beruntung


__ADS_3

Jika Dita dan timnya tengah mengintai musuh, di kota J Silvya dan Dika tengah duduk berdua di teras rumah mereka. Rumah terasa begitu sepi saat ini. Nataya yang sudah berkeluarga tentu berada di rumah pribadinya beserta Naisha dan kedua anaknya. Dan, saat Dita bertugas begini rumah semakin bertambah sepi.


" Oh iya mas, ini soal pacar bule Dita tempo hari. Aku lupa memberitahu mas."


Silvya menceritakan semua tentang Khaleed aka Ameer yang merupakan buronan interpol. Rupanya sebelum berangkat Dita juga menjelaskan bagaimana mereka bertemu dulu.


Terkejut? Pasti, Dika tentu tidak menyangka bahwa pria bule itu bermasalah. Bahkan mungkin cukup membahayakan. Beruntung mereka tahu lebih cepat. Baik Dika maupun Silvya tentu khawatir dengan sang putri. Tuduhan menyembunyikan buronan bisa saja mengenai Dita. Terlebih Dita adalah anggota militer, itu bisa menimbulkan banyak persepsi.


" Sayang, minta Drake untuk menghapus semua gambar yang menangkap kedekatan Dita dan pria itu."


" Tenang, aku sudah melakukan. Tapi bukan Drake yang melakukannya. Mr. Sun tentu lebih cocok untuk hal ini. " Dika menganggukkan kepalanya. Untuk urusan seperti itu memang Mr. Sun adalah ahlinya. Dika sungguh beruntung disekitarnya dikelilingi orang-orang yang baik. Mr. Sun aka Kai Bhumi Abinawa itu bahkan sudah dikenalnya puluhan tahun lamanya sejak pria itu berusia 6 tahun. Dan, hingga saat ini mereka masih berhubungan baik.


Tapi nampaknya keberuntungan yang dirasakan Dika berbanding terbalik dengan Alsaki. Kapten Alsaki Gyan Kalingga benar-benar memiliki kehidupan keluarga yang kurang baik. Hal tersebut semakin jelas saat ini.


Mengetahui Alsaki pergi bertugas, Bagio dan kedua anaknya mendatangi rumah Alsaki. Rupanya Bagio sudah mengintai rumah Alsaki sejak lama. Awalnya dia tidak tahu dimana keberadaan rumah putra sulung dari hasil pernikahan sebelumnya itu hingga ia mengikuti Alsaki pulang dari tempat kerjanya. Bagio mengeram marah saat melihat Alsaki tinggal di rumah yang tentunya lebih bagus dari rumahnya.


Ketiga orang itu melenggang dengan penuh percaya diri memasuki pekarangan rumah. Senyum ketiganya mengembang membayangkan apa yang akan mereka dapat dari dalam rumah tersebut.


" Ini rumah kalau di jual pasti lumayan mahal," ucap Resa memandang takjub rumah kakak beda ibu itu.


" Kau benar Res, semoga sertifikat rumahnya ada di dalam. Kalau kita nggak bisa jual kita kan bisa gadein, " imbuh Reno dengan mata berbinar.

__ADS_1


Bagio hanya menggelengkan kepala pelan. Tapi tentu saja ia suka dengan ide anak-anaknya itu. Bahkan Reno membawa sebuah alat untuk mencongkel pintu rumah Alsaki. Bagio dan Resa yang bertugas untuk melihat ke sekitar agar tidak dituduh sebagai pencuri, meskipun pada hakekatnya mereka memang mencuri. Bagaimana tidak, memasuki rumah tanpa izin saja sudah salah, ini mereka berniat mengambil apa yang ada di dalam rumah.


Brakk


Reno berhasil membuka pintu rumah Alsaki. Ketiganya langsung buru-buru masuk dan menutup kembali pintu tersebut. Mata Bagio melihat penuh ke kekaguman dengan isi rumah milik sang putra. Rumah minimalis bergaya amerika itu terlihat elegan. Perabot di dalamnya beruansa hitam dan sangat futuristik.


" Gilaaa ini keren banget," ucap Resa yang diikuti naggukan kepala Bagio dan Reno.


Masing-masing dari mereka menyusuri rumah Alsaki. Tidak terlaku besar memang tapi sungguh nyaman. Jika dibanding rumah mereka tentu lebih besar rumah Alsaki.


Resa memilih menuju ke dapur. Ia membuka lemari es yang ada di sana. Tampak kosong, bahkan tidak menyala. Resa berdecak kesal, ia lalu membuka satu persatu kitchen set yang ada di dapur itu dan ia tidak menemukan apapun.


" Huh, dasar kere. Masa ya tidak ada makanan atau apapun di dapur. Percuma dapur bagus begini tapi kosong mlompong."


Lain Resa lain pula Reno. Pria itu lnagsing menyasar kamar Alsaki. Ia membuka semua lemari yang ada di dalam kamar Alasaki. Tujuannya adalah menemukan sertifikat rumah. Tapi mungkin pola pikir kedua anak Bagio itu sama. Bagi Alsaki yang sering pergi meninggalkan rumah tentu tidka akan menaruh barang berharga nya di sana.


Tidak menemukan apa-apa, Reno mencari barang lain. Ia mendapatkan beberapa baju dan aksesoris milik Alsaki seperti jam tangan, sepatu, dan lainnya. Sebenarnya barang-barang itu tidak mahal tapi Reno tetap mengambilnya karena menurutnya apa yang dimiliki Alsaki pasti lebih berharga dan ia tidak bisa memilikinya. Saat hendak keluar kamar, satu sudut mata Reno menangkap sesuatu. Ia pun seketika menyeringai.


" Aku yakin kau akan meledak jika melihat ini rusak."


Rasa iri dalam diri pemuda itu sungguh membuatnya menutup seluruh mata hatinya. Alsaki kecil dulu selalu berusaha bersikap baik kepada Reno dan Resa. Dan mereka pun juga senang dengan keberadaan Alsaki masa-masa awal Alsaki baru datang. Tapi semuanya berubah karena Tanti menghasut kedua anaknya tersebut untuk memusuhi Alsaki.

__ADS_1


Anak adalah cerminan kedua orang tuanya, mungkin pepatah benar-benar seperti apa yang terjadi saat itu. Sikap Reno dan Resa menjadi buruk terhadap Alsaki. Mereka sering melakukan perbuatan kurang pantas kepada Alsaki seperti melempar barang dan berkata kasar. Persis seperti Tanti bersikap kepada Alsaki.


Satu dua kali Alsaki masih bisa menahannya. Hingga suatu hari Alsaki kecil merasa tidak tahan dan sebuah bogem mentah dilayangkan oleh Alsaki kepada Reno. Bahkan waktu itu Tanti kesulitan melerai hingga sebuah gagang sapu melayang ke tubuh Alsaki. Sakit? Pasti, tapi Alsaki sama sekali tidak menangis. Ia bangkit dan masih bisa menendang tubuh Reno saat itu.


Jika mengingat hal tersebut Reno sungguh kesal dan marah. Tapi pemuda itu sungguh pengecut, dia tidak berani melawan Alsaki. Dia hanya berani berkata buruk di belakang saja.


**


**


Ketiganya kembali berkumpul di ruang tamu. Mereka menggelengkan kepala mereka pelan sebagai tanda mereka tidak mendpaatkan apapun.


" Lalu apakah kita akan pulang dengan tangan kosong?" tanya Resa kepada kedua pria yang berdiri di depannya. Satu kakaknya dan satu lagi ayahnya, mereka benar-benar kompak dalam melakukan hal yang buruk.


Bagio mencoba berpikir saat mendapat pertanyaan dari Resa. Tentu mereka tidak boleh pulang dengan tangan kosong hingga sebuah ide masuk ke otak Bagio.


" Bawa saja yang bisa dibawa, itu ada televisi dan cari yang bisa di bawa. Ngapain juga itu barang-barang ada di rumah yang sering ditinggal pergi. Tidak manfaat bukan, maka lebih baik diambil saja. Jelas lebih manfaat untuk kita."


Reno dan Resa tersenyum, mereka kemudian melakukan apa yang dikatakan oleh Bagio.


Beberapa saat berlalu, dan mereka berhasil membawa beberapa barang dari rumah Alsaki. Ketiganya lumayan puas dengan hal tersebut meski tidak bisa menemukan tujuan utama nya. Bagio dan kedua anaknya keluar dari rumah Alsaki. Tidak lupa Bagio meminta Reno untuk mengembalikan kondisi pintu seperti semula. Mereka sungguh tidak tahu bahwa di beberapa tempat sudah Alsaki taruh kamera pengawas yang tentu merekam apa yang mereka bertiga lakukan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2