
Dor dor dor
Dari belakang arah depan Alsaki dan Dita, Brahma berlari sambil menembakkan senjatanya. Rupanya masih ada orang tersisa di sana.
" Ta, kamu nggak apa-apa."
Bruk
Dita terkejut saat tubuh Alsaki terjatuh di pelukannya. Ia meraba punggung pria itu. Basah, darah keluar dari sana. Telapak tangan Dita berwarna merah. Brahma pun juga terkejut. Yang tadi, ada dipikirannya adalah Dita yang terkena tembakan tapi rupanya bukan. Alsaki lah yang tertembak. Ia menggunakan tubuhnya menjadi tameng untuk Dita.
" Bang bangun! Bang bangun! Jangan bercanda! Sudah ku bilang jangan jadi sok pahlawan. Kapten Alsaki bangun!"
Air mata Dita berlinangan. Rasa sesak menghimpit dadanya dan ketakutan memenuhi pikirannya.
" Ta, tenang. Kita nggak boleh panik."
Dita meminta Brahma untuk menggantikan dirinya memangku kepala Alsaki. Gadis itu melihat sekeliling. Ia tentu ingat ada sebuah heli di sana. Dita langsung berlari menuju helikopter tersebut dan masuk ke dalam heli.
" Aku mohon menyala lah."
Dita berusaha untuk menyalakan helikopter tersebut. Bagaimanapun ia harus berhasil membuat benda itu menyala. Percobaan pertama dan kedua gagal. Tapi Dita tidak menyerah. Dilihatnya Alsaki yang tergeletak di depan sana membuat Dita kembali meneteskan air matanya. Namun segera mungkin ia menghapusnya. Dia tidak boleh lemah.
" Aku mohon menyala lah! Alhamdulillaah."
Helikopter tersebut menyala, baling-balingnya berputar dengan sempurna. Dita melirik bahan bakar yang ada di heli tersebut. Memastikan akan cukup untuk di bawa ke kota dimana rumah sakit besar berada.
" Cukup, aku yakin ini cukup."
Ini merupakan salah satu keahlian Dita yang lain. Ia memiliki sertifikat penerbang dan izin menggunakan pesawat terbang kecil salah satunya helikopter.
Melalui earphone nya ia meminta semua anggota tim Bravo untuk membawa semua nya ke heli. Mereka harus bergegas, kondisi Alsaki tentu sangat tidak baik. Pria itu terbukti kehilangan kesadarannya.
" Semua siap!"
__ADS_1
" Siap!"
Dita sejenak melirik Alsaki yang berada di pangkuan Brahma, air mata gadis itu kembali menetes namun dengan segera ia menghapusnya. Dalam hati Dita ia terus melantunkan doa agar Alsaki baik-baik saja.
" Apa yang ingin kamu katakan? Mengapa harus menggantung, dan apa ini kamu terbaring tak sadarkan diri. Lihat saja aku akan menghukum mu saat kau bangun nanti. Bisa-bisa nya kamu membuatku begitu khawatir."
Dita bergumam lirih, satu hal yang ada di bawah alam bawah sadarnya yakni dia begitu mengkhawatirkan Alsaki. Bahkan dia sempat kehilangan akal sehatnya saat telapak tangannya berlumuran darah. Ada rasa ngilu dihatinya. Rasa takut kehilangan menggelayut dalam diri Dita.
Brahma menatap wajah Alsaki lekat. Pria tu sungguh tahu seberapa besar cinta Alsaki terhadap Dita, dan semua terbukti saat ini. Klise memang, tapi hasrat ingin melindungi orang yang dicinta memang membuat seseorang mengesampingkan pikiran logis mereka.
" Al aku harap kamu akan hidup lebih baik nanti."
Doa Brahma tulus. Brahma menjadi satu-satu nya orang di tim Bravo yang mengerti segala kesusahan hati Alsaki. Banyak cerita yang diterima oleh Brahma dari anak itu. Terlebih cerita mengenai keluarga nya yang tidak pantas disebut keluarga. Sesungguhnya harapan Brahma besar terhadap Dita. Jika Dita bisa menerima Alsaki, Brahma yakin Alsaki akan menemukan hangatnya keluarga.
Reputasi keluarga Dwilaga tentu sudah banyak diketahui oleh banyak orang. Terlebih circle mereka juga bukan circle pertemanan yang biasa saja. Keluaga Dwilaga bersama keluarga Joyodiningrat, Dewantara, dan Singh tentu memiliki pengaruh besar. Kalau Kita netizen adalah circle yang tidak mudah ditembus, terlebih untuk orang-orang yang hanya ingin mendompleng ketenaran.
Brahma melirik ke arah Dita yang tengah berkonsentrasi dengan kemudinya. Harapan besar benar-benar ia gantungkan kepada gadis itu. Bukan untuk mengangkat derajat Alsaki, tapi untuk memberikan keluarga yang hangat. Hidup Alsaki sudah dingin sedari dia masih kecil. tapi satu hal yang Brahma syukuri, mental Alsaki selalu aman. Dia tidak pernah lepas kendali jika menghadapai keluarganya.
Sekitar satu jam perjalan udara. Dita lantas mendaratkan heli nya tepat diatas helipad sebuah rumah sakit. Sebelumnya dia sudah menghubungi Ahmad. Rekannya itu tentu langsung menghubungi pihak rumah sakit agar bersiap menerima 6 pasien. Dita tidak menjelaskan secara rinci mengenai apa yang terjadi di wilayah tersebut. Satu hal yang Dita katakan yakni misi selesai dan rekan mereka semuanya kembali meski mengalami luka.
Dita mematikan heli tersebut dan turun dari sana. Ahmad memberi hormat lalu mengucapkan terimakasih. Dita hanya mengangguk sejenak, kemudian ia langsung berlari menyusul Alsaki yang sudah dibawa oleh tim medis.
Dari kesemua yang terluka tentu luka Alsaki lah yang paling parah. Tembakan itu mengenai punggungnya. Beruntung bukan di sisi sebelah kiri. Akan tetapi pendarahan hebat juga terjadi.
" Kami butuh darah golongan A+."
" Saya dok."
Apakah ini yang namanya kebetulan? Entahlah tapi Dita tersenyum saat mengetahui golongan darahnya dengan Alsaki sama. Hal tersebut tentu memudahkan profes operasi pengeluaran peluru dari dalam tubuh Alsakai. Kata dokter yang menangani, peluru yang bersarang dalam tubuh Alsaki tidak mengenai organ vitalnya. Semua orang bernafas lega mendengar hal tersebut.
" Alhamdulillaah, aku mikirnya bakalan ada kejadian kayak yang di drama-drama itu. Female lead nya akan nangis-nangis karena male lead nya kritis."
Plak
__ADS_1
Satu keplakan tangan mendarat di kepala Indra oleh Adyaksa. Bocah itu seperinya lupa bahwa kemarin ia juga sempat membuat semua orang khawatir saat dirinya terkena luka tembak.
" Kamu ini lho," ucap Adyaksa menggantung.
" Kenapa bang?" tanya Indra penasaran dengan apa yang akan dikatakan Adyaksa selanjutnya.
" Klau ngomong kadang suka bener."
mereka sontak tertawa. Indra pikir dirinya akan kena omel, tapi rupanya tidak. Terkadang situasi yang seperti sekarang ini memang harus dihadapi dengan sedikit santai agar tidak menambah kegelisahan. Padahal dalam hati setiap tim Bravo merasa kekhawatiran yang luar biasa. Namun mereka bisa tidak menampilkan di wajah mereka.
Waktu berlalu begitu cepat, operasi sudah selesai dilakukan. Kondisi Alsaki sangat stabil. Tapi karena pengaruh anestesi membuat pria itu belum sadarkan diri. Setelah melakukan kewajiban 2 rakaat yang lumayan banyak tertunda, Dita menunggui Alsaki. Ia harus memastikan Alsaki baik-baik saja.
Sebagai atasan tentu itu hal yang harus dia lakukan. Tapi apakah benar hanya sebatas tanggung jawaban atasan terhadap anggotanya? hanya hati Dita yang tahu.
Dita menggenggam tangan Alsaki dengan erat. Tidak disadari gadis itu tertidur dengan posisi duduk dan kepala berada di hospital bed. Mungkin Dita kelelahan, bagaimanapun mereka semua memang tidak tidur semalaman. Anggota tim Bravo yang lain oleh Dita sudah diminta untuk beristirahat. Awalnya Brahma menawarkan diri untuk menjaga Alsaki tapi oleh Dita ditolak. Ia ingin menjaga Alsaki sendiri.
Alsaki mengerjapkan matanya. Ia melihat dadanya terbungkus perban. Pria itu mendengus saat mengingat apa yang terjadi. sebuah umpatan kecil pria itu lontarkan.
" Sial, gara-gara tembakan itu aku jadi gagal mau ngomong sama Dita. Dita? Eh?"
Alsaki baru sadar bahwa Dita berada disebelahnya tertidur. Tangannya yang dikepal oleh Dita pun ia tarik dengan perlahan agar tidak membuat gadis itu terbangun. Alsaki lalu mengusap kepala Dita dengan lembut.
" Bang, apa sudah sadar? Apakah ada yang sakit? perlu ku panggilkan dokter?"
Tak disangka Dita langsung terbangun saat Alsaki membuat gerakan. Dita yang hendak beranjak pun tangannya ditarik oleh Alsaki.
" Aku tidak apa-apa, duduk dan diamlah di sini. Ada yang mau aku sampaikan."
Dita menurut. ia kembali duduk ditempatnya semula. Gadis itu menatap Aslaki dalam.
" Ta, aku tidak mau melewatkan kesempatan lagi. Letnan Kolonel Nandita Jyotika Lagford, saya Kapten Alsaki Gyan Kalingga mencintai Anda dengan sepenuh hati saya."
TBC
__ADS_1