
Apel pagi berjalan dengan lancar dengan Dita sebagai pemimpinnya. Semua pun kembali ke pekerjaan masing-masing. Alsaki yang bersiap untuk berbicara dengan Dita untuk mengungkapkan perasaanya sepertinya harus mengurungkan niatnya. Pasalnya Dita kembali dipanggil atasan.
" Al, apa Dita semalam ke rumah?"
Pertanyaan Brahma dijawab dengan ekspresi kening yang berkerut oleh Alsaki. Rupanya Brahma lah yang meminta Dita untuk datang. Alsaki lalu mengiyakan pertanyaan Brahma.
" Semalam aku ditelpon Dita katanya kamu demam. Bukannya pas kita pulang kamu nggak apa-apa ya?"
" Iya pas pulang emang aku nggak apa-apa bang. Tapi malamnya memang demam. But now, sekarang udah oke kok."
Alsaki tampak menjawab dengan tenang. Tapi Brahma menaruh kecurigaan kepada kaptennya itu. Sedari tadi cara menatap Alsaki kepada Dita sungguh lain dan tidak seperti biasanya. Pun dengan Dita, Dita selalu berusaha menghindari kontak mata dengan Alsaki.
" Gue ngerasa nih dua orang ada apa-apa semalem. Aneh banget sikap mereka."
Di dalam ruangan sang atasan, Dita tampak duduk dengan tenang. Kolonel Hendar Umbas yang tadi masih sedikit sibuk du meja kerjanya kini berjalan menghampiri Dita dan duduk di depan gadis itu. Raut kekaguman jelas terpancar dari wajah sang kolonel. Akan tetapi tampaknya pria paruh baya itu sedang ada yang dipikirkan. Kolonel Hendar membuang nafasnya kasar.
" Letnan Kolonel Nadita, sebenarnya berat bagi ku untuk mengatakan ini. Belum lama kamu melaksanakan tugas, tapi sepertinya kali ini aku haruslah mengirim mu dan tim mu untuk kembali melakukan tugas."
" Kami siap pak. Sebagai abdi negara maka NKRI harga mati untuk kami. Apapun tugas yang diberikan kami siap."
" Haaah, baiklah. Hari ini persiapkan tim mu. Kalian akan berangkat ke daerah timur negara kita. Kamu pasti sudah tahu tempat mana yang ku maksud."
Dita tentu paham kemana kali ini mereka akan pergi. Tempat dimana konflik masih terjadi di negara yang sudah lama merdeka. Namun, bagi sebagian kelompok ternyata mereka belum mengakui hal itu dan masih ada beberapa kelompok pemberontak yang ada di daerah tersebut. Tujuan mereka sama yakni ingin memerdekakan wilayahnya. Dan andai kalian tahu, tak sedikit abdi negara yang gugur di sana.
Dita pernah melihat salha satu dinding di akademi militer, dimana di sana terdapat foto-foto rekannya yang gugur di medan perang. Dan mungkin masih banyak lagi yang lain.
__ADS_1
Dita memberi hormat kepada Kolonel Hendar Umbas. Atasannya itu mengatakan untuk selalu berhati-hati dan waspada. Dita mengangguk. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menuliskan pesan di grup Tim Bravo untuk berkumpul di salah satu ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat. Semua pun langsung bergegas ke tempat yang dimaksud.
" Baiklah, ada hal yang harus saya sampaikan kepada kalian semua. Kolonel Hendar Umbas tadi memanggil saya untuk memberikan tugas. Kita akan dikirim ke daerah timur negara kita ini. Jadi kalian bersiaplah. Kolonel Hendar juga memberikan kita izin untuk pulang dan bersiap. Besok sekitar pukul 5 pagi kita akan berangkat. Apa kalain mengerti!"
" Siap mengerti!"
Kelima anggota tim Bravo memberi sikap tegak dan hormat kepada Dita. Dita pun berlalu dari ruangan tersebut untuk mengurus sesuatu. Sedangkan kelima anggota Dita mulai bersiap pulang.
Alsaki menghela nafasnya, tampaknya niatnya untuk mengungkapkan isi hatinya harus urung. Tentu tugas negara lebih penting dari pada apapun bagi mereka.
" Aku akan mengatakannya nanti setelah kita selesai bertugas. Ta, aku harap itu belum terlambat."
🍀🍀🍀
16 jam perjalanan di tempuh Khaleed dari Indonesia ke negara I. Tampak Odion sudah ada di penjemputan. Mereka langsung bergegas menuju ke markas.
Khaleed membuang nafasnya kasar. Butuh effort lebih lagi untuk merampungkan permasalahan ini. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dita. Tapi sambungan telpon tersebut tidak terjawab. Khaleed hanya mendengus. Jalinan cinta yang masih belum kuat itu membuatnya meragu.
" Apa kau bisa menungguku Ta," gumam Khaleed pelan. Pria itu melihat ke arah luar jendela sambil menghembuskan nafas nya kasar. Sejenak Khaleed memejamkan matanya ia tengah berpikir apa yang harua ia lakukan. Ia ingin semuanya cepat selesai tapi tentu saja dia tidak boleh gegabah.
" Odion, ubah arah tujuan. Aku mau ke gudang."
" Baik!"
Odion memutar arah perjalanan menuju gudang mereka yang terbakar. Pria itu merasa senang Khaleed tampak bersemangat.
__ADS_1
Ciiiit
Odion menghentikan mobilnya tepat di depan gudang. Khaleed langsung turun dan masuk ke dalam gudang. Pria itu mencoba menelisik ke seluruh sudut gudang. Ia yakin kebakaran itu bukanlah kecelakaan tapi disengaja.
" Sebenarnya aku mencurigai seseorang, tapi setelah ku selidiki orang tersebut bersih Ed."
" Tenang saja dulu. Ini adalah kesengajaan, aku akan menemukan orang itu."
Odion mengangguk. Ia yakin Khaleed bisa melakukannya. Khaleed terus berjalan diantara puing-puing bekas kebakaran hingga ia berhenti di sebuah tempat. Tempat itu adalah pusat kendali listrik. Ia lalu membukanya, dan satu hal membuatnya tersenyum.
" Mari kembali ke markas."
" Eeeh sudah memang?"
Bukannya menjawab khaleed hanya melempar senyum ke arah Odion. Pria berusia 40 tahun yang amat sangat cerewet tapi tidak dipungkiri bahwa ia menyayanginya. Odion bukan hanya sekedar tangan kanan Khaleed, pria itu sudah seperti kakak bagi Khaleed.
Di sisi lain seseorang tampak cemas saat mengetahui kabar kepulangan Khaleed. Ada dua hal yang harus dia lakukan. Jika tidak ingin tertangkap maka dia harus segera pergi dari tempat itu, tapi jika dia pergi maka dia tidak akan bisa melihat wajah Khaleed. Dia membutuhkan itu untuk menyebarkan ke dunia maya agar Khaleed segera bisa ditangkap.
" Sial, apa yang harus ku lakukan sekarang. Tunggu mengapa aku begitu takut bahkan dia pun belum tantu langsung tahu bahwa aku yang sengaja membakar gudang miliknya. Aku harus bersikap tenang."
Brandon Akinston, seorang anggota kepolisian negara itu yang sengaja menyusup ke tempat Vugel Ceilo. Ia mendapatkan tugas dari atasannya untuk mencari tahu siapa pemimpin Vugel Ceilo. Mereka sangat dirugikan dengan adanya Vugel Ceilo yang menjual obat-obatan terlarang dan senjata api dengan bebas. Kasus penembakan sering terjadi dan banyak remaja mengalami ketergantungan obat-obat terlarang. Terlebih obat terlarang yang dijual oleh Vugel Ceilo adalah sejenis obat terlarang yang mengakibatkan penggunanya berhalusinasi tinggi.
Bukan hanya itu mereka juga berperilaku aneh. Seperti zombie kalau kata mereka. Jika mereka ketergantungan, mereka akan meraung dan mencoba untuk menyerang orang yang ada di dekatnya. Entah dari mana Vugel Ceilo mendapatkan obat-obatan itu, hingga 3 bulan berada di sana Brandon tak juga mengetahui informasinya. Ia hanya bisa melakukan trik paling mudah untuk membuat gangster tersebut merugi.
Lamunan Brandon seketika buyar saat ia melihat Odion datang dengan seorang pria. Dilihat dari cara berjalan dan aura yang muncul, Brandon yakin itu adalah Khaleed, orang yang selama ini menjadi buron.
__ADS_1
" I got you."
TBC