Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 46. Sendiri Lagi


__ADS_3

Tanti pulang dari kantor polisi dengan membawa kemarahannya. Ia sungguh sangat benci dengan Alsaki. ia merasa semua kesialan dalam hidupnya adalah ulah dari Alsaki.


" Mengapa tidak ku habisi saja dulu dia bersama ibu nya. Dasar anak sialan. Aku sungguh harus menghancurkannya. Anak-anak ku tidak bahagia maka aku pun akan membuat dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sampai kapan pun."


Tanti benar-benar tidak sadar dengan semua hal yang sudah menimpanya. Apa yang didapat dengan tidak baik pasti hasilnya tidak baik juga. Ibarat menanam biji busuk maka niscaya samapi kapanpun biji itu tidak akan pernah bertunas sampai kapanpun.


Ia mengomel sepanjang jalan, bahkan saat naik ojek online pun dia terus mengomel. Kang ojek yang mengambil orderan Tanti pun sedikit merasa takut. Ia pikir penumpangnya itu adalah orang yang stres.


" Maaf bu, sudah sampai."


" Oh sudah sampai ya, ini ongkosnya."


Kang ojek itu langsung ngibrit saat sudah menerima bayarannya. Sedangkan Tanti ia langsung masuk dan mencari sesuatu. Pertama dari lemari dulu yang ia obrak-abrik, lalu tas yang biasa dibawa oleh Bagio hingga dompet bagio yang memang tertinggal di rumah.


Tidak juga menemukan apa yang dicarinya Tanti kemudian duduk sejenak di kursi depan televisi. ia berpikir dima kira-kira bagio menyimpan buku yang biasa digunakan untuk mencairkan dana pensiun istri pertamanya itu. Satu hal sebelum ia bisa membalas apa yang Alsaki lakukan kepada kedua anaknya adalah mengambil buku pencarian dana pensiun yang selama ini disimpan Bagio.


Tanti tampaknya lupa atau memang dia tidak tahu bahwa jika bukan anggota keluarga maka tidak bisa mengambilnya. Terlebih Tanti bukan siapa-siapa. Status pernikahannya dengan Bagio tidaka tercatat juga di KUA.


Semakin dia memikirkannya semakin tidak tahu dimana bagio menyimpannya. Tanti akhirnya menyerah. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk mengeluarkan Reno dan Resa. Tapi ada satu hal yang wajib ia lakukan yakni membuat Alsaki menderita juga.


" Aku akan mendatangi tempa kerja anak sialan itu lalu mengatakan bahwa dia dengan tega menjebloskan bapak dan adik-adiknya ke penjara. Aku yakin semua orang akan berpandangan buruk terhadapnya dan karirnya akan hancur."


Akan tetapi tanti tidak akan melakukannya sekarang. ia membutuhkan waktu untuk beristirahat dulu. Ia tentu harus tampil prima agar drama yang akan dia buat berhasil besok.


Jika Tanti tengah kisruh dengan pikirannya hal terjadi berbalik di markas. Benar kata Kolonel Hendar, sebuah panggilan dari pimpinan tertinggi mereka bahwa Alsaki akan mendapatkan kenaikan pangkat. Semua anggota tim Bravo bersorak gembira. Pun dengan Dita, tentu Dita sudah menduga ini.


" Selamat bang Al"

__ADS_1


" Selamat Al."


Ucapan selamat diterima Alaski dari seluruh anggota tim dan rekan prajurit yang lain. Siang ini Alaski diminta langsung menghadap.


" Jangan begitu mukanya, tampilkanlah wajah bahagiamu Kapten Alsaki," bisik Dita tepat di telinga sang kekasih.


Alsaki menoleh Dita sejenak, pria itu langsung menampilkan deretan gigi-giginya ke arah Dita. Dita hanya terkekeh geli. Itu bukanlah senyuman tapi cengiran.


Sungguh Aslaki tidak merasa puas dengan kenaikan pangkat nya kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah diatur sedemikian rupa. Satu hal yang pasti jika pangkatnya naik maka ia akan menerima kenaikan gaji juga. Tentu itu adalah hal yang bagus untuk menambah bekal membina rumah tangga bukan?


Selepas ibadah zuhur Alsaki menemui Kolonel Hendar. Sang atasan lah yang akan menemani Alsaki menerima pangkat barunya. Ada rasa sedih, bahagia sekaligus haru saat Alsaki menerima pergantian tanda di pundak kanan dan kirinya.


Mayor Alsaki Gyan Kalingga, itulah dia sekarang. Air matanya luruh. Sebuah tepukan di bahunya membuat Alsaki kembali berdiri tegap. Ia memberi hormat kepada petinggi yang memberinya tanda tersebut.


" Bu, lihatlah Al bisa sampai di sini. Jika ibu masih ada pasti ibu akan bangga dengan Al bukan? Dan semua ini adalah campur tangan dari calon menantu ibu dan calon besan ibu. Keluarga mereka sungguh baik bu. Jika ibu masih ada ibu pasti akan senang berbicara dengan Dita dan Mama Silvya."


Tapi tampaknya kali ini lain. Di halaman kantor Alsaki disambut Dita, Silvya juga Dika. Dita membawa sebuket bunga untuk diserahkan kepada Alsaki. Gadis itu berlari dna langsung memeluk Alsaki. Alsaki tentu kikuk Dita melakukan itu di depan kedua orang tuanya. Terlebih tatapan tajam Dika seakan menembus jantungnya.


" Selamat abang!" Sepertinya Dita tipe bucin jika sudah menemukan orang yang benar-benar mengisi hatinya.


" Iya terimakasih. Tapi jangan pake acara peluk-peluk. Kamu nggak lihat papa mu melotot begitu." Alsaki berbisik kepada Dita. Dita pun langsung menoleh ke belakang, dan benar saja papa nya melotot tajam. Dita hanya tersenyum kecil ke arah sang papa.


" Mas, sudah. Kendalikan tatapanmu itu. Ngeri tahu."


" Haish, begini amat punya anak cewek. Dah lah, mereka suruh buruan ngurus pernikahan dinas mereka. Biar aku ngerasa tenang."


Silvya terkekeh melihat sang suami yang sepertinya begitu stres mau mengantarkan putrinya ke gerbang pintu pernikahan. Sedangkan Dita yang akan menjalaninya saja terlihat begitu santai.

__ADS_1


Alsaki lalu berjalan menghampiri Dika dna Silvya. Ia lalu mencium tangan kedu orang tua Dita bergantian. Rasa haru itu kembali membuncah. Baru kali ini ada orang yang menunggunya dna memberi selamat atas keberhasilannya.


" Kenapa?" Silvya bertanya kepada Alsaki saat melihat ekspresi Alsaki yang hampir meneteskan air matanya.


" Saya hanya terharu. Selama ini tidak ada yang memberi saya selat di setiap keberhasilan saya. Hanya kakek dan nenek itu pun melalui panggilan telepon karena beliau berdua sudah tua."


Silvya tersenyum ia lalu menepuk bahu lebar Alsaki pelan. Ia tentu bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Alsaki.


" Mulai sekarang kami juga orang tuamu."


Kata-kata Dika membuat hati Alskai menghangat. Bahagia kah dia? Tentu, Alsaki sungguh sangat bahagia. Bertemu dengan Dita dan keluarganya membuat Alsaki merasa memiliki keluarga.


Acara kenaikan pangkat Alsaki berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Keluarga Dita membawa Alsaki untuk merayakannya. Tadinya Alsaki menolak tapi atas perintah Dika akhirnya pria itu menurut. Soul restoran menjadi pilihan Silvya untuk acara makna siang mereka yang lumayan tertunda. Beberapa menu di pesan. Dan tak berselang lama semua makanan tersaji di meja. Baru juga Dita dan Alsaki hendak mengambil makanan ponsel keduanya berdering.


" Maaf dokter Dika, Nyonya Silvya saya harus pamit undur diri. Ada sesuatu yang penting. Terimakasih untuk jamuan makannya."


" Ma, pa, Dita juga harus pergi. Mama dan papa lanjutkan berdua ya."


Dika dan Silvya hanya melongo menyaksikan anak dan calon menantunya itu pergi. Baru juga mau menikmati makan bersama tapi tampaknya tugas harus segera dikerjakan.


" Haish, begitukah para prajurit pasukan khusus. Eh sayang maaf ini panggilan dari IGD sepertinya kau juga harus pergi. Love you."


Dika yang tadinya menggerutu karena Dita dan Alsaki yang pergi mendadak rupanya dia pun sama. Setelah mencium kening sang istri, Dika pun langsung bergegas pergi.


" Haish, sendiri lagi. Terus makanan sebanyak ini masa iya aku harus menghabiskan sendiri. Sepertinya aku harus memanggil Jani dan para menantu Dwilaga untuk menemaniku disini."


TBC

__ADS_1


__ADS_2