
Semua mengerti apa maksud Dita. Dita menjelaskan secara rinci mengenai situasi dan kondisi di daerah tersebut. Mereka diberi waktu beberapa hari untuk mempersiapkan keberangkatan.
Ada sesuatu yang membuat Dita membuang nafasnya kasar. Ia memang belum mengatakan kepada tim kapan tepatnya mereka akan berangkat. Saat ini Dita bersama Alsaki sudah ada di dalam mobil untuk kembali ke rumah Dita. Mereka meninggalkan anggota tim yang lain di rumah Alsaki.
" Ta, ada apa sih. Dari tadi kayak ada yang dipikirin." Alsaki sungguh penasaran dengan apa yang dari tadi Dita sembunyikan. Ia yakin Ada yang mengganggu pikiran Dita.
" Huft, ini soal waktu keberangkatan kita misi kita kali ini. Kata bos, ini akan jadi tugas terakhirku sebagai ketua tim Bravo. Sungguh aku tidak masalah permasalahannya tugas tersebut berangkat pas hari pernikahan kita."
" He???"
Alsaki langsung menepikan mobilnya dan menepuk keningnya sendiri sedikit lebih kencang. Pantas saja dari tadi Dita merasa terbebani. Dita sudah mempersiapkan sebuah pernikahan yang jadi impian gadis itu. Dan semuanya sekarang harus dibatalkan.
Dita memanyunkan bibirnya, terlihat sekali dia sangat kesal. Tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur. Hal yang harus keduanya lakukan adalah menyampaikan hal ini kepada keluarga Dita dan membatalkan beberapa vendor yang sudah mereka hubungi. Beruntung baik Dita maupun Alsaki tidak menyebar undangan karena cukup keluarga dan teman dekat yang mereka undang.
Kini keduanya sudah duduk di ruang tamu rumah Dita. Di depan mereka sudah ada Dika dan Silvya. Dita mengambil nafasnya dalam-dalam dan mulai menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Dika dan Silvya mendengarkan dengan seksama. Tapi tidak ada rasa keterkejutan dari mereka seakan semuanya biasa saja.
" Jadi kalian hanya akan menikah di KUA begitu?" Tanya Dika setelah putrinya menyelesaikan ceritanya.
" Iya pa, soalnya hari itu juga kami harus berangkat."
Dika mengangguk paham. Pria paruh baya itu lalu mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu kemudian mengirimkan kesemua kontak di aplikasi berbalas pesan.
" Mas ngapain barusan?" Silvya bertanya kepada sang suami. Pasalnya Dika begitu serius dengan pinselnya.
" Hanya memberitahu semua orang kalau kita tidak jadi mengadakan syukuran dan Dita hanya akan menikah di KUA saja. Tapi yang jadi saksi tetap harus datang."
Silvya mengangguk mengerti. Mereka tentu harus mengabarkan hal tersebut segera agar semuanya tidak bertanya dan berpikir pernikahan Dita akan gagal.
Alsaki dan Dita bernafas lega. Dika dan Silvya sepertinya benar-benar tidak mempermasalahkan hal tersebut.
***
Di dalam sel penjara Bagio termenung. Pria itu menekuk lututnya dan meletakkan dagunya di kedua lututnya tersebut. Tatapnya kosong, dan seakan telinganya tuli. Sedari tadi namanya dipanggil oleh sipir rutan Bagio tak menyahut.
" Hei, kamu dipanggil itu. Katanya ada yang ingin menemui mu." Salah satu teman satu sel Bagio menggoyangkan tubuh Bagio dan membuat pria paruh baya itu seperti tersadar dari lamunannya.
" Eh iya kah."
__ADS_1
Bagio bangkit dari duduknya dan mengikuti sipir penjara ke tempat dimana biasa pafa tahanan mendapatkan kunjungan.
Bagio sedikit terkejut saat Alsaki sudah duduk menunggunya di sana bersama seorang gadis. Bagio pun langsung duduk. Sungguh ia baru merasakan rindu saat ini dengan putra nya tersebut. Putra yang lebih dari 20 tahun tidak pernah ia lihat dan selalu ia abaikan. Rasa bersalah memenuhi hatinya.
" Pak, saya kemari ingin memberitahu bahwa besok saya akan menikah dengan wanita pilihan saya namanya Dita."
Alsaki mengatakan maksud kedatangannya dengan to the point. Tanpa menanyakan kabar, tanpa menanyakan keadaan sang ayah. Ia sendiri sebenarnya bingung mau bicara apa. Pada dasarnya dia memang jarang sekali bicara dengan Bagio.
" Perkenalkan paman, nama saya Dita. Saya adalah calon istri Bang Al. Kami kemari untuk memohon doa restu kepada paman untuk pernikahan kami besok. Semoga paman merestui kami."
Bagio hanya mengangguk, sungguh ia pun tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya luruh, lidahnya kelu hanya untuk sekedar mengucapkan kata selamat.
Namun Bagio berusaha untuk mengatakan apa yang sudah ia pendam selama ia mendekam di rutan. Meskipun dengan terbata, pria itu akhirnya berhasil juga membuka mulutnya.
" Selamat Al dan maaf, selama ini bapak banyak salah sama kamu. Semoga pernikahan kalian samawa."
" Terimakasih paman untuk doanya."
Waktu kunjung mereka habis. Bagio dibawa kembali masuk ke dalam rutan. Sedangkan Dita dan Alsaki berjalan keluar dari kantor polisi. Alsaki menghela nafasnya. Dita yang melihat hal tersebut memilih diam. Ia yakin hati Alsaki saat ini pasti sedang berkecamuk. Dita bisa tahu saat Alsaki sedari tadi hanya diam setelah mengutarakan maksud kedatangannya.
***
" Mereka belum datang. Bentar lagi katanya. Baru laporan ke kantor."
Nataya mengangguk, sungguh aneh yang mau menikah malah belum sampai di lokasi sedangkan saksi dan kerabat sudah siap di sana.
15 menit bwrlalu. Sebuah mobil jip berwana hijau khas milik anggota tentara berhenti. Dari dalam mobil keluar 6 orang berseragam tentara lengkap.
Beberapa orang tentu terkejut melihta Dita diantara mereka juga mengenakan pakaian yang sama. Pasalnya hari ini Dita akna menikah, mereka berpikir Dita akan memakai kebaya layaknya pengantin.
" Udah jangan pada heran. Dulu aku nikah sama Silvya juga nggak pake baju pengantin. Malah aku pakai baju operasi."
Semua anggota keluarga Dwilaga hanya menepuk pelan kening mereka mendengar penuturan Dika. Rupanya ini yang dinamakan like parents like daughter. Silvya pun hanya tersenyum simpul saat sang suami mengatakan hal tersebut.
" Ma, pa. Ayo kita mulai. Setengah jam lagi kami harus berangkat."
Suara Dita membuyarkan keheranan semua orang. Mereka memasuki sebuah ruangan yang disediakan untuk melangsungkan akad pernikahan.
__ADS_1
Sang penghulu pun dibuat terkejut melihat kedua calon pengantin yang menggunakan seragam tentara. Ingin bertanya tapi ia sudah diburu-buru oleh Dita.
" Baik mari kita mulai saja. Silahkan Pak Dika dan nak Alsaki saling berjabat tangan."
Meskipun terlihat garang saat mengenakan seragam, nyatanya Alsaki benar-benar gugup saat ini. Ia bahkan mengeluarkan keringat dingin saat menjabat tangan sang calon papa mertua, otewe mertua sih sebentar lagi.
Dengan satu tarikan nafas Alsaki mengucapkan kata akad yang membuat keduanya resmi sebagai suami istri.
" Saya terima nikah dan kawinnya Nadita Jyotika Lagford binti Radika Tara Dwilaga dengan mas kawin tersebut tunai!"
Kata sah bersamaan diucapkan, sebuah doa dilantunkan oleh masing-masing orang yang ada di sana. Hal selanjutnya yakni menandatangi buku nikah. Mereka lalu menerima ucapan selamat dari semua orang.
Dita meraih tangan Alsaki lalu menciumnya dan Alsaki mencium kening Dita sejenak. Sungguh ia sangat bahagia. Mendapatkan Dita sebagai istrinya hampir menjadi hal yang tidak mungkin baginya. Namun semua kini terbukti bahwa Tuhan memang memiliki hak untuk menentukan takdir setiap orang termasuk dirinya.
Apakah ini akhir dari kisah cinta sangg letnan? Sepertinya begitu, hati Letnan Dita ternyata berlabuh pada Mayor Alsaki. Hal yang tidak pernah keduanya kira sebelumnya. Dita yang terlibat cinta sesaat dengan sang anggota gangster buronan interpol nyatanya hanya sekedar lewat saja. Hati yang sebenarnya telah berlabuh pada sang rekan kerja.
Keduanya kemudian kembali menuju mobil, di sana sudah menunggu Brahma, Adyaksa, Ekadanta dan Indrajaya. Mereka siap menjalankan tugas negara yang berada di depan mata. Tiada henti bagi seorang anggota militer untuk mengemban tugas. Bagi mereka tugas adalah diatas kepentingan pribadi. Seperti halnya Alsaki dan Dita. Meskipun mereka baru saja menikah tapi tugas utama telah memanggil. Terlebih mereka adalah sebuah pasukan khusus. Tugas yang diemban harus segera diselesaikan.
" Apakah semuanya siap!"
" Siap Letnan!"
Mobil jip itu berjalan semakin menjauh. Tim Bravo siap menjalankan tugas yang diberikan. Tidak ada ragu dalma hati mereka. Pun dengan Dita dna Alsaki tangan mereka bertaut dan saling menggenggam. Cinta keduanya juga bagian cinta kepada negara mereka.
...SELESAI...
Hai, kelar ya akhirnya Dita . Kalau ada yang nanya kok gantung sih Tor. Enggak ya, dalam dunia real namanya tentara nggak akan habis tugasnya. Sama dengan Dita dan Alsaki. Tugas mereka tidak akan habis. Di cerita Othor ini kan yang dibahas bukan sepenuhnya tugas militer tapi kemanakah hati Letnan Dita berlabuh dan tentu saja hati Dita sudah berlabuh pada Alsaki.
Jadi cerita selesai di sini. Yang ngikutin Othor pasti sudah paham lah ending cerita othor heheh.
Inga-inga, tidak semua karya novel harus berakhir dengan hamil lalu melahirkan. Dan setiap penulis punya ciri khasnya masing-masing. So, kalau ada yang bilang cerita othor selalu menggantung mungkin bisa dibaca ulang sinopsisnya atau inti ceritanya. Kalau readers ketemu inti ceritanya pasti nggak akan bilang gitu.
Pembaca othor yang udah ngikutin othor dari awal pasti udah hapal sama endingnya othor.
Lop yu all readers, karena kalian aku kuat. See you again guys.
Entah kapan lagi aku bikin new story . Bye bye.
__ADS_1
...Salam Hangat...
...AUTHOR IAS...