
Suasana rumah tersebut menjadi begitu hening setelah Alsaki mengatakan maksud kedatangannya. Dika seketika terdiam begitu juga dengan Nataya. Ada sedikit rasa terkejut saat mendengar bungsu di keluarga ini tiba-tiba ada yang meminta. Padahal Dika sudah menyiapkan untuk hal ini. Cepat atau lambat bukan kah dia juga akan menikahkan Dita? Aaah tapi rasanya saat Alskai mengatakan hal tersebut Dika seketika belum siap.
Lain papa lain pula mama. Silvya tersenyum lebar. Jika sang suami sudah ikhlas maka tidak lama lagi keluarganya akan 'mantu'. Silvya tentu setuju-setuju saja dengan Alsaki. Pemuda itu memiliki aura yang baik. Sering menghadapi banyak orang, dari dunia gelap hingga dunia terang, dari para penjahat hingga para orang baik, tentu ia bisa tahu ketulusan Alsaki.
Meskipun keluarga Alsaki adalah keluarga yang bisa dikatakan berantakan tentu itu bukan jadi masalah. Tanpa sepengetahuan Dita, Silvya sudah mencari tahu mengenai Alsaki. Dan, ibu dua anak cukup mantab jika Alsaki mejadi suami dari putrinya.
" Apa yang kau katakan se~"
" Bentar pa, Dita harus bicara dulu sama Bang Al."
Dika hanya melongo melihat Alsaki yang ditarik paksa oleh sang putri. Putrinya itu membawa Alsaki keluar rumah. Tampak dari dalam rumah Alsaki dan Dita tengah berbicara serius.
" Gimana pa?" tanya Nataya kepada sang ayah.
" Kita lihat nanti. Kalau memang sudah serius ya mau gimana lagi. Kita nikahkan adikmu itu."
Nataya meragukan jawaban papa nya. Dilihat dari wajahnya, Dika seperti masih belum rela melepas putri bungsunya. Sedangkan di luar, Alsaki dan Dita sedang berdebat.
" Abang apa an sih. Kok tiba-tiba ngelamar tanpa warning dulu ke aku."
" Laah kan sudah dari saat kita tugas aku mengatakan ingin menemui kedua orang tua mu. Kenapa, kamu nggak mau nikah sama aku?"
" Bu-bukan begitu, aku, itu, tapi, aaah bingung kan jadinya."
Dita mengacak rambut pendek sebahunya dengan begitu frustasi. Apa yang dikatakan Kolonel Hendar kembali terngiang oleh Dita. Alsaki langsung bisa melihat ekspresi Dita yang tampak kebingungan itu.
" Apa ada yang ingin kamu katakan? Apa ada yang kamu sembunyikan?"
__ADS_1
Dita langsung terduduk lemas di kursi yang ada di taman samping rumahnya. Tampaknya ia harus segera jujur kepada Alsaki mengenai pembicaraannya tempo hari dengan sang atasan.
" Ta, ada apa. Apa kamu belum siap menikah denganku?" tanya Alsaki lagi.
" Bukan bang, insyaaAllaah aku mau menikah dengan mu. Tapi ini urusan lain. Kolonel Hendar, beliau mengatakan jika kita membina hubungan maka salah satu dari kita harus keluar dari tim Bravo."
" Aku yang akan keluar," ucap Alsaki mantab bahkan tanpa berpikir lagi. baginya asala bisa menikahi Dita, jangankan untuk keluar dari Tim Bravo keluar dari militer pun tidak ada masalah.
Dita langsung menggeleng cepat. Ia tentu tidak mau Alsaki keluar dari Tim Bravo. Alsaki sudah susah payah berada di posisi sekarang tentu sangat sayang jika harus melepaskannya. Pangkat Alsaki berada dua tingkat di bawah Dita. Alsaki akan cepat naik pangkatnya jika ia tetap berada di tim Bravo.
Sebenarnya sesaat Dita berpikir bahwa dia saja yang akan keluar. Tidak maslah keluar dari Tim Bravo, tapi konsekuensi nya paling dia hanya akan bertugas di kantor saja.
" Bang, aku saja yang keluar. bang Al tetap di tim."
" Nggak bisa gitu Ta, Tim Bravo bisa sampai saat ini karena tangan dingin mu."
" Sudah berdebatnya, Mauk!!"
Keduanya menciut, bagai anak ayam yang mengikuti kemana saja induknya pergi, Alsaki dan Dita langsung mengikuti Dika masuk kedalam rumah.
" Duduk! jadi bagaimana, jadi menikah?"
" Iya!"
" Tidak!"
jawaban Alsaki dan Dita saling bersebrangan. Jika Alsaki mantab mengatakan Iya maka Dita mengatakan Tidak. Dika dan semua orang yang ada di dalam rumah tentu heran dengan jawaban Dita. Terlebih Silvya, ia tahu Dita juga menyukai Alsaki tapi kenapa ia menolak menikah dengan pria itu.
__ADS_1
" Ada apa sayang?" tanya Silvya kepada sang putri.
cerita Dita pun mengalir, semua mendengarkan dengan seksama. Alsaki berulagh kali mengatakan bahwa dirinya yang akan keluar dari Tim tapi Dita tidak setuju. Dan keduanya kemabli berdebat.
" Sudah cukup, papa sudah paham sekarang. Begini saja, sebaiknya memang Dita keluar dari Tim. bagaimana pun juga Dita adalah seorang wanita. Ia memiliki kodrat untuk mengandung dan melahirkan anak. Mungkin ini adalah perintah dari Tuhan untuk Dita berhenti dari pekerjaan yang berbahaya. Toh Dita tetap ada di kesatuan, dia tidak meninggalkan militer hanya mungkin tugasnya yang berubah.
Dita tentu tersentum lebar mendengar keputusan sang papa. Papa nya memang selalu bijak dalam menanggapi sesuatu.
" Jadi kapan kalian akan menikah?"
Dita dan Alsaki saling pandang. Mereka tentu harus banyak yang diurus. Pernikahan anggota militer tidak semudah pernikahan warga sipil. Ada istilah menikah kantor, dan tentu mereka harus mendapatkan izin tersebut.
" Tidak bisa buru-buru pa. Tentu banayk prosedur yang harus kami lalui. Itu biar jadi urusan kami," jelas Dita kepada ayahnya.
" Iya Om, tapi satu hal yang pasti saya sungguh mengucapkan terimakasih atas restu om kepada saya untuk meminang putri kesayangan om. tapi ada satu hal yang perlu saya sampaikan."
Alsaki menceritakan mengenai keadaan keluarganya. Tadi nya Dita tidak setuju, tapi Alsaki harus menyampaikan hal itu sendiri. ia tidak mau keluarga Dita tahu dari orang lain mengenai keburukan keluarga nya.
" Nak, kita tidak bisa memilih dilahirkan dari keluarga mana dan orang tua mana. Semuanya tidak masalah tentunya. Kamu berbeda dengan keluarga mu dan kami tahu itu."
Tes, air mata Alsaki luruh juga. Ia sungguh tidak menyangka bahwa keluarga Dita mau menerima dirinya dengan asal-usul yang berantakan begitu. Semua orang pun ikut haru mendengarkan semua cerita Alsaki.
Di sisi lain disebuah rumah yang selalu saja ribut membicarakan maslah uang dan uang kini kembali lagi ribu. Dengan masalah yang sama. Nampaknya uang hasil menjual barang-barang Alsaki sudah habis. Kini mereka kembali ribut. Resa yang kehabisan make up lah, reno yang kehabisan kuota untuk game lah, dan tanti yang dari seminggu kemarin merajuk karena minta dibelikan perhiasan seperti milik Bu Broto, tetangga rumahnya.
Bahkan dari kemarin Tanti tidka mau melakukan apapun. Tidak mau memasak dan melakukan pekerjaan rumah. Bahkan Bagio pun tidak diperbolehkan masuk ke kamar jika belum memberikan apa yang dia mau.
" Huh, sialan. Kupikir setelah menghabisi wanita itu dan menikahi mu hidupku akan semakin baik, tapi ternyata sama saja. Dia yang memegang uang itu sepenuhnya dan aku tidak bisa mengambilnya. Kira-kira apa yang harus ku lakukan untuk bisa mengambil semua uang yang dia dapat?"
__ADS_1
TBC