
Beberapa waktu berlalu, hubungan Dita dan Ameer semakin dekat dan hubungan Dita dengan anggota tim nya semakin renggang. Dita tak lagi berumpul bersama anggota Tim Bravo. Setiap ada kesempatan atau waktu luang Dita akan pergi bersama Ameer. Hal tersebut tentu membuat semuanya bertanya-tanya.
Seperti saat ini. Hari ini kebetulan anggota Tim Bravo off, Brahma mengagendakan rencana one day trip ke kota B. Tai lagi-lagi Dita menolak dengan dalih ada urusan. Pada akhirnya mereka berempat saja yang pergi tanpa Dita.
" Sebenarnya Dita kenapa sih, kok ku lihat akhir-akhir ini kayaknya sibuk. Apa ada tugas tambahan yang kita tidak tahu," ucap Brahma membuka percakapan mereka sambil menikmati dinginnya kota B dan melihat kawah yang terpampang di depannya. Ya mereka saat ini sedang berada di Kawah Putih, salah satu destinasi wisata di kota B.
" Dia sedang kasmaran."
Semua mata langsung menatap ke arah Alsaki. Ucapan yang keluar dari bibir Alsaki itu membuat Brahma, Adyaksa, Indra dan Eka terkejut. terlebih Ady dan Brahma. Kedua orang yang tahu persis bagaimana perasaan Alsaki kepada Dita itu tentu tidak percaya apa yang dikatakan oleh Alsaki.
" Maksudmu apa Al?" tanya Brahma penasaran.
" Ia dia sedang kasmaran sama pria bule. Pria itu yang dia temukan sat kita sedang di negara P. Seorang mahasiswa di salah satu universitas negara I," jawab Alsaki sambil menghela nafasnya.
Bahma memicingkan matanya. Kenapa tampaknya Alsaki diam saja. Pria paling tua di kumpulan itu kemudian meminta Eka dan Indra untuk turun dengan dalih mencari tempat makan.
" And then, lo bakal lakuin apa?"
" Apa lagi, gue nggak bisa lakuin apa-apa Ad. Masih single aja gue nggak berani ngomong, lha ini doi udah punya gebetan. Jelas gue nggak ada hak lagi buat deketin dia. Udah lah nggak usah dibahas. Bukan jodoh gue berati."
Alsaki mengatakan itu sambil berlalu menyusul Eka dan Indra yang sudah lebih dulu turun. Padahal baik Adyaksa maupun Brahma masih ada yang ingin dibicarakan. Bukan hanya sekedar mengenai hubungan Dita dan kekasihnya tapi mengenai identitas kekasihnya.
" Lo ngerasa ada yang ngeganjel nggak sih Ad."
" Iya bang, kok bisa Dita nemuin mahasiswa di negara P dan langsung aja nyusul kemari. Itu sedikit aneh nggak sih?"
Brahma mengangguk, jika analisanya tidak salah mungkin pria yang sekarang bersama Dita sudah menargetkan Dita dari saat di negara P. Mereka akan mencari tahu nanti. Saat ini yang utama adalah mengembalikan lagi senyum sang kapten. Pantas saja beberapa waktu terakhir ini muka Alsaki sungguh asem dna ditekuk sepuluh. Rupanya ini lah yang terjadi.
Kegalauan Alsaki tidak berbanding lurus dengan Dita. Gadis itu terlihat sedang bahagia. Hatinya sedang berbunga-bunga. Ini mungkin yang dikatakan sebagai kasmaran.
__ADS_1
Saat ini Dita dan Khaleed sedang berada di sebuah kebun strawberry, menikmati hembusan angin dingin dan pemandangan yang menyejukkan mata. Kedua tangan pasangan yang sedang merasakan cinta itu saling bertaut dan menggenggam erat.
Khaleed tidak berani melakukan lebih karena Dita mengadakan perjanjian dalam hubungan mereka. Yakni tidak boleh melakukan kontak fisik yang berlebih. Tentu saja Khaleed setuju, meskipun kadang tidak tahan ingin mencium bibir Dita yang sangat menggoda itu.
" Haish, kapan aku boleh mencium mu?"
" Nanti kalau udah halal."
Khaleed membuang nafasnya kasar. Rupanya Dita benar-benar tidak mudah ditaklukan. Sebelumnya ia berpikir bahwa ketika sudah menjalin hubungan dengan gadis itu maka ia akan mendpatkan diri Dita sepenuhnya. Tapi ternyata tidak, Dita tidak seperti gadis kebanyakan di negara nya.
Biasanya para gadis di negaranya akan dengan suka rela memberikan tubuh mereka kepada Khaled tapi tentu tidak dengan Dita. Negara ini tidak menganut sistem sexx bebas jadi seperti yang dikatakan Dita, mereka akan bisa melakukan banyak hal jika sudah halal.
"Lalu kapan kau akan mengajakku bertemu dengan kedua orang tuamu?"
" Ehmm itu."
Dita tidak bisa menjawab Khaleed dengan pasti. Sudah sebulan lebih menjalin kasih dengan pria itu tapi Dita belum berani mengenalkannya kepada papa dan mama nya.
" Hallo Odion, ada apa?"
" kau harus kembali sekarang. Situasi di sini lumayan kacau. Dan gudang kita kebakaran. Sebenarnya itu sudah lama. Tapi aku tidak memberitahumu lebih awal. Kau selalu acuh saat ku hubungi. Tapi kalai ini kau harus benar-benar kembali."
" Brengseek! siapa yang melakukannya. Baik aku akan pulang malam ini juga."
Khaleed membuang nafasnya kasar. Hubungannya dengan Dita masih belum lancar, tapi urusan Vugel Ceilo harus segera ditangani. Ia pu kembali menghampiri Dita dan mengatakan bahwa dirinya harus segera pulang. Dengan dalih sang ibu sakit membuat Dita menjadi iba.
" Baiklah pulanglah lebih dulu. keluargamu membutuhkan mu."
Khaleed tersenyum lalu memeluk Dita. Ia sungguh berat untuk pergi. Ada satu sudut dalam hatinya berkata, jika ia pergi maka entah kapan bisa kembali. Dan Dita belum sepenuhnya menjadi miliknya, ada sebuah ketakutan bahwa Dita akan lari dari pelukannya.
__ADS_1
" Kenapa hmmm?'
" Tidak apa-apa. AKu hanya ingin memelukmu lebih lama."
Dita menepuk punggung kekasihnya itu. Dalam pikiran gadis itu saat ini Khaleed sedang merasa sedih karena ibu nya yang sakit. Padahal dalam pikiran Khaleed ia enggan pergi dan meninggalkan Dita.
*
*
*
One day trip Dita berkahir dengan mengantarkan Khaleed ke bandara. Ia melambaikan tangan ke arah sang kekasih. Sejenak Dita merasa aneh terhadap dirinya. Ia sama sekali tidak merasa kehilangan dengan kepergian Khaeled.
Ponsel Dita berdering. Sebuah panggilan dari seseorang di sana yang membuatnya seketika berlari cepat. Bahkan sesekali ia menabrak orang yang berlalu lalang. Saking terburu-buru nya Dita berlari menuruni eskalator. Beberapa pasang mata menatap Dita dengan heran tapi gadis itu acuh. Saat itu yang ada dipikirannya adalah berharap semuanya tidak kenapa-napa.
Khaleed yang masih bisa melihat Dita tiba-tiba berlari pun menjadi bertanya-tanya. Ada apa gerangan yang terjadi. Ingin kembali keluar tapi tidak bisa karena dia harus segera masuk pesawat karena pesawat nya sebentar lagi akan lepas landas.
Disisi lain Dita terus berlari hingga menemukan mobilnya. Nafasnya terengah-engah. Ia sejenak mengatur nafasnya sebelum menjalankan mobilnya.
Bruuummm
Dita menyalakan mobilnya dna menekan pedal gasnya. Ia tentu tidak bisa melajukan mobilnya dengan cepat karena antrian keluar parkir bandara lumayan padat.
" Sial, kenapa sih banyak banget. Heran gue. Lo pada ngapain juga sih ke bandara."
Dita memaki, entah pada siapa makiannya itu ia tujukan. Yang jelas saat ini dia sungguh merasa khawatir. Ia harus segera sampai di tempat dimana orang tadi menelpon.
" Please, aku harap tidak terjadi apa-apa dengan mu."
__ADS_1
TBC