Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 40. Meminta Menjadi Istri


__ADS_3

Dita berjalan sambil melamun. Bahkan panggilan Alsaki saja tidak masuk ke telinganya. Pria Itu pun berlari dan menepuk bahu Dita.


" Kenapa? Melamun, pak bos ngomong apa emang?"


" Nggak ada, nggak apa-apa kok. Ayo pulang."


Alsaki mengerutkan kedua alis nya. Ia tentu saja heran, Dita jelas menyembunyikan sesuatu. Tapi pria itu tidak akan memaksa Dita berbicara. Mungkin memang ada hal yang harus disimpan sendiri. Tidak melulu apa yang dipunya wajib untuk di share ke orang lain meskipun itu orang terdekatnya.


" Aku antar, kebetulan mobil ku di sini. Tapi nanti mampir rumah dulu ya."


Gadis itu mengangguk, biarlah urusan pilih memilih ia pikirkan nanti. Toh mereka juga tidak akan menikah dalam waktu dekat kan, seperti itulah yang saat ini Dita yakini.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke rumah Alsaki terlebih dulu sebelum menuju ke rumah Dita.


Hanya butuh beberapa saat untuk sampai ke rumah pribadi Alsaki. Keduanya langsung turun setelah memarkirkan mobil. Sambil menunggu Alsaki menurunkan barang-barang nya, Dita masuk terlebih dulu karena Alsaki sudah memberinya kunci rumah.


Dita sedikit heran saat menyentuh handle pintu tapi ternyata pintu tersebut sudah terbuka sebelum ia memasukkan kuncinya. Pikiran buruk memenuhi kepala Dita, ia merasa rumah Alsaki kemalingan. Dan, apa yang dilihat oleh Dita saat ini semakin menguatkan dugaan gadis itu.


" Bang Al!!!"


Dita berteriak dengan sangat keras. Hal tersebut membuat Alsaki sangat terkejut. Pria itu bahkan langsung menjatuhkan tas nya dan bergegas menghampiri Dita.


" Ta, kenapa?"


" Bang, rumah abang kemalingan. Tadi pintunya belum aku buka udah kebuka terus ini waktu ke sini kan ada tivi ini nggak ada. Lalu ~"


Dita mengabsen setiap barang yang pernah dia lihat dan saat ini tidak ada. Alsaki teringat akan sesuatu, ia langsung berlari menuju kamarnya. Membuka lemarinya satu-satu, hanya beberapa baju dan aksesoris nya yang hilang. Alsaki baru ingat dia tidak meletakkan barang ataupun surat berharga di rumah. Namun satu sudut matanya menangkap sesuatu. Foto milik almarhum ibu nya terjatuh di lantai dan, pecah.


" Sial, aku tahu siapa yang melakukan ini."


Alsaki kembali keluar dari kamar dan memilih duduk sambil membuka ponselnya. Pun dengan Dita, gadis itu duduk di sebelah Alsaki.


" Apa ada yang hilang bang, maksudku benda berharga gitu?"


" Hanya beberapa baju dan aksesoris. Dan aku tahu siapa pelakunya."


Dita mengerutkan keningnya, ia penasaran siapa yang berani mengacau di rumah Alsaki. Ingin bertanya tapi urung, Alsaki terlihat serius melihat ponselnya. Sepertinya pria itu sedang memeriksa rekaman kamera pengawas yang ia sambungan ke ponsel.

__ADS_1


" Sialan, seperti dugaan ku. Orang-orang brengsek miskin otak itu benar-benar mengacau."


" Siapa bang?"


" Bapak dan kedua adik dari ibu tiriku."


Mata Dita membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa yang melakukan kerusuhan di rumah Alsaki adalah ayah dan adik-adiknya. Dita tentu tidak bisa tiba-tiba mempercayai apa yang Alsaki katakan hingga Alsaki menunjukkan rekaman cctv dan foto saat Alsaki lulus pendidikan di Akademi Militer.


" Astagfirullaah."


" Kamu pasti terkejut kan Ta, ini lah keluarga ku. Maka dari itu aku tidak berani mengungkapkan cinta ku padamu. Tapi ternyata aku nggak bisa melihatmu bersama orang lain."


Dita seketika langsung memeluk Alsaki pria itu. Banyak hal yang pria itu sembunyikan rupanya termasuk luka hatinya. Cerita Alsaki mengalir mengenai seperti apa keluarganya dan bagaimana dia dulu diperlakukan. Bukan untuk menarik simpati Dita tapi Alsaki ingin Dita tahu lebih dalma mengenai keluarganya. Ia tidak ingin nanti dianggap durhaka kepada ayah atu dianggap sebagai orang yang acuh terhadap keluarga.


" Lalu, apa abang akan melaporkan mereka?"


" Tentu, bagaimanapun itu salah. Mungkin memang waktunya mereka menikmati dinginnya lantai penjara. Siapa tahu mereka akan jera dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah itu."


Tidak sedikit pun terbayangkan oleh Dita memiliki keluarga seperti itu. Selama ini keluarganya adalah keluarga yang luar biasa. Bukan hanya kakak dan kedua orang tuanya bahkan semua paman dan bibi serta sepupunya adalah orang-orang yang luar biasa baik. Jangan lupakan Kapam (kakek paman) Bisma dan Nekbi (nenek bibi) Gauri, mereka tak kalah baiknya juga.


Jadi saat melihat Alsaki begitu sendirian tanpa adanya keluarga di sampingnya membuat Dita benar-benar merasa iba. Tapi Dita yakin Alsaki pasti tidak ingin tampak buruk di depannya. Akhirnya gadis itu mengajak Alsaki untuk membereskan beberapa barang yang terlihat berantakan. Dita juga menunggu Alsaki yang kembali masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.


" Bu, apa yang akan Al lakukan benar kan? Al tidak salah kan? Ibu juga tidak akan marah pasti kan. Al hanya ingin mereka kembali sadar. Al ingin bapak menjadi pribadi yang lebih baik di masa senjanya."


Alsaki mencurahkan semua rasa hatinya kepada almarhumah ibunya melalui foto yang berada di tangannya. Setiap kata yang terucap dibarengi air mata yang mengalir.


Alsaki membuang nafasnya kasar, ia mengingat Dita menunggunya di luar. Ia pun segera bergegas untuk mandi dan berganti pakaian.


" Ta, ayo."


Dita tersenyum dan mengangguk. Waktunya untuk pulang ke rumah. Tapi entah mengapa kali ini Dita merasa jantungnya berdetak cepat. Dada nya berdebar dan tangannya berkeringat dingin.


" Heeh, ini kenapa coba begini. Haishhh."


Dita menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Alsaki yang melihat tingkah Dita hanya tersenyum kecil. Ia tetap fokus dengan kemudi mobilnya.


Ckiiit

__ADS_1


Alsaki memarkirkan mobilnya di jalan depan rumah Dita. Ia tidak bisa masuk ke pekarangan rumah karena di dalam sudah ada 3 mobil. Alsaki menelan saliva nya dengan susah payah, bisa ia tebak bahwa saat ini keluarga Dita sedang ada di rumah semuanya.


" Mampus!" umpat Alsaki pelan.


" Kenapa bang?" tanya Dita pelan. Alsaki hanya menggeleng ia kemudian keluar dari mobil. Dita tentu heran mau apa Alsaki turun.


" Abang mau kemana?"


" Masuk lah, mau ketemu papa sama mama mu."


" He???"


Bagai ditembak tepat di jantung, itulah perumpamaan yang dirasakan oleh Dita saat ini. Bagaimana tidak, Alsaki yang tidak pernah mau masuk ke rumah Dita kini tiba-tiba meminta untuk masuk. Dita menganggap Alsaki bercanda tapi wajah Alsaki tidak ada raut bercandanya. Wajah Alsaki menunjukkan keseriusan.


Karena tidak kunjung bergerak akhirnya Alsaki menggandeng tangan Dita dan menariknya massuk ke pekarangan rumah. Rupanya pintu rumah Dita terbuka lebar. Dengan wajah penuh kegugupan Alsaki mengucapkan selama yang terdengar bergetar.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Semua mata menatap ke arah datangnya sumber suara. Jika Silvya dan Naisha tersenyum maka Dika dan Nataya menatap ke arah Alsaki dengan tatapan tajam. Terlebih ayah dan anak itu melihat tangan Alsaki menggenggam erat tangan Dita.


" Lhoo udah pulang, mari masuk."


Silvya meminta Alsaki untuk masuk. Wajah pria itu sungguh gugup terlebih Dita memintanya menunggu karena Dita ingin mandi dan berganti baju. Alsaki semakin gugup saat dua pria beda usia itu duduk di depannya.


" Bagaimana kabar mu Al?"


" Baik Dokter Dika, meski kemarin sempat ada insiden sedikit?"


Akhirnya Alsaki menceritakan kejadian yang dialami mereka kemarin. Tentunya secara garis besar. Tidak mungkin Alsaki bercerita secara detail tentang misi mereka. Akhirnya rasa canggung itu mulai mereda. Akan tetapi sebuah pertanyaan dari kakak Dita itu membuat Alsaki kembali berkeringat dingin.


" Jadi, apakah ada yang ingin disampaikan? Tidak biasanya kamu berkunjung kemari."


" Kak Ay, jangan nanya aneh-aneh," sahut Dita cepat. Ia tentu tidka ingin Alsaki merasa tertekan terlebih pria itu baru saja terkena musibah.


" Say kemari ingin ... Ingin meminta Dita untuk menjadi istri saya."

__ADS_1


" Bang Al!!!"


TBC


__ADS_2