
Sebulan ditinggal Bagio dan anak-anaknya, Tanti sungguh menjadi pribadi yang seperti kehilangan arah. Terlebih isi rumahnya habis karena dijual. Ya satu per satu perabot rumah oleh Tanti di jual agar dirinya bisa makan. Biasanya ia menggantungkan hidupnya kepada Bagio dan saat Bagio tidak ada dia kebingungan sendiri.
Kini isi dalam rumahnya sudah kosong. Sudah dua hari ini dia tidak makan. Perutnya terasa kosong. Tanti pun akhirnya keluar rumah. Ia memberanikan diri meminta makan kepada tetangga nya.
" Tan, kamu ini masih bisa bekerja. Bekerjalah untuk sekedar bisa makan."
" Brengsek. Cerewet, kalau mau ngasih ya ngasih aja. Nggak usah pakai ceramah."
Tetangga Tanti tersebut hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Tanti yang sungguh kasar. Setelah hari itu Tanti menjadi sering meminta makan ke tetangga. Tentu hal tersebut menjadi hal yang sungguh meresahkan. Apalagi Tanti memintanya dengan memaksa.
Pada akhirnya para tetangga itu melaporkan perilaku Tanti kepada Pak RT. Mereka menilai Tanti mulai bersikap aneh dan diluar batas. Wanita itu terkadang berteriak marah dan terkadang terlihat sangat ketakutan.
Pak RT pun mendatangi rumah Tanti bersama dengan dinas sosial. Mengucapkan salam dan berkali-kali memanggil nama wanita itu tapi tak juga disahut. Dengan sedikit tenaga mereka membuka paksa pintu rumah Tanti.
Saat pintu rumah terbuka bau busuk seketika menyeruak. Pak RT dan beberapa orang dari dinas sosial bahkan harus menutup hidung dan mulut mereka.
" Bu Tanti, apa Anda di dalam. Bu Tanti!" Pak RT sedikit keras saat memanggil nama Tanti namun tidak ada jawaban. Mereka kemudian menyebar ke seluruh sisi rumah untuk menemukan dimana si empunya rumah berada.
" Astagfirullaah. Pak sini."
Pak RT berteriak kepada para dinas sosial yang datang bersamanya. Ia menemukan Tanti terbujur kaku di kamar mandi. Sepertinya sudah beberapa hari karena tubuh Tanti sudah mengeluarkan bau.
Salah satu dari mereka menghubungi polisi tak berselang lama polisi pun datang dan membawa kantong jenazah berwarna oranye. Para tetangga tentu sedikit terkejut, mereka memang beberapa hari ini tidak melihat Tanti yang meminta makan kepada mereka.
Kematian Tanti diprediksi terjadi sekitar 2 hari yang lalu. Penyebab pastinya belum jelas. Tapi melihat Tanti ditemukan di kamar mandi mungkin Tanti jatuh terpeleset dan kepalanya terbentur karena ada luka di kepalanya dan darah di lantai kamar mandi yang mulai mengering.
__ADS_1
Berita kematian Tanti rupanya diliput oleh media dan ditayangkan dalam berita siang sebuah stasiun televisi. Bertajuk temuan mayat wanita dalam rumah sedikit membuat keramaian masyarakat. Rupanya berita itu sampai juga di penjara. Reno dan Resa yang mengenali rumah merek seketika berteriak histeris. Mereka tentu yakin itu adalah ibu mereka.
" Ibu!!! Tidak itu tidak mungkin ibu! Ibu belum meninggal. Itu pasti beritanya salah!"
Resa sebenarnya yang paling histeris. Gadis itu bahkan sampai pingsan karen saking terkejutnya sedangkan Reno, pemuda itu hanya menangis dengan kepala tertunduk.
Bagio yang juga melihat berita tersebut hanya menghembuskan nafasnya berat. Sejenak ia berpikir, apakah ini adalah hukuman bagi mereka. Kematian Tanti yang tragis seperti sebuah bukti yang Tuhan tunjukkan bahwa perbuatan buruk akan mendapat balasan yang buruk pula.
🍀🍀🍀
Sehari berselang Bagio, Reno dan Resa mendapat kelonggaran dari rutan untuk menghadiri pemakanan Tanti. Tangis histeris Resa di atas tanah kuburan Tanti membuat beberapa orang merasa kasihan. Para warga saling berbisik, kasian katanya ditinggal ketiga keluarganya di penjara Tanti berakhir tragis.
Bagio berdiri terpaku, entah hatinya mengeras atau memang sudah tidak ada rasa untuk wanita yang telah memberinya dua anak itu. Ia sama sekali tidak merasa sedih tidak juga menangis. Bagio malah meminta untuk kembali ke rutan secepatnya.
" Apakah mau menghampiri mereka?" tawar Dita kepada sang calon suami.
Alsaki menggeleng lalu berkata," Tidka perlu. Cukup dari sini saja aku melihat. Kalau mendekat kesana aku yakin Resa dan Reno akan mengamuk. Pasti dalam hati mereka akan menyalahkan ku atas kematian ibu mereka."
Dita mengerti, Alsaki kemudian mengajak Dita untuk kembali pulang. Di perjalanan Dita mendapatkan panggilan dari sang atasan. Ia pun meminta Alsaki untuk mengantarkannya menemui Kolonel Hendar. Ada sesuatu yang sanggup penting. Tapi biasanya jika demikian pasti akan ada tugas dadakan.
" Selamat siang pak."
" Oh Dita, masuk. Maaf mengganggu waktu libur mu. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan, jika benar ini akan jadi tugas terakhirmu di Tim Bravo."
Kolonel Hendar lalu menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Dita. Dita mendengarkannya dengan seksama. Ia mengangguk mengerti, segala informasi yang Kolonel Hendar berikan langsung membuat Dita paham.
__ADS_1
" Baik kolonel, saya mengerti. Lalu kapan kami harus berangkat?"
" Satu minggu lagi. Kalian persiapkan semuanya dengan baik. Rencana, strategi, logistik, pokonya semua harus sangat matang."
Dita tentu terkejut dengan waktu keberangkatan Tim Bravo dalam menjalankan misi. Dita sedikit mengerutkan kedua alisnya. Dia kemudian pamit undur diri setelah Kolonel Hendar selesai dengan semua perintahnya.
Keluar dari ruangan Kolonel Hendar, Dita langsung menghubungi semua Timn Bravo. Mereka akan berkumpul untuk membahas mengenai misi kali ini.
" Ta, apa semua baik-baik saja?"
" Ya tentu bang, oh iya mari berkumpul di rumah abang saja untuk membahas misi ini bersama tim nanti malam."
Alsaki menganggu setuju, tapi ia merasa ada yang aneh dalam diri Dita. Ada yang Dita sembunyikan. Sebelum pulang ke rumah, Alsaki membawa Ditra menuju ke supermarket untuk membeli beberapa camilan dan minuman. Juga bahan makanan yang akan Alsaki masak untuk menjamu teman-temannya.
Keduanya berbelanja layaknya pasangan muda yang sedang belanja bulanan. Ini adalah momen yang Dita suka, saat seperti ini ia merasa bukan lah seorang anggota militer melainkan seorang wanita biasa yang tengah berjalan-jalan bersama sang kekasih. Terlebih keduanya memang tidak menggunakan seragam militer mereka. Jari ini adalah hai libur mereka jadi mereka mengenakan pakaian santai.
" Kenapa senyam-senyum begitu?" tanya Alsaki yang sedari tadi melihat Dita tersenyum. Pria itu sedikit merasa aneh dnegan sikap Dita yang menurutnya tidak seperti biasa.
" Nggak apa-apa seneng aja bisa santai begini," jawab Dita.
" Apa kamu sedikit lelah dengan pekerjaanmu? Apa tugas yang Kolonel Hendar berikan kali ini adalah tugas yang berat?"
Dita menggeleng, tugas kali ini tidak berat sebenarnya. Hanya saja waktu keberangkatan mereka lah yang menjadi beban pikiran Dita saat ini.
TBC
__ADS_1