
Kedatangan Dita beserta Tim Bravo disambut senang oleh Rekan mereka yang lain. Sebuah pelukan hangat diterima anggota tim, tapi tidak dengan Dita. Meski bagaimana pun Dita adalah seorang perempuan, mereka tentu tahu batasannya.
Salah satu dari mereka membawa Dita untuk masuk ke dalam sebuah barak. Tampaknya ada hal serius yang ingin disampaikan mengenai misi kali ini. Mayor Ahmad Bima Panjaitan langsung meminta Dita untuk duduk. Terlhat wajah serius dari pria tersebut.
" Ada apa sebenarnya Mayor Ahmad."
" Maaf mungkin ini sedikit membuat Anda terkejut Letkol Dita."
" Mad, ayolah jangan bicara terlalu formal hanya ada kita berdua di sini."
Ahmad tersenyum simpul, padahal tadi Dita yang memulainya. Memanggil dirinya mayor terlebih dulu bisa Ahmad tangkap Dita ingin berbicara sesuai jabatan mereka, tapi rupanya tidak begitu. Ahmad salah menduga nya. Dita ingin mereka berbicara santai.
" Apa ada yang belum aku tahu mengenai tugas kali ini Mad? Sepertinya Kol. Hendar melewatkan sesuatu sehingga tidak memberitahuku semuanya. Bahkan kesannya begitu terburu-buru mengirim kami."
Ahmad mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Rupanya atasan mereka benar-benar merahasiakan hal tersebut dari Dita. Jadi bisa dipastikan Ahmad lah yang harus menyampaikan semua ini kepada Dita.
" Begini Ta ... ."
Dita mendengarkan detail penjelasan Ahmad dengan seksama. Ia tentu sudah menduga hal tersebut. Tidak mungkin ia dan tim nya dikirim secara mendadak jika tidak ada yang serius.
" Jadi sudah berapa lama?"
" 4 hari dari hari pertama mereka tidak kembali ke barak Ta."
Dita mengangguk paham. Dalam otak nya dia sudah mulai merencanakan sesuatu untuk menghadapi permasalahan tersebut. Ahmad juga memberikan lokasi terkahir teman mereka berada. Ada rasa khawatir yang tampak diraut wajah Ahmad. Bagaimanapun mereka yang hilang itu adalah anggota timnya. Dan sudah semenjak hari pertama mencoba mencari namun belum bisa menemukan menemukan mereka.
" Apakah ada kemungkinan mereka di sandera?"
__ADS_1
Ahmad hanya mengangguk, ia juga punya pikiran begitu. Tapi sungguh ia tidak bisa melakukan hal yang lebih lagi. Maka dari itu ia meminta bantuan pusat dan dikirimkan Tim Bravo. Reputasi Tim Bravo tentu tidak perlu diragukan lagi. Dan kasus kali ini Ahmad yakin Tim Bravo lah yang bisa menangani. Tim Bravo sudah biasa dengan kejadian seperti ini. Mereka anggota pasukan khusus yang memang terbentuk dengan banyak keahlian di medan pertempuran.
" Baiklah Mad, aku akan berbicara dengan anggota tim ku. Bagaimanapun kami harus menyusun strategi. Jika semua setuju kami akan berangkat malam ini juga."
" Apa kami harus ikut bersama kalian?"
Dita terdiam sejenak, mencoba memikirkan pertanyaan Ahmad. Tak berselang lama Dita menggelengkan kepala nya. Bukannya tidak mau prajurit lain ikut di dalam tim nya, akan tetapi koordinasi yang selama ini dilakukan oleh Dita terhadap timnya memiliki chemistry yang kuat. Untuk misi seperti ini Dita hanya akan membawa tim nya saja.
" Aku akan pergi bersama tim ku saja untuk masuk lebih dalam, aku akan membawa anggota mu untuk mengantarkan kami ke tempat mereka terakhir berada."
Ahmad mengangguk, ia tentu paham dengan maksud Dita. Tidak ada rasa tersinggung sedikit pun. Untuk urusan begini tentu Tim Bravo lebih berpengalaman dan mumpuni.
Dita keluar dari barak milik Ahmad dan memanggil anggota tim nya untuk membicarakan masalah yang saat ini mereka akan hadapi. Jika Dita sudah memanggil dengan nada dan sikap seperti saat sekarang sudah bisa dipastikan bahwa hal ini adalah hal serius.
" Tugas kita kali ini adalah mencari 5 rekan kita yang hilang. Besar kemungkinan mereka ditangkap dan disandera oleh salah satu kelompok di daerah ini. Malam ini juga kita akan melakukan operasi penyelamatan," jelas Dita kepada kelima anggota Tim Bravo.
Pertanyaan Alsaki di jawab anggukkan kepala oleh Dita. Dita kemudian menjelaskan mengenai strategi yang akan mereka lakukan untuk melakukan misi penyelamatan tersebut. Semua mendengarkan dengan fokus tinggi. Mereka tidak ingin ada hal yang terlewatkan. Setiap misi berhubungan dengan nyawa. Dita menekankan bahwa mereka semua harus kembali dengan nyawa yang masih menempel di raga.
" Ingat jangan gegabah dan jangan sok jadi pahlawan. Mengerti!"
" Siap Mengerti!"
🍀🍀🍀
Matahari mulai merambat turun keberadaannya terbenam di ufuk sebelah barat. Waktunya setiap insan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun tidak dengan Dita dan tim nya, mereka mulai mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa. Selain senjata ada juga obat-obatan dan sejumlah makanan serta minuman. Mereka tidak tahu berapa lama misi itu akan berlangsung. Karena sampai saat ini lokasi pasti rekan-rekan mereka belum diketahui secara pasti.
Tapi menurut informasi yang didapat dari warga kelompok yang disebutkan oleh Mayor Ahmad itu berada di 20 km masuk ke dalam hutan. Tentu itu akan jadi perjalanan yang lumayan panjang.
__ADS_1
Maka dari itu semua harus dipersiapkan dengan baik. 20 km di kota tidak sama seperti 20 km di hutan. Dita juga meminta untuk timnya membawa penunjuk arah dan tentunya peta. Mereka tidak ingin menambah masalah dengan kehilangan arah tentunya.
Setelah melaksanakan kewajiban 4 rakaat malam itu Dita bersama Tim nya berangkat. Ahmad ikut mengantarkan mereka menuju tempat terkahir kelima rekannya dilihat.
" Baiklah mulai dari sini kalian hanya akan berenam saja. Apa betul kami tidak harus ikut Ta?" tanya Ahmad dengan wajah penuh kekhawatiran. Perasaan Ahmad sangat tidak enak. Tapi sebagai seorang prajurit tentu saja mereka tidak boleh mengedepankan perasaan. Mereka harus berpikir dengan logis dan realistis.
" Tidak perlu, insyaaAllaah kami cukup. Jagalah yang ada di sini," ujar Dita sembari menepuk pelan bahu rekannya tersebut.
" Berhati-hati lah kalian semua."
Dita dan Tim Bravo mengangguk lalu mulai berjalan memasuki hutan. Mereka berjalan dengan langkah pasti. Sambil menggendong tas dan menenteng senjata laras panjang yang selalu di arahkan ke depan. Tak lupa helm dan head lamp yang melindungi kepala mereka juga sebagi sumber penerangan untuk membelah hutan.
Awal mula masuk, hutan masih di dominasi dengan tanaman perdu, semakin masuk pohon-pohon menjulang tinggi lah yang tampak. Dita meminta anak buahnya untuk berhati-hati terhadap binatang nokturnal. Di dalam hutan yang jarang dijamah manusia itu binatang buas pasti masih banyak di sana. Terlebih ular berbisa. Mereka harus bisa menghindari nya.
" 10 meter ke depan lalu belok ke arah barat daya!" ucap Indra memberi aba-aba. Indra adalah salah satu dari mereka yang bisa dibilang ahli membaca peta. Asalkan ada kompas yang bisa ia gunakan untuk menembak arah.
Setelah berjalan sekitar 3 jam, mereka memutuskan mereka memutuskan untuk beristirahat. Jika sesuai perhitungan mereka akan sampai di daerah kelompok itu sekitar 1 sampai 1.5 jam lagi.
Mereka tampak mengistirahatkan kaki mereka. Namun satu diataranya tetap berdiri sambil mengamati keadaan sekitar. Ini sudah memasuki daerah kelompok tersebut, jadi mereka harus tetap waspada.
" Bang Brahma duduklah, biarkan aku yang bergantian berjaga," tukas Dita yang ditanggapi anggukan kepala oleh Brahma.
Dita kemudian berdiri, ia melihat ke semua arah. Hingga dia seperti mendengar sesuatu. Dita menjatuhkan tubuhnya dan menempelkan kepalanya di tanah. Anggota tim mereka seakan memahami sesuatu. Head lamp yang ada di kepala mereka langsung dimatikan semua.
" Ada suara langkah kaki, sembunyi cepat dengan pelan."
TBC
__ADS_1