
Jika biasanya pria yang mengatakan hal tersebut ini wanita yang meminta lebih dulu. Sepertinya dalam kisah dua orang ini semuanya serba terbalik. Alsaki tentu terkejut, matanya membulat dan jantungnya hampir saja keluar dari tempatnya. Dita dengan spontan mengatakan hal tersebut. Gadis itu mengajaknya menikah. Apakah Alsaki dapat menyimpulkan bahwa Dita melamarnya? Entahlah, tapi jika melihat dari sorot mata gadis itu bisa dikatakan Dita serius.
" Apa aku tidak salah dengar Ta? Kamu tadi melamar ku?" tanya Alsaki masih dengan rasa keterkejutan yang besar.
" Ya, ayo kita menikah."
Sudahlah, pasangan ini sama sekali tidak ada manis-manisnya. Mereka tidak ada sisi romantisnya. Mau heran tapi ini Dita, gadis itu memang dikenal apa adanya dan tidak suka berbelit-belit.
" Ta, kamu ngajak nikah kayak ngajak beli mendoan."
Dita hanya terkekeh mendengar penuturan Alsaki. Entah apa yang merasuki Dita, tapi satu hal yang pasti ia ingin melihat Alsaki bahagia dan selalu mengembangkan senyumnya. Jujur, Dita paling suka dengan senyuman tulus Alsaki. Biarlah dibilang terbalik, tapi itu yang Dita rasakan.
" Jadi bagaimana jawabannya."
" Astaga!"
Alsaki menepuk keningnya pelan. Mengapa gadis ini sungguh tidka sabar, begitu lah yang saat ini Alsaki gumam kan dalam hati ia kembali menatap lekat netra gadis itu. Tidak ada keraguan sedikit pun di sana. Mengenal Dita sudah lama Alsaki tentu sangat paham bagaimana Dita.
" Aku tidak mau kamu yang melamar ku. Seharusnya kan aku yang mengatakan itu."
" Elaaah patriarki banget sih. Sama aja, ujung-ujungnya kawin juga eh nikah maksudku."
" Tapi Ta, berasa nggak etis kalau kamu yang ngelamar."
Dita bersungut-sungut sambil mengatakan bahwa semuanya sam aja. Tapi Alsaki tetap kukuh mengatakan bahwa semuanya menjadi tidak etis dirasakan.
Pembicaraan penuh perasaan tadi berakhir dengan ucapan-ucapan absurd kedua orang itu. Dan kini berakhir dengan Dita yang tidur di samping Alsaki. Gadis itu benar-benar terlelap. Bahkan saat Alsaki membelai wajah Dita pun ia sama sekali tidak bergerak.
Alsaki lalu menaikan selimutnya agar bisa menutupi seluruh bagian tubuh keduanya. Ada sedikut rasa tidka percaya dalam diri Alsaki. Hubungan keduanya berkembang sangat pesat dalam kurun waktu satu hari.
__ADS_1
" Bolehkan aku merasa senang saat ini Ta? Terimakasih sudah mau menerimaku. Aku berjanji setelah pulang dari tugas di sini akan langsung menemui papa dan mama mu. Semoga nggak kayak lagu Bang Judika ya Ta, haish aku bingung jika itu terjadi."
Kring
Ponsel Dita berdering. Alsaki sepintas melihat ke arah ponsel tersebut. Sebuah nama terpampang di sana yang membuat senyum Alsaki redup.
" Ameer," ucap pria itu lirih. Alsaki baru ingat bahwa satu hal yang masih jadi ganjalan pada hubungan mereka adalah pria bule yang saat ini masih memiliki status pacar dengan Dita. Satu hal yang Alsaki belum tahu mengenai identitas Ameer yang sebenarnya.
" Kali ini aku tidak akan menyerah. Aku akan memperjuangkan Dita. Aku akan egois kali ini."
🍀🍀🍀
Sebulan berlalu, Dita yang sudah menyerahkan semua laporan mengenai kejadian penyekapan anggota tentara disebuah pedalaman oleh sekelompok orang itu telah diterima oleh atasannya. Tim Bravo kembali di tarik ke pusat dan mereka berhak mendapatkan libur satu minggu. Semua orang bersorak terlebih Indra. Wajah pemuda itu berseri dna matanya berbinar.
" Akhirnya," Indra spontan berteriak yang langsung menyita perhatian kelima rekannya.
" Soalnya acara tunangan yang sempat tertunda akhirnya bisa dilaksanakan," jelas Eka. Pemuda itu bak juru bicara Indra. Mereka memnag begitu dekat. Bisa dilihat wajah Eka yang seketika mellow saat menatap sang sahabat dekat.
" Elaaah, makanya buruan nyari biar nggak kusut tuh muka. Ditinggal Indra nikah kayak diputusin pacar."
Ucapan Brahma diikuti rawa semua orang. Hari ini mereka akan kembali ke ibu kota. Jadwal penerbangan sudah diatur selepas zuhur. Dan saat ini mereka tengah bersiap dengan mem-packing kembali barang-barang mereka.
Alskai menarik Dita, pria itu masih penasaran mengapa Dita tidak membicarakan telepon dari Ameer. Setelah malam itu ponsel Duta mendapat panggilan dari Ameer Dita tidak pernah menjawabnya. Padahal Ameer berkali-kali menelpon.
" Ta, aku mau tanya sesuatu."
" Soal telepon Ameer? Bang ada hal yang belum kau ceritakan mengenai Ameer ke abang. Maaf kemarin-kemarin aku sangat sibuk jadi belum sempat bercerita. Tapi ini adalah alasan mengapa aku tidak menjawab setiap panggilannya."
Dita menyerahkan ponselnya kepada Alsaki dimana semua data Ameer aka Khaleed ada di sana. Alsaki membaca kata demi kata. Melihat judul dari artikel tersebut tentu tidak membuat Alsaki serta merta percaya. Banyak judul berita yang clickbait, yakni judul yang menarik untuk orang membaca isinya tapi terkadang isinya tidak sesuai dengan judul.
__ADS_1
Akan tetapi saat ini sepertinya semua sesuai. Alsaki sungguh terkejut, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Ameer adalah buronan interpol. Terlihat wajah Dita menampilkan sesuatu yang Alasaki tidak bisa artikan.
" Kenapa Ta?"
" Beberapa hari yang lalu kabar kematiannya disiarkan. Dalam berita diberitahukan dia meninggal karena overdosis obat terlarang yang gangsternya buat sendiri."
" Dan kamu langsung percaya itu?"
Dita menggeleng cepat semuanya tidak mungkin begitu rapi. Ia yakin ada intrik di dalam nya. Seorang Ameer tidak mungkin melakukan hal tersebut. Setidaknya itulah yabg ada di pikiran Dita.
" Ta, jika benar dia adalah pimpinan gangster terbesar bisa dipastikan dia tidak akan bertindak gegabah dengan mengonsumsi obat terlarang hingga overdosis. Biasanya pembuat dan pengedar tidak akan memakan barang dagangannya sendiri. Dan kamu tahu itu Ta."
Dita mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Alsaki sepenuhnya benar. Selama ini seperti itulah faktanya. Ia bisa melihat itu dari mama dan uncle nya. Meskipun dulu mama dan Uncle Ar adalah pengedar juga di dunia luar, mereka tidak pernah mencicipi barang terlarang itu.
" Jadi sebaiknya kamu hati-hati saja. Aku yakin dia akan mencari mu."
" Apa abang cemburu?"
" Bisa jadi. Tapi satu hal yang pasti, aku khawatir sesuatu yang buruk menimpamu nanti karena ulah nya."
Alsaki benar-benar merasa khawatir. Ia takut Dita akan mengalami masalah nanti jika Ameer benar-benar kembali.
Di sisi lain, seorang pria berwajah eropa tampak tersenyum lebar sata menginjakkan kaki di lantai bandara. Ya, pria itu baru saja turin dari sebuah pesawat yang membawa nya berjalan 10 jam lebih di udara. Pria itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
Ia berjalan dengan begitu percaya diri sembari menarik kopernya. Dua orang ikut berjalan tegap di belakang pria itu. Meskipun sempat kesal karena kedua orang itu ingin ikut tapi akhirnya ia pasrah juga dan membiarkan mereka mengekor.
Salah seorang tampak melambaikan tangan kearah mereka bertiga. Sebuah nama tertulis di papan yang sengaja dibawa dan ditunjukkan kepada ketiga orang itu sebagai tanda bahwa mereka sudah dijemput.
" Wellcome Mr. Robertho Philip in our country."
__ADS_1