
Sebuah Mobil berjalan begitu cepat ke arah Alsaki dan Dita. Keduanya yang tengah asik mengobrol tidak menyadari hal itu hingga terdengar sebuah suara tembakan. Tampak mobil tersebut langsung terpelanting dan berguling, lalu berakhir membentur sebuah pohon besar.
Bruuk bruuuk bruuuk
Blaaaam
Suara ledakan kecil dari mobil tersebut terdengar jelas. Tampak sebuah api membara di sana. Alsaki dan Dita langsung berlari menghampiri mobil tersebut. Sebuah tangan seseorang keluar dari kaca pintu mobil. Kulit tangan yang putih itu sangat kontras dengan warna merah darah yang mengalir dari lengan.
" Ta, panggil ambulan! Cepat!"
" Baik bang."
Aksaki mencoba untuk mengeluarkan orang yang ada di dalam tersebut. Sedangkan Dita, dia tidak hanya memanggil ambulan, dia juga menghubungi papa nya yang saat ini masih ada di di rumah sakit.
Seusai melakukan panggilan Dita kemudian membantu Alsaki. Bau bensin mulai menyeruak, mereka harus bergegas agar ledakan susulan tidak mengenai tubuh mereka bertiga.
" Ta, hitungan ketiga aku akan mengangkat kap mobilnya dan usahakan kamu bisa menarik korban. Aku berhasil melepaskan sabuk pengamannya. Satu ... Dua ... Tiga, GO!"
Percobaan pertama Dita belum berhasil menarik orang tersebut. Alsaki pun mengerahkan tenaganya untuk kembali mengangkat kembali kap mobil itu. Jelas si korban tidak bisa menunggu hingga bantuan datang.
" Satu ... Dua ... Tiga .. Go!!!"
Berhasil, Dita berhasil menarik korban. Seorang pria yang jelas buka warga pribumi. Tampaknya orang tersebut adalah orang asing.
Kalimat syukur diucapkan oleh Alsaki dan Dita. Keduanya benar-benar bernafas lega karena telah berhasil menarik tubuh korban. Dita kemudian memeriksa denyut nadi si korban, dan bersyukur katena masih terasa.
__ADS_1
" Ta, apa kamu mendengar apa yang aku dengar sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi."
Dita mengangguk, ia tentu mendengarnya. Sebuah tembakan dilepaskan sebelum mobil itu oleng dan menghantam sebuah pohon besar. Alsaki lantas mencari dompet korban, siapa tahu ada yang bisa alamat di sana yang bisa di datangi atau dihubungi.
" Robertho Philips, dia bukan warga negara sini Ta."
Dita meraih sebuah identitas yang Alsaki keluarkan dari dalam saku celana korban. Dita mencoba meniti wajah korban itu, ia merasa tidak asing.
Tak berselang lama suara ambulan terdengar, tanda bahwa ambulan yang dipesan Dita sudah datang. Alsaki dan Dita memilih menepi membiarkan tim medis melakukan tugasnya.
Ambulan kembali dinyalakan dan mulai berjalan cepat. Saat keduanya fokus melihat perginya ambulan, tiba-tiba punggung Dita dan Alskai ditepuk pelan. Mereka spontan membalikkan tubuh. Keduanya terkejut saat menjumpai siapa yang berdiri di depan mereka.
" Mama, apa yang mama lakukan di sini. Lalu uncle Drake, ada apa ini sebenarnya?"
" Khaleed Hosein Jones aka Ameer Jones aka Robertho philip. Pria yang kalian tolong itu adalah Khaleed."
" Dia ingin menabrak kalian berdua tadi."
" Jadi mama yang melepaskan tembakan tadi?"
Silvya mengangguk dan Dita sungguh merasa lega. Tidak ada rasa sedih sedikitpun melihat Ameer yang kini telah mengubah dirinya menjadi Robertho philip itu tergeletak bersimbah darah karena kecelakaan. Ia malah bersyukur Alsaki tidak terluka, karena jika yang dikatakan sang mama adalah sebuah kebenaran maka pria itu pasti menargetkan Alsaki.
Sedangkan di sisi lain Alsaki sungguh bingung dengan pembicaraan ibu dan anak itu. Terlebih melihat mamanya Dita yang menenteng sebuah senjata laras panjang yang ia tahu bahwa senjata api tersebut adalah senjata yang biasa digunakan oleh seorang penembak jitu atau penembak profesional.
Silvya bisa melihat raut keheranan Aslaki, tapi ia membiarkan hal tersebut terlebih dulu. Biarlah Alsaki melalang buana dengan pemikirannya. Silvya lalu menarik Dita sedikit lebih jauh dari Alsaki. Ada satu hal yang penting lagi yang harus Silvya katakan yakni mengenai barang-barang haram yang berhasil diselundupkan oleh Robertho ke tanah air.
__ADS_1
" Jadi apa aku harus melaporkannya?" tanya Dita kepada sang mama.
" Jangan, minta Alsaki yang melaporkannya. Temuan ini akan membuat Alsaki semakin dipandang dan mungkin bisa saja naik pangkat. Temuan ini sungguh besar, pasti dia akan diberi apresiasi yang sangat besar terlebih dua orang kepercayaan Vugel Ceilo juga ada di sini. Ini benar-benar tangkapan besar."
Dita terdiam sejenak memikirkan perkataan sang ibu. Ia kemudian melirik pria nya, apa yang dikatakan mamanya tentu banyak benarnya. Dita kemudian mengangguk dan langsung menghampiri Alsaki yang memang berdiri sedikit jauh dari mereka.
Dita langsung mengatakan semua penemuan sang mama kepada Alsaki. Sejenak Alaski tidak percaya hingga ia melihat bukti yang diberikan Dita.
" Malam ini juga temui Kolonel Hendar dan katakan tentang semua ini lalu langsung lakukan penggrebekan."
Alsaki menggeleng, tentu dia tidak mau. Ini sama saja dia curang dan dia tidak ingin melakukan itu. Ini sama saja bohong, Dita tentu yang lebih berhak mengatakan semuanya kepada Kolonel Hendar.
Dita sudah menduga akan hal ini. Alsaki pasti tidak mau melakukannya, tapi Dita tidak kehabisan akal untuk membujuk sang kekasih calon suaminya itu. Dita meraih kedua tangan Alsaki lalu menggenggamnya erat.
" Bang dengerin aku. Abang selalu mengatakan bahwa abang minder dengan pangkat kita, dimana aku jauh lebih tinggi dari padamu. Ini adalah salah satu strategi agar pangkat abang juga ikutan naik. Toh semua itu juga bukan aku yang menemukan tapi mama. Dan mama memilih abang yang membuat laporan. Itung-itung abang bantu mama. Mama tentu tidak bisa melaporkan semuanya sendiri. Yang ada mama nanti malah dicurigai, kan mama pengusaha transportasi."
Alsaki terdiam, ia lalu melirik ke arah calon ibu mertuanya itu. Silvya dengan jarak sekitar 10 meter mengangguk sebagai tanda ia mengiyakan setiap apa yang Dita katakan.
" Haish, sebenarnya siapa calon ibu mertuaku ini. usianya memang dibilang sudah senja tapi buseet tenaga dan auranya begitu kuat."
Alsaki bermonolog dalam hati. Sungguh saat ini dirinya diliputi rasa penasaran terhadap keluarga Dita. Sepertinya banyak sekali kejutan yang ia dapatkan, dari pengacara handal hingga melihat sang calon ibu mertua menenteng senjata laras panjang.
" Baiklah aku akan melapor pada Kolonel Hendar. Tapi aku tetap akan mengatakan bahwa semuanya ini aku dapat atas informasi seseorang."
Dita tersenyum lebar, akhirnya Alsaki mau juga melakukan hal tersebut. Silvya pun juga merasa lega. Rencananya berhasil. Ini memang sudah Silvya susun. Ia tentu tidak ingin calon menantunya nanti diolok-olok karena pangkatnya dibawah sang istri. Maka dari itu Silvya menggunakan strategi ini.
__ADS_1
" Semoga semuanya berjalan lancar sesuai apa yang aku rencanakan."
TBC