
Tengah malam Dita pulang ke rumah nya. Ia tentu tidak bisa berlama-lama berdua dengan Alsaki. Suasana canggung itu benar-benar terasa. Dita merasa ada yang salah dengan dirinya saat ini. Bagaimana bisa dia nekat mencium Alsaki kembali saat di dapur tadi. Gadis itu berulang kali memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berjalan naik ke kamarnya.
" Sayang baru pulang?"
" Ma."
Silvya merasa ada yang aneh dengan anak gadis nya itu. Dita yang tadinya hendak masuk ke kamar akhirnya urung. Ia kembali turun dan menarik tangan mamanya untuk duduk bersama di sofa depan televisi. Silvya tentu tahu jika putrinya itu ada yang ingin dibicarakan tapi Silvya memilih diam menunggu Dita berbicara terlebih dulu.
" Ma, Dita punya temen. Dia udah punya pacar. Belum lama sih pacarannya baru sekitar sebulanan lebih dikit. Tapi temen Dita itu nggak nolak saat dicium cowok lain, padahal sama cowoknya aja dia nggak mau dicium."
Silvya membulatkan matanya mendengar setiap kata yang diucapkan Dita. Apa ini ciuman? sama pria yang bukan cowoknya. Silvya yakin itu bukanlah teman putrinya. Sejauh ini Dita hanya bergaul dengan anggota tim nya.
Astaga, anak gue polos amat yak, gumam Silvya dalam hati. Namun, Silvya mencoba untuk menyikapi cerita Dita senetral mungkin. Saat ini yang Silvya tangkap adalah Dita belum mau berterus terang mengenai hubungan cinta nya dan tentu saja Silvya tidak akan memaksakan hal tersebut.
" Lalu bagaiman perasaan kamu, eh maskud mama temenmu itu saat dicium pria yang bukan pacarnya."
" Ehmm katanya sih dia menikamti itu, meski sedikit merasa bersalah kepada kekasihnya. Dan, untuk membuktikan bahwa hatinya tidak apa-apa temenku itu mencium balik pria itu. Dan ada rasa lain di hatinya. Apa itu bisa dinamakan selingkuh?"
Plak
Silvya menepuk keningnya pelan. rasanya ia ingin berteriak saat ini mendengar cerita Dita. Putrinya itu memang ahli dan tangkas di medan perang tapi benar-benar nol besar untuk urusan cinta dan pria. Jika Silvya menelaah lagi ucapan Dita, ia bisa menyimpulkan bahwa Dita mengulangi ciumannya terhadap pria yang menciumnya.
__ADS_1
" Haaah, Dita sayang. Itu bia juga dikatakan selingkuh. Kamu mencium pria lain saat di belakang kekasih mu. Kamu secara tidak langsung mengkhianati kekasihmu. Apa kamu tidak benar-benar mencintai kekasihmu?"
Cinta? Dita terdiam sejenak. Kata itu belum pernah keluar memang dari mulutnya untuk Khaleed aka Ameer. Sejauh ini dia hanya merasa nyaman berada di sisi Khaleed. Definisi cinta sendiri ia tidak tahu pasti.
Tapi dengan Alsaki ada getaran lain dalam hatinya. Alsaki selama ini membuatnya nyaman, sama seperti Khlaeed tapi dengan Alsaki Dita benar-benar bisa jadi dirinya sendiri. Terlebih tadi, saat Alsaki mencium bibirnya Dita bisa merasakan jantungnya bergetar hebat. Ia bahkan merasa kecewa saat Alsaki melerai ciuman mereka.
" Haish, bagaimana besok aku menghadapi Bang Al."
Dita bergumam pelan, tapi Suilvya masih bisa mendengarnya. Silvya tersenyum simpul, entah mengapa wanita paruh baya itu lebih suka Dita berhubungan dengan Alsaki dari pada pria bule yang ia lihat tempo hari melalui kamera pengawas.
Di sisi lain seorang pria masih duduk membatu di kursi ruang makan. Ciuman tiba-tiba yang dilakuakn Dita kepadanya sungguh membuatnya hilang akal. Ia bahkan merasa dirinya transparan saat ini. Ah entah istilah apa yang tepat menggambarkan perasaan Alsaki sekarang.
" Aku akan berperang untuk mendapatkan mu. Kali ini aku tidak akan menyerah Ta. Besok aku akan menemui mu untuk mengatakan perasaanku. Biarlah dikatakan terlambat dari pada aku menyesal nantinya."
Alsaki berjalan kembali memasuki kamarnya. Ia membereskan semua yang digunakan Dita untuk merawatnya tadi. Ia mengembangkan senyumnya. Rupanya Dita perhatian juga, tapi siapa yang memberitahu gadis itu kalau dia sakit? Sudahlah, Alsaki akan bertanya besok saat ke markas.
Pagi harinya Dita sungguh enggan untuk berangkat ke markas. Padahal hari ini ada apel pagi dan Dita akan memimpin apel. Jam menunjukkan pukul 05.00 tapi Dita belum juga berganti pakaian dinas.
" Sayang, katanya berangkat pagi. kok belum siap?"
" Ma ..."
__ADS_1
Silvya terkekeh geli melihat putrinya itu. Mungkin Dita benar-benar bisa dikatakan telat puber. Lihatlah, gadis itu seperti abg yang malu ketika akan bertemu dengan gebetan setelah mengungkapkan cinta. Padahal mereka tidak melakukan hal tersebut.
" Apakah ini soal Alsaaki," ucap Silvya to the point. Rasanya tak musti harus berbeli-belit untuk ke arah hal itu. Dita hanya mengangguk kecil, mengaku kepada mama nya adalah hal yang dia lakukan. Percuma juga muter-muter toh mama nya pasti akan tahu.
" Ma, aku bingung. Aku pacaran sama Ameer tapi kok aku bisa berbuat itu ke Bang Al. Emang sih awalnya cuma karena suasana yang mendukung. Tapi aku, haish, sudahlah ma. Aku harus segera bersiap, kalo telat nanti aku yang kena punishment dari atasan."
Silvya mengangguk kecil, ia tidak akan ikut campur dalam urusan hati putrinya. Dita sudah masuk dalam kategori dewasa untuk memilih yang terbaik dalam urusan hati. Apapun keputusan Dita ia akan mendukung.
Hanya butuh 15 menit waktu yang dibutuhkan Dita untuk bersiap. Gadis itu turun dnegan seragam kebesarannya. Silvya tersenyum, cita-cita putrinya terwujud bahkan karir nya tergolong mulus. Terkadang Silvya berpikir, tidak sia-sia ia mengajari putra-putrinya sedari kecil mengenai ilmu bela diri dan menggunakan senjata, meskipun itu tetaplah dibilang antimainstream.
" Lho papa mana ma?"
" Berangkat sehabis subuh tadi, ada operasi dadakan yang membutuhkan papa mu. Ta, hadapi saja semuanya. Kamu belum berstatus jelas, maksud mama belum ada pria yang datang kesini untuk melamar mu. Kamu masih bisa menentukan pilihan lain yang memang sesuai dengan hatimu. Sebuah hubungan itu memang dimulai dengan rasa nyaman lalu diikuti cinta dan sayang. Jika hanya sekedar nyaman, maka suatu hari jika nyamannya hilang maka hubungan akan menjadi kacau."
Dita mengangguk paham dengan setiap apa yang mama nya ucapkan. Sepertinya ia benar-benar harus menata hatinya untuk kembali menemukan pilihan yang tepat.
Dita ingin seperti keluarga besarnya yang menerapkan prinsip menikah sekali seumur hidup. Tidak ada kata cerai atau pisah dalam keluarga besar Dwilaga maupun Lanford. Bahkan hubungan rumit yang dialami tantenya Rinjani pun bisa diselesaikan dengan baik ( ah iya entah kapan othor mau bikin cerita tentang bungsu Dwilaga itu hehehe).
Dita benar-benar merasa yakin bahwa ia harus berpikir ulang mengenai hubungannya, " Maafkan aku Ameer. Tapi sepertinya aku memang harus memikirkan lagi tentang kita. Aku harap keputusan yang akan aku ambil nanti tidak menyakiti hati siapapun."
TBC
__ADS_1