
Ciiiiit
Dita memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah. Gadis itu langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia sungguh tidak memperhatikan bahwa ada sesuatu yang janggal dari telepon yang ia terima itu. Jika memang terjadi apa-apa kenapa tidak di bawa ke rumah sakit.
" Bang Al!"
Ya Dita saat ini berada di rumah Alsaki. Tadi saat mengantar Khaled ia mendapatkan telepon dari Brahma. Brahma mengatakan bahwa Alsaki tiba-tiba pingsan saat sedang mengemudi. Tanpa bertanya apa-apa lagi. Dita langsung menutup panggilan dari Brahma itu dan, disinilah ia saat ini berada.
Tidak menemukan Alsaki didapur atau pun di ruang tamu, Dita langsung menuju ke kamar. Ia membuka pintu kamar Alsaki sedikit lebih keras. Tampak pria itu berbaring di sana. Dita kemudian mendekat dan duduk di atas ranjang sebelah Alsaki.
Dita tentu tidak mengerti mengapa dirinya begitu merasa khawatir saat mendapat kabar bahwa Alsaki pingsan. Apakah itu bentuk kepedulian atasan terhadap anak buahnya? entahlah, Dita sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas rasa takut dan khawatir menelusup ke dalam diri Dita.
" Bang, are you ok?."
Dita menempelkan telapak tangannya ke kening Alsaki, panas. Ia kemudian mengambil air dan mencari handuk kecil untuk mengompres pria tersebut. Dita juga mencari paracetamol untuk diminumkan kepada Alsaki.
" Bang, bangun sebentar dan minum obatnya."
Dengan setengah sadar Alsaki terbangun dan menuruti perintah Dita. Tampaknya Alsaki belum sadar sepenuhnya bahwa Dita berada di sana. Gadis itu sedikit menggerutu, mengapa Brahma meninggalkan Alsaki sendirian dalam kondisi begini.
" Bang, kok abang tega sih ninggalin Bang Al sakit begini?'
" Eh, emang iya Alsaki sakit?"
Brahma yang sedang bersama ketiga rekannya itu hanya saling pandang satu sama lain. Pasalnya ia menghubungi Dita tadi sebenarnya hanya iseng ingin mengerjai Dita. Mereka mengantarkan Alsaki pulang setelah one day trip dalam keadaan sehat dan Alsaki tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sedikit pun.
" Demam dia bang, ini baru aja aku kompres dan diminumi obat."
" Apa kita perlu kesana?"
__ADS_1
Jawaban tidak dengan sedikit keras dna tegas didengar oleh Brahma. Ketiga rekannya sampai terkejut mendengar ucapan galak Dita. Brahma hanya mengangguk lalu menutup sambungan teleponnya yang memang ia ubah ke mode loudspeaker agar terdengar oleh semua orang.
" Busset deh galak bener. Lhaa dia punya ayang tapi kok segitu khawatirnya sama Al. Dan kok bisa Al sakit ya, tadi bukannya ia masih baik-baik saja."
" Haus belaian kali Bang Al."
Pletak
Brahma, Adyaksa, dan Ekadanta langsung mengeplak kepala Indrajaya secara bersamaan. Mulut bocah itu emang kadang-kadang suka kelepasan.
Di kamar Alsaki, Dita terus menerus mengganti kompres agar panas Alsaki segera turun. Gadis itu merawat Alsaki dengan sangat baik.
" Bu, Al kangen ibu. Bu, Al kangen bu."
Air mata Alsaki merembes dari mata nya, Dita mengusapnya perlahan. Rupanya Alsaki mengigau. Ia merindukan ibu nya yang sudah lama tidak ada itu.
" Apa yang kau tanggung bang. Mengapa sepertinya hidupmu begitu berat?"
Tak lama kemudian Alasaki menggeliat. Ia sedikit terkejut menemukan handuk kecil di keningnya dan Dita. Apa dia sakit? dan sejak kapan Dita datang? Apa Dita yang sudah merawatnya? Alsaki mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Samar-samar dia bisa mengingat saat Dita memberinya obat.
" Sial, kenapa aku tidak sadar ada kamu di sini. Kamu pasti pegel tidur dengan posisi begini."
Alsaki menaruh handuk kecil itu di baksom dan menyibakkan selimutnya. Ia turun dari ranjang dan mengangkat tubuh Dita lalu membaringkan gadis itu di atas kasur. Alsaki menyingkirkan surai rambut yang mengenai wajah gadis itu.
" Bukankah kamu sedang bersama kekasihmu? Lalu mengapa bisa ada di kamarku hmmm?"
Tanpa Alsaki duga, Dita menggeliat pelan dan terbangun. Dita langsung bangkit dari tidurnya a duduk. Ia menatap Alsaki lalu menempelkan tangannya di kening pria itu.
" Alhamdulillaah abang udah nggak panas. Apakah merasa pusing? Perlu ke rumah sakit? Yuk ke rumah sakit aja, biar diperiksa takutnya ada peradangan atau apa."
__ADS_1
Alsaki hanya diam saja mendengar semua omongan Dita. Mata Alsaki terhipnotis dengan bibir mungil Dita. Dia tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan Dita. Entah sedang dirasuki apa Alsaki meraih tengkuk Dita lalu mendaratkan bibirnya di bibir Dita. Bukan hanya sebuah kecupan tapi Alsaki mencium dan melummat bibir Dita.
Dita tentu terkejut, tapi anehnya dia mengikuti permainan lidah Alsaki. Keduanya saling berbelit lidah hingga Alsaki menarik tubuhnya dan mejauh dari Dita.
" Maaf Ta."
Alsaki bangkit dna berjalan keluar dari kamar tersebut, sedangkan Dita ia menyentuh bibirnya dengan tangan. Gadis itu memukul kepalanya sendiri, ini adalah ciuman pertamanya. Ciuman pertamanya yang bukan bersama sang kekasih tapi malah dengan orang lain. Dita sedikit merasa bersalah, ia seperti sedang berselingkuh di belakang kekasihnya.
" Ya Allaah, apa aku selingkuh. Tapi kenapa aku tadi nggak nolak dan malah menikmatinya. Padahal selama ini Ameer minta aku nggak pernah mau. Arggghh!"
Lain Dita, lain pula Alsaki. Ia saat ini sedang merutuki dirinya sendiri karena keberaniannya mencium Dita. Ia seperti memanfaatkan keadaan, tapi yang jelas dorongan itu sungguh kuat saat melihat Dita ada di depannya.
" Al apa yang lo lakuin. Sadar Al, doi udah punya cowok. Astaga Al, kenapa bisa-bisa nya lo ngelakuin ini."
Alsaki mangusap wajahnya dengan kasar. Ia mengambil air minum dan menghabiskannya sekali tenggak.
" Bang Al."
Uhuk. Alsaki terbatuk sat mendengar Dita memanggilnya. Ia langsung menoleh ke arah Dita. Cantik, hanya kata itu yang mewakili apa yang dia lihat. Tapi seketika ia mengusir pikiran itu. Gadis yang ada di depannya itu adalah milik orang. Suasana yang terjadi antara keduanya pun menjadi canggung. Saat ini Dita dan Alsaki duduk berhadapan di meja makan.
" Ta. Maaf tadi itu aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji tidak akan sembarangan lagi. Aku tadi sungguh khilaf Ta. Aku harap kamu tidak marah."
Entah mengapa ada rasa aneh yang hadir dalam hati Dita. Seketika ia merasa bimbang dan ragu terhadap hubungannya bersama Khaleed aka Ameer. Bukan hanya karena soal ciuman yang Alsaki berikan tapi tentang perasaannya juga.
Saat Khaleed pergi, Dita merasa biasa saja dan tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Tapi saat mendengar Alsaki pingsan Ia begitu khawatir dan bergegas ingin segera menemui Alsaki. Padahal saat itu Khaleed belum sepenuhnya pergi.
" Bang, bolehkah aku memastikan sesuatu?"
" Apa Ta."
__ADS_1
Alsaki membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Dita saat ini terhadapnya.
TBC