
Alsaki menatap tajam ke arah seseorang yang ada di pos tersebut. Darahnya terasa naik ke kepala, membuat ia tak kuasa memperlihatkan wajah marahnya. Adyaksa memilih balik kanan dan kembali masuk ke dalam karena tentu saja itu bukanlah urusannya. Ia akan membiarkan Alsaki menyelesaikan masalah yang datang itu.
" Mau apa kau kemari?"
" Aku mau minta uang, kau bisa buat rumah berarti uangmu banyak bukan?"
Tangan Alsaki mengepal erat. Bahkan buku-buku nya sampai memutih karena saking kerasnya kepalan tangan pria itu. Alsaki mendengus geram, ia lalu membawa Bagio keluar dari pos. Ia tentu tidak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain.
" Sepertinya aku sungguh tidak perlu memberimu uang. Bukankah dana pensiun ibu ku telah kau miliki sepenuhnya. Bahkan sepeserpun aku tidak pernah kau beri."
" Dasar bocah sialan, sama bapak sendiri aja perhitungan banget. Ku laporkan baru tahu kamu."
" Silahkan saja aku tidak takut."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Alsaki kemudian pergi menuju ke dalam markas. Ia mengabaikan teriakan Bagio, bukan teriakan sebenarnya tapi lebih ke makian. Alsaki sungguh acuh dengan hal itu, sudah sering dirinya dimaki jadi suara-suara Bagio hanya seperti angin lalu yang masuk ke kuping saja tidak.
" Jika orang itu datang lagi, bilang aku tidak ada di tempat."
" Siap Kapt!"
Alsaki membuang nafasnya kasar. Raut kesedihan mulai masuk dalam dalam wajahnya. Adyaksa bisa melihat hal tersebut. Ia menepuk punggung sang teman.
" Gue rasanya pengen pergi tugas aja ketimbang diam begini Ad. Berasa hidup gue kayak nggak guna."
" Jangan bilang begitu Al. Kita semua peduli sama lo, kita sayang sama lo lebih-lebih tim bravo."
Berdamai dengan hati sendiri memanglah sangat sulit. Bagaimana tidak, banyaknya tekanan sudah Alsaki terima dari kecil. Semuanya tentu sangat membekas dan sulit sekali dihilangkan.
Lain Alsaki lain pula Ameer aka Khaleed. Pria itu saat ini sedang mengawasi sebuah rumah. Rumah bergaya minimalis itu terlihat masih sepi di jam-jam sibuk itu.
Sudah sekitar satu jam ia berada di sana tanpa melakukan apapun. Ia hanya duduk di mobilnya tapi pandangannya tak sedikit pun beralih. Tak berselang lama sebuah mobil datang. Khaleed bisa melihat siapa yang turun dari sana. Seorang pria paruh baya tapi masih terlihat begitu gagah nan tampan.
" Apakah itu ayah Letnan Dita?"
Ya, Khaleed sedang mengawasi rumah Dita. Rupanya kemarin dia mengikuti Dita hingga ke rumah. Pria itu tentu tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk bisa mendekati Dita. Khaleed seketika ingat, ia mengambil ponselnya dan mengetik nama Dita di pencarian. Dia memang tidak tahu nama lengkap Dita namun saat menuliskan nama 'Letnan Dita' semua informasi sederhana muncul di sana.
Khaleed sedikit terkejut mengetahui silsilah keluarga gadis yang diincarnya itu. Ayah dokter, ibu CEO LT, sebuah perusahaan transportasi yang merupakan salah satu terbesar di negeri ini. Tiba-tiba ia teringat, Khaleed pernah melihat maskapai penerbangan dan kapal kargo bertuliskan LT.
" This is amazing. Aku benar-benar tidak salah menyukai orang. Aku akan mendapatkan mu letnan."
__ADS_1
Feeling Khaleed rupanya kuat. Ia kembali melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah tersebut. Keluar dari sana Dita dan seorang pria. Khaleed mengerutkan alisnya, ia tentu bertanya siapa pria itu. Ada rasa tidak suka yang menggelayut dalam hatinya. Khaleed semakin kesal saat pria itu memeluk Dita.
" Siapa dia, arghhh bikin kesal saja."
Khaleed sedikit mengacuhkan hal itu lalu mengambil ponsel yang tadi ia taruh di dashboard. Ia mencari nomor Dita yang ia buat menjadi panggilan cepat. Senyum Khaleed mengembang saat Dita menerima panggilannya.
" Hallo."
" Hallo Letnan Dita. Ini aku Ameer. Apakah malam ini tidak sibuk? Bisakah bertemu." To the point, Khaleed tidak ingin berlama-lama memendam rasanya. Ia akan segera mengatakannya kepada Dita.
" Oh Ameer, ehmm kalau malam tidak bisa, bagaimana sore saja."
" Baik letnan. Tapi aku tidak tahu kita harus bertemu dimana."
" Aah, aku mengerti. Nanti aku share loc dan kamu bisa menggunakan gps untuk datang ketempat tersebut."
Hampir saja Khaleed berteriak saat mengetahui Dita benar-benar mau diajak bertemu. Rencananya semakin mulus. Apakah ini jodoh? Entahlah tapi yang jelas ia merasa semuanya dipermudah.
" Ini benar-benar bagus. Aku akan segera mendapatkan."
*
*
*
Plak
" Woelaah pa, bukannya kasian malah itu luka dikeplak. Sakit tahu."
" Salah sendiri, kenapa nggak langsung diobati."
Dika meminta Dita melepas jaketnya. Sebuah luka tembak yang tentunya bukan pertama kali ia lihat. Dika tersenyum simpul saat mengingat pertama kalinya ia melihat luka tembak milik sang istri.
" Pasti nostalgila eh nostalgia."
" Haish, tahan papa akan mengeluarkan pelurunya."
" Woaaah papa, pake anestesi dong. Sakit lah pa. Et deh bapak-bapak satu ini jokes nya nggak nanggung-nanggung"
__ADS_1
Dika hanya mengulum senyum. Mendengar celotehan putrinya. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu celotehan Dita saat kecil masih cedal dan sekarang lihatlah ia tumbuh jadi wanita kuat. Persis seperti mama nya.
" Dulu mama mu ngidam apa ya saat hamil kamu, papa lupa. Kenapa bisa jadi begini.".
Sambil menangani luka Dita, ayah dua anak itu terus saja berbicara. Mengenang kembali masa-masa kedua anaknya saat masih kecil. Dari hal tersebut Dika menyadari bahwa dirinya sudah tua. Haishhh, beginikah menjadi tua? Dika kembali tersenyum simpul.
Satu buah peluru berhasil dikeluarkan ingin Dika langsung membuangnya tapi oleh Dita dilarang. Ia merasa harus menyelidiki peluru tersebut.
" Kenapa Ta?"
" Peluru itu sepertinya dibuat khusus pa. Sepertinya aku harus tanya mama."
" Apa yang harus ditanyakan hmm, sepertinya penting. Selamat sayang misi mu berhasil."
Silvya rupanya sudah pulang, mendengar kabar putrinya kembali ia pun bergegas pulang juga. Lagi-lagi Ian yang jadi tumbal untuk menghandle perusahaan. Bisa kalian bayangkan kan bagaimana Ian bersungut-sungut. Dari masa mereka belum menikah hingga anak mereka besar-besar bahkan Silvya sudah punya cucu Ian tetaplah Ian.
" Terimakasih ma, ini juga berkat bantuan mama, Uncel Ar dan Mr. Sun. Ini ma, sepertinya ini peluru khusus."
Silvya mengambil peluru yang baru saja dikeluarkan dari lengan Dita. Ia memeriksa dengan seksama. Tak lama Silvya memfoto dan mengirimkan kepada teman lamanya tentunya.
" Sun, tolong, itu peluru buatan mana dan kira-kira siapa pemiliknya."
" Woelaah Si, ane juga lagi kerja ini buset dah, kadang sekate-kate juga nih kalau minta tolong herman gue eh heran gue."
Silvya tertawa terbahak saat membaca balasan pesan yang dia kirim. Dita langsung melihat ke arah sang papa.
" Bisa gitu."
" Bisa, cs lama mama mu itu. Kenal dari mama umur 24 dan tahun dan dia umur 6 tahun."
Dita membulatkan matanya dan mengangakan mulut nya. Seakan tidak percaya mendengar penuturan sang papa. Namun dengan cepat Dika mengatakan untuk tidak terlalu memusingkan hal itu. Ia kembali menarik Dita dan menyelesaikan penanganan luka di lengan sang putri.
Cerita Dita pun mengalir saat Silvya menanyakan bagaimana misi kemarin. Silvya benar-benar bersyukur Dita bisa menyelesaikan misi dengan cepat. Setelah 15 menit berlalu sebuah panggilan masuk ke ponsel Silvya. Ia oun meminta izin kepada orang di sebrang untuk mengaktifkan mode loudspeaker.
" Ta, apa kau tahu siapa yang menyerang mu?"
" Kata salah satu anggota tim ku mereka adalah anggota gangster. Lalu gangster mana itu Mr. Sun."
" Yup benar. Mereka adalah anggota gangster yang lumayan besar di benua biru. Bisa jadi mereka menginginkan para ilmuan itu juga. Peluru itu memang dibuat khusus dan hanya anggota mereka yang memiliki. Nama gangster itu Vugel Ceilo."
__ADS_1
Dita sedikit terdiam. Nama itu jelas berbeda dengan yang dikatakan oleh anggota timnya tadi. Apa ada konspirasi lain?
TBC