
Alsaki pulang ke rumah dengan lemas. Wajahnya tertunduk lesu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Satu tarikan nafas dalam ia lakukan untuk mengurangi rasa sesak di dada yang ia rasakan.
" Aku kalah Ta. Bukan kalah, tapi memang aku pengecut. Dan ini adalah buah dari apa yang aku tanam. Aku benar-benar tidak bisa menggapai mu. Semoga kamu bahagia Ta."
Selesai, kata itu mungkin yang tepat untuk menggambarkan seluruh rasa yang ada dalam diri Alsaki. Akibat dari sikap pengecutnya ia kehilangan sesuatu yang ia harapkan dapat mengisi kekosongan hatinya. Bodoh kah dia? Tentu saja, pria itu sudah mengaku kalah bahkan sebelum maju ke medan perang.
Alsaki akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan terus menuju ke kamar mandi. Ia membiarkan tubuhnya di bawah guyuran air shower. Air dingin mulai menelusup ke setiap pori dalam tubuhnya. Sama sekali ia tidak merasakan dingin. Tangannya mengepal sembari memukul dinding kamar mandi berulang-berulang.
" Haaaah, aku harap semuanya akan baik-baik saja esok."
Lain Alsaki lain pula Dika. Ia berpura-pura tidak melihat putrinya yang berpelukan dengan pria tepat di jalan depan rumah. Jiwa bapak-bapak posesifnya sebenarnya sudah meronta-ronta ingin menginterogasi sang putri namun sebisa mungkin ia tahan. Dita bukan lagi gadis abg, dia sudah dewasa. Dika akan menunggu Dita mengatakan sendiri mengenai apa yang terjadi.
" Baru pulang sayang? Pulang sama siapa?" ucap Dika saat putrinya itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
" Eeeh assalamu'alaikum pa, iya tadi dari markas Dita ketemu temen. Pulang bareng temen," Dita menjawab dengan sedikit gugup. Entahlah, dia belum mau mengakui keberadaan Khaleed aka Ameer tersebut.
" Waalaikumsalam, temennya kok nggak diajak masuk."
" Itu, dia ada perlu jadi nggak bisa mampir. Dita ke kamar dulu ya pa."
Dita langsung ngibrit ke kamar, ia merasa terancam jika terus menerus berbicara dengan sang papa. Entahlah, ada rasa tidak nyaman. Dita sedikit takut dan khawatir jika papanya menanyakan soal Ameer.
Bruk
Dita menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang queen size nya. Ia menutup wajahnya dengan bantal saat mengingat kedekatannya dengan Ameer.
" Pacaran? Apakah benar aku sekarang punya pacar? Hahaha, sedikit aneh rasanya. Tapi kok aku takut ya kalau ketahuan papa. Kan seharusnya nggak apa-apa."
__ADS_1
Tring
Ponsel Dita berbunyi, gadis itu segera mengambilnya dan melihat siapa gerangan yang mengirim pesan. Senyumnya mengembang sempurna saat melihat nama orang yang mengiriminya pesan itu, Ameer, ya Ameer lah yang mengirimnya pesan. Mungkin inilah yang dimaksud orang tengah kasmaran. Rasanya semuanya indah dan hati pun berbunga-bunga.
Sebenarnya Dita sendiri belum yakin dengan hatinya. Tapi perhatian dan sikap lembut Ameer membuatnya memutuskan untuk mencoba berhubungan dengan pria bule tersebut.
" Aku jadi ngerasa curiga."
Di lantai bawah, Dika tampaknya memiliki persepsi lain soal putrinya. Bukankah waktu itu sang putri terang-terangan menantang ayahnya akan membawa calon suaminya ke hadapannya? Tapi jika dilihat jawaban Dita tadi tampaknya putrinya belum siap.
" Kenapa mas?"
" Anak gadis mu tuh, tadi pelukan sama cowok di jalan depan. Pas aku tanya, katanya temennya."
Silvya mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan sang suami. Tentu saja dia tidak percaya ucapan pria yang sudah dinikahinya lebih dari 30 tahun itu. Dita tidak mungkin melakukan hal itu.
Melihat ekspresi istrinya, Dika hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia tahu istrinya meragukan kata-kata nya.
Silvya langsung mengambil ponselnya dan melihat apa yang dikatakan sang suami. Benar saja, ia melihat apa yang dikatakan Dika. Mata Silvya memicing menelisik wajah pria yang mungkin benar adalah kekasih putrinya.
" Mas, dia bule alias bukan dari negara ini deh."
" Masa sih. Coba lihat, laah iya."
Jika Dika fokus dengan dari mana Dita mengenal pria bule itu, maka Silvya lebih fokus ke siapa pria itu. Bagaimana pun ia harus waspada dengan siaapun yang dekat dengan putrinya. Status putrinya sebagai seorang letnan tentu harus hati-hati dalam segala hal. Terlebih pria itu muncul setelah Dita selesai melakukan misi nya dan pulang dari tugas luar negara.
Sebelumnya belum pernah ada pria lain mucul di depan Dita selain anggota timnya. Insting Silvya sebagai seorang mafia tiba-tiba muncul saat melihat pria yang bersama putrinya itu. Tapi dia tidak boleh asal judge. Silvya akan menunggu Dita membawa pria tersebut ke adapan mereka.
__ADS_1
" Apa yang harus kita lakukan sayang?"
" Tunggu saja mas, bukankah mas sudah warning pada Dita untuk nggak ada istilah pacar-pacaran. Berarti ketika dia mengenal pria maka dia harus siap untuk membawanya kemari."
Dika mengangguk paham dengan ucapan istrinya. Mereka sudah punya kesepakatan akan hal tersebut, semoga Dita tidak membuat pelanggaran dan segera membawa pria bule itu untuk dikenalkan kepada mereka.
Saat kedua orang tua itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tia-tiba Dita memanggil Silvya dengan begitu kerasa sambil berlari menuruni tangga.
" Ma ... Mama!"
" Dita! Mama bilang jangan berlari saat turun tangga. Bahaya tahu."
Gadis itu hanya nyengir kuda sambil memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya. Namun beberapa detik kemudian ia sudah mengubah ekspresi nya menjadi serius. Silvya dan Dika pikir, Dita akan membicarakan mengenai pria yang bersamanya tadi. Tap rupanya bukan.
" Ma, aku baru saja mendapat laporan dari tim yang ikut misi kemarin. Gangster yang disebutkan Mr. Sun dan dia berbeda. JIka Mr. Sun mengatakan bahwa pemilik peluru tersebut adalah Vugel Celio maka anggota tim kemarin mengatakan bahwa mereka adalah Chernaya Pantera, atau disingkat Cherpa."
Silvya langsung menghubungi Drake untuk mencari informasi kedua gangster tersebut. Jika benar berbeda, bisa disimpulkan mereka mungkin tengah bekonflik alias bermusuhan. Bukan urusan Silvya sih, tapi tidak ada salahnya untuk mereka tahu akan hal tersebut.
Tring setelah 5 menit Silvya mendapatkan pesan dari Drake. Sebuah rangkuman mengenai informasi Vugel Ceilo dan Cherpa. dua-duanya adalah gangster besar di benua biru. Hanya lokasinya saja yang berbeda. Yang satu di daerah erpoa barat sedangkan yang satu berada di wilayah timur tengah. Keduanya saling berkonflik karena ingin menjadi yang terkuat. Ada satu hal yang menarik, pemimpin Vugel Celio yang bernama Khaleed Hosein Jones rupanya jadi incaran kemanan internasional karena ulahnya.
" Tapi semua itu bukan urusan kita kan ma."
" Bukan sayang, biarkan saja mereka mau apa. Yang penting satu, mereka tidka mencoba memasuki wilayah negara ini. Jika itu terjadi maka siap-siap akan berhadapan dengan kami."
Dita mengangguk paham, Ya mama dan uncle nya meskipun sudah hiatus di dunia per-mafia-an tapi mereka tetap terus mengawasi keadaan tanah air. Selama mereka hidup, mereka tidak akan membiarkan yang namanya pedagangan ilegal jenis apapun masuk ke dalam negeri.
Akan tetapi sesaat Dita mengingat apa yang dibaca mamanya tadi. Kenapa nama pemimpin Vugel Ceilo sedikit mirip dengan nama Ameer. Khaleed Hosein Jones dan Ameer Jones. Namun Dita seketika menggelengkan kepalanya, tidak mungkin mereka adalah orang yang sama bukan. Nama Jones begitu banyak dipakai oleh orang di negara I, Dan mungkin kebetulan mereka memiliki nama belakang yang sama. Tapi entah mengapa Dita sedikit terganggu dengan hal itu.
__ADS_1
" Semoga hanya kebetulan."
TBC