Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 30. Pemuda Yang Baik


__ADS_3

Silvya yang baru saja mendengar kabar dari Drake langsung segera pulang ke rumah. Saat diperjalanan dia menghubungi putrinya dan menanyakan keberadaannya. Ternyata Dita sedang pulang ke rumah.


" Sayang ... ."


" Assalamualaikum ma."


" Waalaikum salam sayang, lho kamu mau apa?"


Karena saking buru-buru nya Silvya lupa mengucapkan salam. Ia sedikit terkejut saat melihat Dita membereskan pakaian-pakaian dinasnya dan juga membawa baju yang lain serta beberapa barangnya. Ia sedang packing rupanya.


" Oh iya, ini ma. Dapat tugas dari Kolonel Hendar Umbas. Dita dan tim Bravo akan berangkat ke wilayah timur besok selepas subuh. Di sana membutuhkan kami.


Silvya mengangguk paham. Silvya jadi mengurungkan niatnya untuk menyampaikan informasi mengenai Khlaleed. Ia akan menundanya hingga Dita selesai. Bagaimana pun Dita harus segera diberitahu. Mumpung hubungan mereka belum terlampau jauh dan dapat Silvya simpulkan Dita belum memiliki kemantapan hati terhadap pria tersebut.


Silvya memilih utuk keluar dari kamar putrinya terlebih dulu dan menunggunya di bawah. Sembari menunggu Dita, Silvya membuatkan makanan kesukaan sang putri, ayam lada hitam.Dengan lincah ibu dua anak itu melakukan pekerjaannya di dapur. Satu hal yang tidak bisa diwarisi oleh Dita adalah kemampuan Silvya di dapur.


" Mama bikin apa, wuihhh wangi banget aromanya. Enak kayaknya nih. pas banget lagi Dita laper."


" Udah selsai memang packing nya?"


Dita mengangguk, Silvya lalu tersenyum dan meminta sang putri untuk duduk. Kali ini mereka akan makan berdua saja. Beberapa hari ini kepala keluarga rumah itu sedang tugas luar kota. Dika diminta untuk mengisi seminar di beberapa rumah sakit besar di provinsi Jawa Timur.


" Ma, nanti tolong sampaikan ke papa kalau Dita pergi bertugas. Tapi tetep sih Dita bakalan chat atau telpon papa sendiri nanti."


" Iya, nanti mama sampaikan. Ta, ada sesuatu yang harus mama sampaikan ke kamu."


Dita yang baru selesai makan langsung memperhatikan mama nya. Tampaknya sang mama ingin menyampaikan sesuatu yang serius. Sebelumnya Silvya memang tidak pernah seserius saat sekarang ini jika ingin berbicara dengan Dita. Bahkan misi yang berbahaya kemarin pun vibes nya tidak seserius sekarang.


" Sayang, ini tentang pria yang kamu pacari. Meskipun mama belum pernah melihat pria itu face to face tapi mama sempat melihatnya melalui kamera pengawas. Dan ternyata pria itu adalah~"

__ADS_1


Silvya menggantungkan ucapannya, ia lalu memberikan ponselnya. Di sana terdapat foto Khaleed yang Dita kenal dengan nama Ameer. Mata Dita membulat sempurna saat membaca semua hal mengenai Khaleed yang tertulis di sana.


" Jadi Ameer adalah Khaleed. Astagfirullah, kok aku baru tahu. Bagaimana aku bisa lengah seperti ini. Huuh bodoh, bodoh banget sih aku."


Dita menepuk-nepuk keningnya sendiri. Ia lalu teringat dengan kelompok yang menembaknya. Mereka berasal dari gangster Cherpa tapi menggunakan senjata dari Vugel Ceilo. Sebuah teori masuk ke otak Dita, apakah mereka sebenarnya bekerjasama tapi pura-pura bermusuhan? Atau mereka memang bermusuhan dan saling menjatuhkan.


" Ta!" panggil Silvya kepada buah hatinya itu yang tampak sedang berpikir. Tampak Dita terkejut tapi setelah beberapa saat gadis itu bisa menguasai dirinya.


" Ya ma, tenang aja aku nggak apa-apa kok. Nanti coba aku selidiki. Oh Ya orang-orang mama masih ada yang di sana kan, boleh aku menghubungi salah satu dari mereka secara pribadi?"


Silvya mengangguk, ia kemudian memberikan salah satu nomor orang kepercayaannya yang berada di negara tempat Vugel Ceilo berada.


" Baiklah ma terimakasih, nanti aku akan menghubungi nya. Rowena? Apakah dia seorang perempuan?"


" Ya, dia adalah seorang wanita. Saat ini pekerjaannya adalah seorang pemilik toko kue di sana. Usia Rowena sekitar 40 tahun tapi kemampuannya tentu tidak diragukan lagi."


Sedikit terkejut memang saat Dita mengetahui anak buah mama nya adalah seorang wanita di negeri seberang tersebut. Tapi tentu tidak perlu heran, mamanya juga adalah seorang wanita. Pun dengan dirinya, tidak ada penghalang untuk wanita menjadi kuat di bidang yang mereka geluti.


Keesokan harinya Dika dan Silvya mengantarkan sang putri menuju markas. Awalnya Dita pikir papa nya pulangnya masih lusa, rupanya tidak. Semalam Dika sudah pulang dari dinas luar kota nya.


Dari sana Dita dan tim nya akan diberangkatkan langsung dengan pesawat militer yang sudah disiapkan. Terlihat beberapa sanak keluarga yang ikut mengantar. Satu hal yang menarik perhatian Silvya, Alsaki hanya sendiri dan tidak ada siapapun yang berada di dekatnya.


" Ta, Alsaki tidak punya saudara, maksud mama~"


" Hubungan keluarga nya tidak terlalu baik ma. Kalau tidak salah Bang Al ibunya sudah meninggal."


Dika kemudian melihat ke arah Alsaki saat mendengarkan obrolan istri dan putrinya tersebut. Alsaki memang sendirian, terlihat pemuda itu membuang nafasnya kasar. Entah mengapa Dika berjalan menghampiri pemuda itu lalu menepuk bahu punggung Alsaki pelan.


" Bagaimana kabarmu Al?"

__ADS_1


" Dokter Dika, alhamdulillah saya baik-baik saja dok. Bagaimana dengan dokter?"


" Ya, seperti ini semakin tambah tua semakin lekas capek."


Alsaki dan Dika terlibat pembicaraan ringan. Terlihat tawa kecil keluar dari keduanya. Brahma dan Adyaksa saling pandang melihat pemandangan tersebut.


" Woelaaah udah akrab gitu sama camer?"


" Hahah iya juga, tapi eh tapi terus ayang nya Dita gimana?"


Sibuk sekali dua orang itu mengamati dan mengomentari Alsaki hingga sebuah panggilan dari atasan mereka membuat mereka mendekat dan siap untuk berangkat. Masing-masing berpamitan ke anggota keluarga nya. Alsaki yang berada di depan Dika pun berpamitan kepada ayah dari wanita yang disukainya tersebut.


" Saya pamit dokter, semoga saya masih bisa berjumpa dengan dokter kembali nanti."


" Ya hati-hati lah. Titip putriku, apakah bisa?"


Alsaki mengangguk dan tersenyum. Ia lalu berlari disusul oleh Dita yang sekilas memeluk papa nya. Silvya menghampiri Dika, ia sedikit merasa aneh dengan skap suaminya yang tiba-tiba mengajak bicara Alsaki. Padahal selama ini Dika tidak pernah bersikap akrab dengan mereka.


" Kenapa melihat begitu?" tanya Dika sembari mengerutkan keningnya melihat ekspresi sang istri.


" Pengen tahu saja kok tiba-tiba mas nyapa Al duluan?" jawab Silvyua to the point.


" Haish, pemuda itu sungguh kasian. terlihat dari caranya dia berdiri dan menatap kosong ke depan dia begitu kesepian. Mungkin dia tidak dekat dengan keluarga nya. Maka dari itu dia terlihat begitu pendiam padahal jika sudah berbicara anaknya menyenangkan."


Silvya tersenyum mendengar ucapan Dika. Sebagai orang tua Dika bisa menangkap hal tersebut. Anak yang kurang perhatian meskipun sekuat apapun dia mencoba berdiri maka akan terlihat sisi rapuhnya. Terlebih jika dia sendirian, sorot mata kosong yang dimiliki meskipun tidak ditampilkan tetap akan terlihat.


" Jadi apakah menurut mas, Alsaki adalah pemuda yang baik?" tanya Silvya kepada sang suami yang ditanggapi anggukan kepala sambil terus menatap putrinya dan anggota timnya.


" Lalu jika Dita mempunyai hubungan dengan Alsaki bagaimana?'

__ADS_1


" He??? terus pacar bule nya itu mau dikemanakan? Astaga anakku, papa mu dulu satu aja nggak habis-habis kok ini mau ngerangkep sih."


TBC


__ADS_2