Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 39. Pilihan Sulit


__ADS_3

Robertho Philip seorang pria berusia 28 tahun itu memiliki perawakan yang tinggi dengan wajah eropa. Mata biru menjadi ciri khas nya, begitu kontras dengan kulit nya yang putih. Menjabat sebagi seorang konsultan bisnis sekaligus pemilik perusahaan KAJ Ekspor Impor.


2 minggu waktu yang ia butuhkan untuk mendapatkan rekan bisnis dari Indonesia. Dengan kedua asistennya dia berhasil melakukan hal tersebut.


Berdalih sudah 7 tahun berkutat di bidang ekspor impor akhirnya ia mendapatkan seorang klien. Sebuah perusahaan besar yang ingin menggunakan jasanya untuk memasukkan produk mereka ke negara-negara eropa.


Sebuah apartemen mereka sewa untuk sementara bermukim di negara ini. Mereka akan mencari rumah setelah yakin akan menetap meskipun tidak lama. Ketiganya langsung menjatuhkan tubuh mereka ke sofa yang ada di ruang tamu.


" Haaaah akhirnya bisa kembali lagi ke sini," ucap Robert pelan. Pria itu sejenak memejamkan matanya seakan meresapi hawa kota yang beberapa waktu ia tinggalkan.


" Ed, maksudku Bert, apa rencana mu setelah ini?" Tanya salah seorang dari asistennya tersebut.


" Tentu saja membawa barang kita masuk Jas. Apa lagi. Aku punya identitas baru, dan bidang usaha ekspor impor. Tentu itu akan menguntungkan bukan untuk merambah ke benua kuning ini."


Mata Jasper membulat sempurna dengan jawaban Robert aka Khaleed itu. Ya Robertho Philip adalah Khaleed Hosein Jones, pria itu berhasil melakukan kedua rencananya sekaligus. Memalsukan kematiannya dan juga mengubah wajahnya. Dan dua asisten yang dimaksud adalah Jasper dan Odion.


" Apa kau serius melakukan itu?"


Kali ini Odion yang bertanya. Niat awal mereka datang ke negara ini untuk sekedar mencari hiburan dengan memenuhi sebuah pertemuan bisnis. Tapi rupanya bukan itu yang ada di pikiran Robert. Ia sudah merencanakan akan melakukan hal lain rupanya.


" Memangnya aku pernah main-main mengenai segala sesuatu Di. Memutuskan kembali ke negara ini tentu aku harus melebarkan sayap bukan. Barang baru itu tentu harus bisa dinikmati lebih banyak orang bukan?"


" Tapi, di sini masih ada dua klan mafia besar."


Odion sungguh merasa khawatir mengenai hal tersebut. Nama klan Wild Eagle dan Black Wolf memang sudah tidak terdengar lagi tapi bukan berarti mereka sudah musnah bukan? Ah, pikiran Odion sungguh kemana-mana. Perasaan pria itu pun campur aduk. Khaleed seakan acuh dengan fakta mengenai dua klan mafia tersebut.


" Oh ayolah Di, mereka sudah lama tenggelam. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kan pernah ku bilang masa emas mereka sudah lewat jadi apa sih yang buat mu begitu ketakutan. Aneh."

__ADS_1


Khaleed beranjak pergi menuju salah satu kamar yang ada di apartemen tersebut. Sedangkan Jasper dan Odion hanya saling pandang. Keduanya menghela nafas bersamaan.


Rupanya Khaleed tetap tidak berubah. Dia masih sesukanya sendiri dalam bertindak. Tidak pernah mau memikirkan terlebih dulu sebab dan akibat yang akan dihadapi nanti.


" Lalu apa kita akan membiarkan dia melakukan itu Di?"


" Entahlah Jas, aku sendiri bingung. Tapi sebaiknya kau cari informasi mengenai kedua klan mafia itu. Mereka memang tidak terdengar dan tidak terlihat tapi aku yakin mereka masih ada."


Jasper mengangguk mengerti. Ia bahkan sudah mengambil laptop nya dari dalam tas dan mencoba berselancar ke dunia maya mencari apa yang Odion minta.


Odion membuang nafasnya kasar. Ia sungguh kewalahan menghadapi Khaled saat mode ngeyel dan tidak bisa dikasih tahu. Terlebih jika sudah punya keinginan, bocah itu benar-benar keras kepala.


🍀🍀🍀


Tim Bravo mendarat sempurna di markas besar. Ke enam orang tersebut langsung menghadap Kolonel Hendar Umbas. Memberi hormat lalu menyampaikan hal sederhana.


" Maaf pak, apakah ada tugas lagi?"


Pertanyaan Dita ditanggapi sebuah tawa kecil dari sang atasan. Dita memang seperti yang orang-orang bicarakan, selalu to the point dan apa adanya.


" Bukan, aku tidak akan mengirim kalian misi dalam waktu dekat ini. Yang pertama aku mengucapkan terimakasih dan maaf karena tidak menyampaikan situasi yang sebenarnya kepada mu mengenai tugas kemarin. Yang kedua, Dita apa mau berkenalan dengan putraku?"


Dita sedikit terkejut dengan perkataan atasan nya yang terkahir. Namun, ia tahu apa maksudnya. Gadis itu tersenyum, ia tentu sudah punya jawaban.


" Pak, kalau cuma berkenalan sih saya mau-mau saja. Tapi berkenalan dalam makna yang lain maaf saya tidak bisa. Saat ini saya punya hati yang untuk di jaga."


" Apakah artinya kamu sudah punya kekasih?"

__ADS_1


Dita mengangguk dengan mantab. Dia harus menjawab hal tersebut dengan tegas. Bukan hanya satu pak tapi dua, soalnya yang satu belum beres. Eh tapi dia katanya sudah end sih pak. Berarti ya cuma satu saja kekasih saya, Dita bergumam dalam hati.


Tampaknya gadis itu benar hanya sekedar nyaman bersama dengan Ameer. Nyatanya ketika kabar kematian Khaleed aka Ameer menyebar, dia tidak merasakan kesedihan. Terlebih pria itu banyak sekali berbohong untuk bisa mendekatinya.


" Cowok modus," ucap Dita lirih saat mengingat bagaimana Khaleed dulu mendekatinya.


" Haish, tampaknya aku kalah start ini," keluh Kolonel Hendar.


" Aah bapak bisa saja. Lagian Bang Anes kan dokter pak. Waduuh saya tidak bisa membayangkan menikah dengan dokter, papa dan kakak saya dokter jadi saya tahu kesibukan mereka. Yang ada kita nanti tidak bisa sering bertemu, eeh nanti malah saling selingkuh lagi kan repot."


Hendar, atasan Dita itu seketika tertawa keras mendengar analisa bawahannya tersebut. Gadis di depannya ini benar-benar pintar menolak tanpa menyakiti hati orang lain. Akhirnya Hendar pun menyerah, sepertinya Dita memang sudah memiliki kekasih hati. Penolakannya terhadap perkenalan ini bukan hanya semata-mata menghindari.


" Haish, baiklah kalau begitu. Bolehkah aku tahu siapa dia?"


Pertanyaan Hendar membuat Dita sedikit terkejut. Ia bingung bagaimana menjawabnya.


" Tidak usah dijawab. Tapi ada satu hal yang perlu kamu ingat. Kalian tidak bisa di satu tim yang sama. Kamu pasti tahu itu. Jika benar tebakanku, maka salah satu dari kalian harus keluar dari Tim Bravo. Bagaimana pun juga kalian pasti akan menggunakan perasaan saat bertugas, dan itu jelas berbahaya."


Dita yang tadi sempat menunduk kini langsung menegakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah sang atasan. Hendar mungkin tidak tahu siapa orang itu, tapi ia yakin pasti pria yang saat ini bersama Dita adalah salah satu dari anggota tim.


" Apa kamu mengerti Letkol Nandita?"


" Siap mengerti!"


Dita memberi hormat lalu pamit undur diri. Apa yang dikatakan oleh atasannya itu tiba-tiba memenuhi relung hati dan pikirannya.


" Memilih salah satu untuk keluar dari tim? Lalu siapa yang harus keluar. Ini akan jadi pilihan sulit?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2