Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
CTCL 33. Harus Terima Akibatnya


__ADS_3

Krasak


Krasak


Suara langkah kaki beberapa orang dapat di dengar oleh Tim Bravo. Saat ini mereka bersembunyi di balik semak-semak dan menahan segala gerakan. Bahkan gigitan nyamuk di pipi mereka pun sebisa mungkin mereka tahan untuk tidak memukulnya.


Dita menajamkan pengelihatannya. Tampak sekitar 3 orang berjalan dengan menenteng senjata laras panjang. Dan satu lainnya sambil membawa sebuah obor.


" Sudah 4 hari orang-orang berseragam tentara itu kita tahan. Sampai kapan kira-kira kita akan meminta kemerdekaan sebagai syarat untuk melepaskan mereka?"


" Entahlah, itu hanya ketua yang tahu."


Tim Bravo saling pandang mendengar percakapan mereka itu. Satu kesimpulan yang mereka dapat bahwa rekan mereka ditahan oleh orang-orang itu. Tapi mereka tentu tidak bisa langsung menyergap. Tim Bravo butuh orang-orang tersebut untuk menemukan lokasi mereka.


" Apa langsung alan mengikuti mereka?" tanya Brahma kepada Dita sambil menggaruk pipinya yang digigiti nyamuk sedari tadi.


" Iya tapi tidak langsung, kita harus menjaga jarak aman. Aku yakin mereka memiliki insting yang kuat," Jawab Dita pelan. Mereka tentu tidak bisa mengikuti orang-orang itu dari jarak dekat. Berjalan di malam gelap begini di tengah hutan pasti sudah biasa bagi mereka dan pergerakan sedikit pun pasti bisa di dengar. Maka dari itu Dita memerintahkan tim nya untuk bergerak setelah mereka sedikit berjalan jauh.


Dan saat ini 10 menit berlalu, merek mulai berjalan mengikuti arah orang-orang tadi yang melintas. Meski lumayan berjarak, namun mata tajam Tim Bravo masih bisa melihat jejak dari mereka. Kali ini mereka benar-benar berhati-hati dalam melangkah. Hutan nan gelap itu mereka tembus tanpa penerangan apapun karena menghindari ketahuan.


Bukan jarak yang dekat rupanya, mereka mengikuti ketiga orang bersenjata itu sudah selama satu jam namun belum juga sampai di lokasi tujuan. Awalnya Dita meragu, ia pikir ini adalah perangkap namun mata Dita berbinar saat melihat permukiman.


Tidak ada cahaya lampu memang di permukiman itu. Hanya ada obor minyak sebagai penerangan. Akan tetapi ada satu hal yang menarik perhatian Dita. Di sana tampak terdapat sebuah heli, mungkin itu adalah hasil jarahan mereka. Entahlah, bukan itu yang harus dipikirkan saat ini.


" Kita berhenti di sini," ucap Dita memberi perintah kepada kelima anak buahnya. Mereka tidak bisa lebih dekat lagi karena untuk menghindari kelompok itu menyadari keberadaan mereka. Bahkan Dita meminta tim nya untuk mundur ke belakang dan mengambil lokasi menyerong. Dita khawatir jalan yang mereka pijaki saat ini adalah jalan yang biasa dilewati. tetu saja Dita tidak mau ketahuan.

__ADS_1


" Lalu kapan kita akan beraksi letnan!" tanya Adyaksa.


" Tunggu Lettu Ady, kita akan mengamati dulu. kita tentu tidak boleh gegabah. Malam ini kita lihat apa saja kegiatan mereka. Kita akan berjaga bergantian," jelas Dita menjawab pertanyaan dari salah satu anak buahnya tersebut.


Mereka mendirikan sebuah selter, hanya untuk berteduh sesaat dan menyelonjorkan kaki. Bagaimana pun mereka tetap harus menjaga diri agar bisa berhasil dalam misi. Eka mengeluarkan sebuah teropong mencoba melihat apa yang terjadi di permukiman tersebut. Mata pemuda itu membulat sempurna sambil memukul-mukul lengan Brahma yang ada di sampingnya.


" Kenapa Ka?" tanya Brahma seketika.


" Bang, lihat ini bang. Cepet!" sahut Eka dengan sedikit menarik lengan baju Brahma. Brahma pun segera berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Eka. Eka lalu memberikan teropongnya kepada Brahma.


" Astagfirullah."


Brahma tampak terkejut melihat apa yang terjadi di depannya itu. Memnag tidak terlihat jelas tapi ia tentu tahu apa yang terjadi di sana.


" Kenapa bang?"


Dita meraih teropong yang dipegang oleh Brahma lalu mencoba melihat apa yang terjadi di depan sana. Darah Dita seakan naik ke ubun-ubun, tangannya mencengkram erat teropong yang dipegangnya. Bahkan Dita menggertakkan gigi-giginya menahan amarah.


" Sabar, tenang bang. Kita tidak boleh gegabah."


Apa yang dikatakan Dita kepada Brahma sebenarnya juga berlaku untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh mencampur adukkan perasaan dengan tugasnya. Ia harus berpikir rasional.


Apa yang dilihat Dita, Brahma dan Eka adalah para rekan mereka diseret dengan kejam dan dihajar. Mereka juga disiram air lalu kembali dipukuli. Alsaki, Adyaksa dan Indra pun bergantian melihat. Mereka tak kalah marahnya saat ini.


" Kapan kita akan bertindak?" tanya Alsaki kali ini.

__ADS_1


" Menjelang subuh." Jawab dita mantab.


Beberapa jam menjelang subuh mereka gunakan untuk beristirahat sambil mendoakan semoga rekan merek baik-baik saja. Mengapa mereka tidak menyerang saat malam? Dilihatnya kelompok tersebut tengah berpesta. Bisa dipastikan mereka akan bergadang dan menjelang waktu subuh pasti mereka semua terlelap. Itu adalah pertimbangan yang Dita lakukan. Lagi pula mereka tidak boleh asal menyerang tanpa strategi apapun.


Alsaki dan Adyaksa yang kali ini berjaga. Ia sedari tadi melihat ke arah Dita lalu membuang nafasnya kasar.


" Kenapa?" tanya Adyaksa.


" Hanya memikirkan sesuatu," jawab Alsaki asal. Ady hanya mendengus kesal mendengar jawaban suka-suka dari Alsaki. Ia tahu pasti, temannya itu sedang memikirkan soal Dita.


Tapi setelah di review ke belakang, dari kemarin Alsaki dan Dita bertemu mereka tidak terlihat canggung sama sekali. Bukan tidak canggung sih tapi mereka memang tidak berkesempatan berbicara berdua.


Netra Alsaki kembali menatap Dita dengan seksama. Ia tahu bahwa gadis itu tidak tidur. Sebuah pertanyaan muncul dari benak Alsaki, apakah mungkin Dita tidak menganggap ciuman mereka malam itu. Waktu Dita mengatakan ingin memastikan sesuatu dan tiba-tiba malah mencium bibirnya kembali, tidak ada reaksi apapun dari Dita. Gadis itu hanya melenggang pergi pamit untuk pulang.


" Apa Dita benar-benar tidak ada rasa padaku ya. Ah bodo amat, mau dia punya rasa kek, enggak kek, yang penting aku harus mengatakan perasaanku nanti. Aku nggak mau mati penasaran."


Rupanya tekad Alsaki benar-benar kuat untuk mengutarakan rasa hatinya kepada Dita. Ia sudah menunggu lama untuk saat ini, meskipun terbilang terlambat menyadari bahwa dirinya tidak bisa melihat Dita dengan pria lain.


Beberapa jam berlalu. Tim Bravo sudah siap untuk menyusup ke permukiman tersebut. Rupanya Dita mengubah waktu, tidak menjelang subuh tapi sekitar pukul 03.00 mereka mulai bergerak.


Mereke meninggalkan perbekalan mereka di tempat itu dan hanya menenteng senjata aja. Senjata laras panjang di tangan, pistol di kanan dan kiri sisi tubuh serta belati khas milik prajurit militer juga menempel di tubuh mereka. Namun ada senjata lain yang ada di dalam saku baju Dita yang tidak dipunyai oleh anggota timnya yang lain. Sebuah pistol mini yang didalamnya berisi jarum beracun buatan Uncle Jason. Dimana pistol tersebut menyimpan paling tidak 100 jarum kecil nan lembut tapi mematikan.


" lihat saja, kalian pasti akan habis kali ini. Siapa suruh membuat memperlakukan rekan-rekan kami seperti itu. Kalian harus terima akibatnya."


TBC

__ADS_1


__ADS_2