Satoe Tanda Cinta Letnan

Satoe Tanda Cinta Letnan
STCL 49. Permintaan Queen


__ADS_3

Tanti sungguh terkejut melihat seorang wanita yang saat ini berjongkok di depannya. Orang yang bertabrakan dengannya itu tengah membantunya untuk kembali berdiri. Mata Tanti membulat sempurna melihat wanita itu.


" Kau, mengapa kau bisa di sini?"


" Maaf, apakah ibu mengenal saya. Oh iya apakah ibu baik-baik saja?"


Tanti kembali terdiam. Wanita yang ada di depannya itu jelas seorang wanita berusia 20 tahunan. Jadi tidak mungkin ibu dari Alsaki itu masih hidup. Seandainya pun masih hidup bukankah usianya tidak akan terpaut jauh dari dirinya?


Tanti menggelengkan kepalanya pelan lalu menampik tangan wanita itu. Si wanita hanya tersenyum simpul. Ia lalu menundukkan kepalanya sejenak dan berlalu dari hadapan Tanti. Sedangkan Tanti, ia terus melihat perginya wanita itu hingga tak lagi terlihat. Ia membuang nafasnya kasar. Kenapa akhir-akhir ini dia seakan-akan diingatkan kembali pada istri Bagio yang sudah tiada itu.


Wanita itu bergegas untuk pulang. Rencana yang dia susun hancur berkeping-keping. Bisa dipastikan dia akan hidup susah. Tidak lagi ada uang yang menjamin hidupnya membuat wanita itu sungguh kebingungan.


Sesampainya di rumah dia mencari sertifikat rumah milik Bagio. Semua lemari sudah dia jelajahi namun dia tidak menemukannya. Tanti berteriak frustasi. Ia lalu melihat sekeliling rumah, memindai satu persatu benda yang ada di rumah itu dan berpikir kira-kira benda apa saja yang bisa dia jual.


Bukan berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan tapi dia malah sibuk mengumpulkan barang yang ada di rumah untuk di jual. Definisi orang yang tidak mau susah dan hanya ingin enaknya saja.


🍀🍀🍀


Dita dan Alsaki saat ini sedang mempersiapkan pernikahan mereka. Tidak seperti warga sipil yang langsung mengurus ke kantor urusan agama dan bisa langsung melakukan ijab qabul. Bagi mereka banyak hal yang musti diurus. Pernikahan kantor menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan.


Menjadi anggota militer maka merekapun harus mengikuti tatacara pernikahan militer yang memang sudah ditetapkan oleh kesatuan. Setidaknya ada lebih dari 15 berkas yang harus mereka kumpulkan.


Awalnya Tim Bravo terkejut saat mengetahui Dita dan Alsaki akan menikah. Namun mereka tentu langsung berucap syukur. Sungguh itu adalah hal yang membahagiakan.

__ADS_1


Terlebih Brahma, pria itu merasa begitu bersyukur. Tidak hanya sekali ia mengucapkannya. Brahma paling tahu tentang Alsaki. Ia sangat bahagia saat Alsaki memberitahunya secara khusus mengenai rencana pernikahan mereka.


" Alhamdulillaah aku ikut seneng Al. Gimana, keluarga mereka baik bukan? Aku yakin mereka akan menerimamu dengan baik."


" Iya bang, mereka sungguh sangat baik."


Senyum mengembang dari bibir semua anggota tim Bravo. Tapi masih ada satu hal lagi yang belum Dita ataupun Alsaki sampaikan yakni mundurnya Dita dari Tim Bravo. Meskipun itu sudah jelas tapi belum ada pernyataan resmi dari Dita dan atasan. Tapi yang jelas Dita akan hengkang dari ketua tim Bravo.


Kini Dita dan Alsaki sedang makan malam bersama. Ini hari libur mereka dan Alsaki memutuskan membawa Dita keluar untuk menikmati malam.


" Ta, kamu yakin mau mundur dari ketua tim?" Alsaki memulai pembicaraan dengan Dita tentang tim Bravo. Gadis itu mengangguk cepat. Seperti yang dikatakan oleh sang papa bahwa hakikatnya wanita nanti akan hamil dan memiliki anak. Sepertinya Dita memang harus stay saja di kantor atau bisa jadi ikut menjadi salah satu pelatih tim pasukan khusus.


" Sudah ah jangan dibahas tentang itu. Oh iya bang, kapan kamu akan mempertemukan ku dengan ayahmu. Bagaimana pun kita juga harus meminta restu bukan?"


Sudah hampir satu bulan Bagio di tahan dan Alsaki memang belum sekali pun menjenguk sang ayah. Bisa Dita lihat bahwa Alsaki masih enggan menemui ayahnya tersebut. Dita lalu tersenyum dan menepuk pelan punggung tangan calon suaminya.


Alsaki hanya tersenyum simpul. Apa yang dikatakan Dita sepenuhnya benar. Dia memang belum siap berhadapan dengan Bagio. Entah mengapa tapi yang pasti Alsaki masih belum bisa menemui ayahnya tersebut. Ada segores luka dihati Alsaki yang mungkin sungguh susah untuk disembuhkan.


***


Lain Dita lain pula Robertho aka Khaleed. Pria itu saat ini sedang duduk termenung di taman rumah sakit milik Jason. Ia sungguh bingung dengan dirinya sendiri.


Dari dua minggu kemarin kesehatan fisiknya mulai pulih. Luka yang ada ditubuhnya akibat kecelakaan juga mulai sembuh. Akan tetapi pikirannya menjadi kacau.

__ADS_1


Terkadang ia merasa pernah ada di suatu tempat dan merasa bahwa dia adalah seorang pemimpin. Ia juga merasa dirinya adalah orang yang memiliki kekuasan. Namun hari selanjutnya ia merasa dirinya bukan siapa-siapa atau bisa dibilang dia merasa linglung.


" Sebenarnya siapa aku. Aku ini siapa. Mengapa aku bisa di sini. Tapi aku merasa aku bukan orang sini."


Pertanyaan itu terus berputar di kepala Robertho. Bahkan sesekali ia merasa kepalanya sungguh sakit saat beberapa bayangan muncul. Bayangan-bayangan itu seakan menggambarkan siapa dirinya tapi tentu ia juga merasa bukan dirinya.


Nguuuuiiiing


Kedua telinga Robertho berdengung. Ia langsung mencengkeram erat rambutnya dengan kedua tangan. Rasa sakit di kepalanya kembali menyerang. Dari arah belakang Jason tersenyum. Ini yang diminta Queen kepadanya, menyiksa pria itu secara emosional dengan mengacaukan pikirannya.


Jason secara berkala menyuntikkan obat penghilang ingatan dan penawarnya. Maka dari itu Robertho kadang ingat dan kadang lupa siapa dirinya. Dari situ pikiran pria tersebut mulai kacau. Sakit kepala yang timbul adalah efek dari syaraf otaknya yang berpikir terlalu keras.


" Haish, siapa suruh kau berhadapan dengan wanita itu. Sudah bagus kamu anteng-anteng mengubah wajahmu eeh malah nyari gara-gara dengan dia. Mending tubuhmu masih utuh. Kau benar-benar harus belajar banyak sebelum mengambil keputusan. Tapi aku juga jadi untung sih. Aku punya objek penelitian yang baru."


Jason menarik satu sudut bibirnya. Dokter itu lalu membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam bangunan rumah sakit. Tidak ada niatan dari diri Jason untuk memberikan obat penghilang rasa sakit kepada Robertho. Ia sungguh membiarkan pria itu tersiksa dengan rasa sakit kepala yang semakin hebat.


" Dok, pasien itu?"


" Awasi saja, tunggu sampai di pingsan lalu bawa dia kembali ke kamarnya."


Seorang perawat laki-laki mengangguk. Ia patuh dengan perintah sang atasan. Karena rupanya bukan hanya sekali ini saja Robertho dibiarkan seperti itu. Dan, perawat itu rupanya sudah tahu. Gedung belakang tempatnya bekerja tentu beda dengan gedung depan. Perawat yang ada di gedung belakang memang khusus. Mereka sangat paham dan mengerti dengan keadaan para pasien yang ada di sana.


Jason melenggang ke dalam ruangannya. Ia lalu mengambil ponsel dan melaporkan perkembangan mengenai Robertho kepada Queen.

__ADS_1


" Thanks Jas, aku percayakan pria itu padamu. Awalnya aku akan mengirim dia kembali tapi tampaknya dia lebih berguna untukmu."


TBC


__ADS_2