
Hari berganti, Tanti bersiap menuju tempat kerja Alsaki. Ia akan melanjutkan rencananya untuk mengusik Alsaki. Wanita itu tidak akan tinggal diam melihat Alsaki hidup dengan baik sedangkan kedua anaknya ada dalam penjara. Terlebih Reno dan Resa mendapat hukuman kurungan maksimal yakni 5 tahun.
Reno dan Resa akan berada di penjara selama 5 tahun dan tidak akan ada yang bisa membuat mereka keluar lebih cepat. Hal tersebut tentu sudah diatur oleh pengacara yang Dita minta dari uncle nya. Pamannya itu mengatakan bahwa semuanya akan beres dan tidak perlu khawatir lagi. Terlebih bukti yang diberikan Alsaki sangat jelas.
Akan ada satu kejutan dari pengacara Alsaki yang akan membuat Tanti tidak berkutik nanti. Dan mungkin kali ini benar-benar sebuah pertunjukan hebat akan disaksikan.
Dengan langkah penuh percaya diri Tanti memasuki markas dan menanyakan keberadaan Alsaki. Prajurit yang menjaga pos itu sedikit terkejut saat Tanti mengatakan bahwa Tanti adalah ibu dari Alsaki. Yang mereka tahu Kapten Alsaki yang sekarang sudah berubah menjadi Mayor Alsaki itu ibunya sudah tiada.
" Maaf nyonya setahu kami Mayor Alsaki ibunya sudah meninggal."
Tanti sedikit salah tingkah ketika prajurit tersebut mengatakan hal itu. Ia tentu tidak bisa mendebatnya karena apa yang dikatakan orang itu benar adanya.
" Haish, baiklah. Aku ini ibu tirinya. Aku kesini mau menemui Alsaki untuk membebaskan anak-anak ku dari penjara. Alsaki sungguh tega sudah memasukkan kedua adiknya dan bapak kandungnya sendiri ke penjara."
Prajurit tersebut mengerutkan kedua alisnya. Ia sungguh bingung dengan setiap kata yang terucap dari bibir Tanti. Jelas dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Tanti baru saja.
Dari pada semakin bertambah bingung, Akhirnya prajurit itu menelpon Alsaki dan mengatakan bahwa ada orang yang mencarinya. Di dalam kantor Alsaki menyunggingkan senyumnya. Tampaknya drama sudah dimulai maka ia pun akan bermain. Alsaki menghampiri Dita dan mengatakan apa yang di luar sedang terjadi.
" Wohooo ternyata ini adalah saatnya. mari kita mainkan peran kita."
Alsaki dan Dita mealkukan tos. Hal tersebut tentu dilihat oleh keempat rekan mereka tapi mereka tidak berani bertanya dan memilih melihat saja.
Satu pertanyaan terbit di salah satu rekan Dita dan Alsaki," Bang Brahma, mereka kenapa?"
__ADS_1
" Entahlah Ndra, dua orang itu kadang prik kalau lagi bersama. Tuh buktinya. Entah apa yang mereka berdua sedang lakukan. Sudah diam saja biarkan mereka mau melakukan apa yang mereka mau. Kita cukup jadi penonton."
Pada dasarnya kasus pencurian itu memang tidak ada yang mengetahui. Alsaki sungguh tidak ingin rekan satu tim nya itu menjadi khawatir. Terlebih Brahma, Brahma yang tahu persis mengenai kehidupan keluarga Alsaki tentu pasti akan langsung marah jika tahu apa yang dilakukan oleh Bagio, Reno dan Resa.
" Maaf Mayor Alsaki ini ada orang datang mengaku sebagai ibu anda."
" Bukan mengaku, aku ini memang ibu nya meskipun hanya ibu Tiri."
Tanti berkata galak, ia sungguh terlihat emosi saat melihat Alsaki berdiri di depannya. Keinginannya untuk mengatakan kesemua orang mengenai apa yang dilakukan Alsaki kepada anak-anaknya begitu menggebu.
" Ada apa Anda mencari ku nyonya."
" Apa kau bilang, ada apa? jangan berlagak tidak bersalah. Kamu tahu persis apa yang sudah kamu lakukan kepada anak-anakku. Ya kali adik datang ke rumah kakaknya kamu tuduh membobol rumah, dan hanya membawa baju mu saja kau tuduh mencuri. Apa ini sikapmu terhadap keluarga hah?"
" Sepertinya anda sudah salah kira nyonya. Apa yang Anda katakan itu sepenuhnya salah. Yang Anda katakan memasuki rumah kakaknya dan mengambil barang itu bukan rumah saya. Itu adalah rumah Letkol Dita, beliau ini adalah atasan saya. Jadi kedua anak Anda jelas sudah mencuri di rumah beliau."
Bagai disambar petir saat hari panas dengan terik matahari yang sangat menyengat, Tanti begitu terkejut dengan penuturan Alsaki. Bagaimana mungkin itu adalah rumah orang lain, Apakah mereka salah rumah? Itulah yang ada dalam pikiran Tanti. Tubuhnya terhuyung bahkan hampir saja jatuh jika dia tidak berpegangan pada dinding pos jaga yang ada di sampingnya.
" Aah iya satu lagi, beruntung Letkol Dita tidak menyiarkan ini kepada publik. Apa Anda tidak tahu betapa terkenalnya beliau, jika beliau sampai bicara di depan media maka aku yakin kedua anak Anda pasti tidak akan pernah berani menunjukkan batang hidungnya meskipun nanti mereka sudah keluar dari tahanan. Jika Anda tidak percaya cari saja nama Nandita Jyotika Lagford."
Seperti terhipnotis Tanti langsung mengambil ponselnya dalam tas dan mengetik nama yang Alsaki katakan. Mata Tanti membulat sempurna saat membaca satu demi satu yang tertulis disana. Wanita paruh baya itu memastikan orang yang berdiri di sebelah Alsaki benar-benar wanita yang memilik segudang prestasi dan dari keluarga terpandang. Bahkan fans di media sosialnya mencapai angka jutaan.
Tanti menelan saliva nya dengan susah payah. Ia sama saja masuk ke dalam kandang macan jika begini. Wanita itu pun seketika membalikkan badannya dan berjalan cepat. Niat hati ingin menjatuhkan Alsaki tapi malah dia yang seakan-akan terperosok ke dalam jurang yang dalam.
__ADS_1
" Huft, akhirnya beres juga."
" Kan apa aku bilang. Ini akan berhasil. Dia tidak akan berani lagi mengusik mu."
Netra Alsaki menatap Dita dengan tatapan yang dalam. Ia merasa Tuhan sungguh baik kepadanya karena telah mengirimkan Dita dalam hidupnya. Tak hentinya Alsaki mengucapkan syukur. Semenjak bersama Dita hidupnya semakin berwarna. Ia tidak lagi merasa sendiri.
" Terimakasih Ta, kamu sudah banyak membantuku." Alsaki mengucapkannya dengan begitu tulus.
" Haish, gemes, pegen tak cubit tapi kok ini dikantor." Dita malah salah fokus dengan wajah Alsaki yang menurutnya sangat menggemaskan. Merasa tidak tahan gadis itu berjalan lebih dulu dan meninggalkan Alsaki yang masih bengong karena ucapan sang kekasih.
Beda Alsaki beda lagi Tanti. Setelah mengetahui fakta itu Tanti kini benar-benar dilanda kecemasan. Sepanjangan jalam menuju rumahnya wanita itu tak henti-hentinya bergumam.
" Bagaimana aku hidup. Apa yang harus kulakukan?"
Rupanya ia tidak mengkhawatirkan kedua anaknya. Dia lebih khawatir terhadap dirinya sendiri. Dia mengkhawatirkan hidupnya ke depan. Tidak ada lagi uang untuk hidup. Apakah ia harus bekerja tapi kerja apa sedangkan sudah puluhan tahun ia tidak bekerja. Lagi pula usinya sudah akan menginjak angka 50 tahun, siapa juga yang akan mau mempekerjakannya.
Tanti mengacak rambutnya frustasi. Pandangan orang terhadapnya ia acuhkan. Ia sungguh tidak peduli. Tanti terus berjalan sambil bergumam hingga tubuhnya bersinggungan dengan seseorang. Tanti sungguh terkejut saat melihat orang itu tersenyum padanya.
" Maaf apa Anda terluka."
" K-kau, bagaiman k-kau di sini?"
TBC
__ADS_1