
Saat Milka, Lani dan Dian sedang asik menikmati nasi padang tiba-tiba ada yang memanggil nama mereka “Hai Lani, Milka, Dian” sapa Brian teman Evan. “Hai Kak” jawab mereka bertiga kompak. “Duh kompak amat sih kalian” seru Dion. Disambut tawa mereka. “Makan Kak” tawar Lani ke Brian, Evan dan Dion. “iya silahkan, kami juga baru mau pesan ni” jawab Evan sambil melirik ke Milka, Milka hanya tersenyum.
Gerak gerik mereka tertangkap oleh Brian juga Lani. “Hm.. hm.. mo pesen gak ni apa mau lirik-lirikan aja?” ledek Brian. Sontak Evan pun kaget lalu menuju tempat pesan makanan. Lani pun melirik kearah Milka juga Dian seolah berbicara dengan mata mereka. “hm kayaknya ada sesuatu ni antara kamu sama Kak Evan” pancing Lani ke Milka. Dan karena Milka tipe orang yang gak bisa bohong, dia pun mengangguk “aku kemarin jadian sama Kak Evan” jawab Milka pelan dan malu-malu. “Wah selamat yah Milka, gak nyangka banget lho gue, loe bisa jadian sama Kak Evan yang ganteng badai itu.” Kata Lani. Kehebohan Lani dan Dian pun terlihat oleh Evan, dan Evan hanya senyum-senyum, dia yakin kalau Milka sudah mengumumkan hubungan mereka. Dia senang Milka mau mengakui hubungan mereka, biar semua pada tahu dan gak ada yang berani deket-deket Milkanya.
__ADS_1
Brian yang melihat Evan senyum-senyum langsung penasaran. “Napa loe senyum-senyum mulu kayak orang sakit jiwa” kata Brian. “Tar juga loe tahu” kata Evan yang masih senyum-senyum dan langsung pesen makanan. Setelah mereka pesan makanan, Lani pun memanggil mereka. “Kak sini gabung aja, masih cukup kursinya. Dia sengaja memanggil senior-senior mereka. Untungnya Lani anak yang supel, jadi mereka gampang berbaur.
Lani mempersilahkan Evan duduk disamping Milka. Tentu saja dengan senang hati Evan duduk disamping Milka. Saat mau duduk Evan seraya memegang punggung Milka sayang. “sudah selesai makannya?” tanya Evan pelan. “Iya Kak sudah, met makan ya Kak” jawab Milka pelan. Evan pun mengangguk. Dan makanan mereka pun datang. Sambil makan mereka ngobrol-ngobrol, sudah seperti triple date, Evan dengan Milka, Brian dengan Lani dan Dion dengan Dian. Baru kali ini mereka ngobrol santai bersama. Tangan Evan meraih tangan Milka dibawah meja dan menggenggamnya, Milka melirik sekilas takut ada yang melihat, tapi untungnya semua sedang sibuk ngobrol. Senang bukan main rasanya Evan dan Milka. Mereka pun selesai makan dan kembali ke kantor untuk melanjutkan sisa hari.
__ADS_1
Pas sampai di rooftop dengan membawa kopi masing-masing, Brian mulai pembicaraan. “Jadi ada apa ni antara loe sama Milka, gue koq liat gelagat ada sesuatu yang manis antara loe berdua” cecar Brian tanpa basa basi. Evan yang ditanya hanya senyum lalu meminum kopinya. “Iya loe ada apa dah, kenapa gak cerita-cerita ke gue” tanya Dion juga. “Hahaha kepo loe pada kayak cewek” jawab Evan asal. “Buruan nyet cerita or gue tanya langsung ke Milka ni” ancam Brian. “hahaha selow-selow. Iya iya gue cerita. Gue udah jadian sama Milka” kata Evan tanpa basa basi.
“Haa? Beneran? Hebat juga loe, gue pikir gak ada yang bisa deketin tu anak, karena dia diem banget dan kalem banget padahal cantik tu anak, gue juga sempet suka sebenernya” kata Brian. “woi woi woii da jadi pacar gue tuh” sungut Evan. “Hahaha kan gue bilang duluuu nyett” jawab Brian senang karena Evan posesif. “loe kasih jampi-jampi apa tu anak sampe mau sama loe?” tanya Dion. “rese loe” kata Evan. Tapi Evan lega teman-temannya pada tahu, jadi dia tidak perlu menutup-nutupi hubungannya dengan Milka.
__ADS_1
“Jangan loe mainin tu anak ya” kata Brian menasehati. “Ya elah nyet loe kayak bapaknya aja” jawab Evan sambil tertawa, “tanpa loe suruh juga gue pasti jaga Milka, entah kenapa, gue sayang banget sama dia, pengen buru-buru gue kawinin rasanya takut diambil orang” kata Evan santai. “Nikah nyet, nikah… bukan kawin” kata Dion membenarkan Bahasa Dion yang dianggap ambigu. “Hahaha iya iya nikah, kayak guru Bahasa Indonesia aja loe nyet” jawab Evan sambil meminum kopinya. Selesai minum kopi pun mereka segera kembali ke tempat masing-masing.