
Seperti biasa, Milka pagi-pagi sudah duduk manis sarapan di rooftop. Dia agak berharap Kak Evan datang lagi, tapi hingga dia selesai sarapan dan beberapa temannya datang, Kak Evan tak kunjung kelihatan batang hidungnya di rooftop hingga mereka kembali ke ruangan masing-masing.
Ketika Milka sedang asik menggambar, ada suara yang ditunggu-tunggunya dari pagi. “Milka gue pinjem yang pernah loe beli donk” kata Kak Evan sambil duduk di kursi kosong samping Milka. “yang buku Beautiful House ya Kak?” tanya Milka, “yups anda benar, 100 buat Milka” canda Evan. Milka hanya tersenyum dan segera mengambil bukunya dari dalam lacinya. “ini bukunya Kak”, Evan mengambilnya dan membuka-buka sebentar dan berkata “pinjam bentar yah, hari ini langsung gue kembalikan sebelum pulang”. “Iya gak apa-apa, aku juga belum bisa lanjut baca sekarang koq” jawab Milka. Evan pun mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dan langsung berdiri untuk kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka, Aditya. Dia adalah salah satu rekan kerja di tim Milka, dia memang sudah menyukai Milka sejak awal Milka bergabung. Dia senior di perusahaan ini, Aditya cukup tampan dan tegas sebagai senior, dia juga tidak segan membagikan ilmu kepada juniornya, apalagi kepada Milka.
Evan asik membuka tiap lembar buku yang dipinjam dari Milka, sampai di satu halaman, dia melihat ada post it kecil terselip bertuliskan “my dream house”. Evan membatin “ini tulisan Milka kayaknya, oh jadi seperti ini rumah impiannya Milka, "nice” Evan bergumam sambil tersenyum. Dia ambil pensil dan menulis dibawahnya “nice, I am sure you can make it cometrue” dan emoticon smile. Lalu dia kembali membalik setiap halaman buku tersebut.
__ADS_1
“Milka, sini” teriak Lani ketika Milka tiba di rooftop. Milka yang tersenyum berjalan menghampiri Lani. “eh ada apa nih, tumben Milka senyum-senyum gitu?” tanya Lani penasaran. “iya nih Milka, jadi makin manis aja” sahut Dian menggoda. “ah gak ada apa-apa koq” Milka langsung berusaha menyembunyikan rasa bahagianya dan segera membuka kotak makannya. Merekapun makan sambil ngobrol dan tertawa, hanya dengan mereka Milka bisa lebih santai dan terbuka.
Tanpa Milka sadari, Aditya, senior mereka memperhatikan sambil tersenyum melihat tiga sekawan yang sedang asyik mengobrol dan tertawa. Aditya memang senang memperhatikan Milka, apalagi jika Milka sedang tertawa. Bagaikan matahari yang cerah menyinari hati Aditya. Ini salah satu alasan Aditya memilih makan di rooftop, walau terkadang ada teman-temannya yang mengajakanya makan diluar kantor. Karena hanya pada saat ini saja Aditya bisa puas memandangi Milka yang ceria. Entah sampai kapan Aditya hanya bisa memandangi Milka, entah kapan dia berani mendekati Milka dan menyatakan perasaan sukanya.
__ADS_1