
Setelah sesi tatapan mata itu usai, Pram seger mengumpulkan kesadarannya.
Dia berpura-pura ingin mandi juga.
"Aku mandi dulu," jawab sang suami dengan terburu-buru.
"Oh oke," ujar Nana canggung.
Saat Pram berada di dalam kamar mandi, Nana seger berganti baju di ruang ganti.
Dia bisa membedakan ruang ganti wanita dan pria, untung saja ada tulisan di papan pintunya.
Dia masuk ke dalam ruang ganti itu dan mendapati banyak fakta mengenai Pram.
"Dia sangat rapi dan modal, banyak baju gadis yang bermerek serta kece, semuanya menumpuk di tempat ini, sungguh pria yang penuh dengan perhitungan," batin Nana.
Dia segera memilih salah satu baju yang cocok dengan kepribadiannya.
Dua jam berlalu ....
Pram belum juga keluar dari kamar mandi, padahal Nana selesai berganti baju.
Dia teringat tentang apa yang ia lihat di ruang ganti tadi.
"Apakah dia memiliki cinta sejati?" batin Nana sambil membaca sebuah buku diary yang terselip diantara baju yang ada.
Buku itu tergantung rapi diantara baju-baju.
Dia terus saja membacanya dan mendapatkan sisi lain dari sang suami kontraknya.
Hingga suara pintu terbuka dengan pelan, Nana langsung menyembunyikan buku di bawah bantal.
Sang suami terlihat sangat berbeda dan tampan, wajahnya sangat memukau, membuat orang yang melihat jadi salah tingkah.
Contohnya istrinya sendiri.
"Kenapa dia sangat tampan? apakah karena aku baru menyadari ini semua?" jelas sang istri pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Nana hanya bisa berbicara lewat batin saja sebab tidak mungkin mengatakannya secara langsung.
Hanya saja tatapan mata dari seorang Pram, membuat pesona sang suami semakin terpancar.
"Apa yang kau lihat?" tanya Pram.
"Tidak ada, oh aku baru sadar jika makan malam sudah tiba, sepertinya sejak tadi ibumu mengetuk pintu dan meminta kita makan malam," jawab istrinya beralasan.
"Cih, kau bohong ya?"
"Tidak. Aku tadi mendengarnya."
"Hm, tidak biasanya. Oke, kau tunggu saja aku di sana, aku masih berganti baju."
"Aku akan menunggumu."
"Ya, terserah kau saja."
.
.
.
"Kau sengaja mengerjaiku ya?"
"Aku memang lama kalau ganti baju, memangnya aku kenapa?"
"Aku tidak suka menunggu, cepatlah keluar bersamaku."
Pram tidak menjawab apa yang dikatakan oleh sang istri, keduanya lalu bersamaan keluar dari kamar itu.
Sang suami meminta istri untuk mengandeng tangannya, ini sebagai gimmick yang sempurna.
Meja makan ...
Setelah sampai di meja makan. Memang hanya ada ayah dan ibu Pram.
__ADS_1
Namun mejanya sangat panjang dengan banyak hidangan.
Keduanya duduk berhadapan.
Sang ayah memimpin doa, lalu mereka berempat menyantap makan malam dengan suka cinta.
Makan malam yang hening juga dingin, biasanya Nana akan banyak bicara dan meminta ini dan itu saat berada di rumahnya.
Nana baru saja keluar dari rumahnya, tapi rasanya sangat rindu.
"Namamu siapa?" tanya ayah Pram.
"Aku Anjana, paman," jawab Nana seketika itu juga.
"Aku ayah mertuamu, bukan pamanmu. Panggil saja aku ayah," pinta ayah Pram.
"Baik."
Percakapan terhenti sejenak.
Pram menimpali.
"Jangan memberikan tekanan padanya, atau dia akan kabur seperti kakak."
"Tutup mulutmu, Pram!"
Sang ayah sampai bangkit dan ingin melempar Pram dengan sendok, hanya saja sang ibu lebih gesit.
"Ayah, sudahlah. Kau makan hidangan ini, apa tidak malu dilihat menantu?" jawab ibu Pram.
"Aku tidak perduli! anak ini memang harus diberi pelajaran!"
"Aku sudah kenyang, aku pergi keluar sebentar, cari angin."
Pram dengan percaya diri langsung meninggalkan acara makan malam keluarga.
*****
__ADS_1