
"Aku adalah seorang pria patah hati, selama ini aku mencintai seorang gadis tetapi apa yang aku rasakan tidak sama dengan kenyataan yang sesungguhnya. Dia adalah gadis yang sangat aku cintai karena selama ini, memiliki andil yang besar terhadap kesuksesan yang aku dapatkan. Hingga, Pada suatu hari aku mendapatkan informasi darinya sendiri bahwa ayah dan ibunya ingin menjodohkannya dengan seorang pria yang lebih mapan dariku. Aku tidak percaya karena saat itu adalah hari ulang tahunku, kekasihku adalah seorang yang humoris dan selalu memberikan kejutan berupa kata-kata bohong yang bisa membuatku bahagia tetapi ketika kata-kata itu seperti sebuah peringatan agar aku tidak melangkah lebih jauh dengannya, sungguh membuatku hancur. Strata sosial, antara aku dan dia adalah sama saja tetapi mengapa sudah banyak uang juga ditinggalkan. Cih, itu mengapa aku memilih menjadi seorang pria yang memiliki banyak gadis di luaran sana. Meski aku tidur dengan banyak gadis tidak berarti aku merasa bahagia, justru banyak sekali bayangan kekasihku itu ketika semua gadis menginginkan hal lebih dariku. Kadang, aku merasa seperti pihak yang dimanfaatkan. Aku tak memungkiri itu semua karena wajahku memang tampan," ujar sang suami panjang lebar.
Nana, mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh suaminya, ternyata dibalik semua tingkah yang sangat membingungkan itu terselip sebuah kisah menyedihkan.
Pria itu, tidak sepenuhnya memiliki sifat yang buruk.
"Pram, aku juga memiliki sebuah kisah yang tidak terlalu menyedihkan sepertimu, aku hanya menjadi seorang pemuja rahasia dari seorang pria yang kini menjadi artis terkenal. Aku sudah memberikan banyak hadiah kepadanya tetapi satupun tidak ada yang ia terima, aku menjadi artis yang aneh seperti ini juga karena aku tidak suka banyak orang menjelek-jelekkan aku. Meski aku tidak laku, tapi menjadi seorang yang munafik bukanlah sifatku."
Pram menatap wajah istrinya kemudian tersenyum.
"Kita bisa berteman sepertinya, kau mau menjadi temanku?"
Tatapan mata itu, sangat akrab dan membuat Nana begitu tersipu.
"Aku tidak mau berteman dengan orang seperti ini, jika ingin berteman kau harus akur dengan ayahmu."
__ADS_1
"Haha, syarat macam apa itu? aku tidak suka dengan syarat yang membebani. Aku lebih suka memelukmu saja."
"Heh, apa maksudmu?"
Pram tanpa malu memeluk tubuh istrinya.
Sang ibu yang sedari tadi melihat dibalik jendela, tersenyum.
Selama ini, belum ada gadis yang membuat Pram bisa jujur dengan segala kata hatinya
"Siapa yang mendapatkan jodoh?" tanya seorang pria yang berdiri di belakang ibu Pram.
"Oh, ada kau di sana," ujar ibu Pram.
Dia menoleh dan mendapati sang suami yang belum juga berangkat kerja.
__ADS_1
"Aku merasa anak kita akan berubah setelah ini."
"Aku tidak akan pernah mengizinkan jika dia mencari gadis lain, istrinya adalah pilihan yang terbaik, meski dia adalah artis yang julid, tapi setelah menikah dengan anak kita, dia juga merupakan bagian dari anggota keluarga."
"Anak kita?"
"Iya, Pram kan anak kita, menangnya dia lahir dari mana? lahir dari batu?"
"Haha, kau sangat lucu ya?"
"Memang aku lucu, sangat lucu."
Sang suami kemudian pergi dari sana dan menyisakan senyum terbaik dari ibu Pram.
"Aku tahu jika ayah Pram, tidak selamanya membenci Pram. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hatimu," batin ibu Pram.
__ADS_1
*****