Sebatas Pernikahan Kontrak

Sebatas Pernikahan Kontrak
Perpisahan sangat menyedihkan


__ADS_3

"Aku akan mengurus semua itu, kau tidak perlu banyak berpikir."


"Tapi Pram, aku tidak bisa berbohong kepada keluargamu lagi, aku sama sekali tidak menyukaimu dan kita hanyalah pasangan palsu."


"Iya, aku tahu. Namun, setidaknya kau temani saja mereka piknik besok."


"Hm, oke. Oh ya, aku sangat merasa bersalah karena Ibu memberikan aku kalau turun temurun. Aku sangat bersalah kepada keluargamu karena masuk begitu saja dan menjadi anggota keluarga. Padahal reputasi keluargaku juga tidak baik, apalagi aku sendiri adalah seorang gadis yang terkenal dengan sifat julid."


"Setelah menjadi istriku, kau sama sekali tidak terlihat menyebalkan. Selama ini, kau menjadi istri dan menantu yang baik. Semuanya sudah kau lakukan dengan sangat baik."


Pram mengatakan semua ini dengan hati yang sangat tulus sehingga membuat Nana, begitu tersanjung tetapi dia ingat akan posisinya sebagai Istri palsu.


"Pram, aku sangat senang kau banyak berubah tetapi apakah kau mau menjadi orang yang mampu menerima keadaan ini dengan baik?" tanya Nana.


"Maksudmu?"


Pram mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh Nana, dia benar-benar ingin nyatakan perasaannya tetapi rasanya tak semudah itu.


Nana, rupanya tak suka dengan semua ini.


Dia terlihat tidak nyaman.


"Aku sama sekali tidak menyukaimu, aku hanya menjadi orang yang akan selamanya berada di belakangmu. Satu bulan ini, secara lebih dengan sangat bahagia tetapi ketika aku teringat akan perjanjian 6 bulan, rasanya begitu menyedihkan."


"Kau tidak perlu sedih karena aku akan mencabut semua perjanjian itu, kita akan menjadi suami istri yang sesungguhnya."


Saat keduanya berbicara, di balik pintu ada ibu Pram, dia berniat ingin mencari Nana.


Namun, saat mendengar fakta yang mencengangkan ini, dia menjadi sesak dan pingsan.

__ADS_1


Seorang pelayan berteriak minta tolong.


Pram dan Nana yang mendengar semua itu, terlihat sangat cemas dan menuju sumber suara.


Nana memang lupa menutup pintu, dia sadar itu.


"Kenapa ibuku?" tanya Pram.


"Nyonya sudah pingsan, saya baru saja ingin memanggil tuan Pram karena ayah tuan berada dalam masalah pekerjaan. Dia ingin meminta bantuan tuan."


"Sudah berapa lama ibu ada di depan pintu?"


"Baru saja nona, tuan."


Pram dan Nana, terlihat saling menatap dan mendapati bahwa sang Ibu pasti mendengar apa yang mereka perbincangkan tadi.


Pram langsung menggendong tubuh ibunya dan membawa ke dalam kamar.


Satu jam berlalu ...


Ibu di atas ranjang, dia pernikahan 6 bulan Nana dan Pram.


Di sana juga ada ayah Pram.


"Ibu, tidak pernah menyangka jika kalian berdua berbohong kepada ayah dan ibu."


"Ibu, ini salahku."


"Bukan, Pram tidak bersalah. Ini salahku."

__ADS_1


"Apa dengan saling menyalahkan permasalahan ini menjadi baik? kalian berdua telah menipu kami. Angkat kaki dari sini, Nana. Kau tidak pantas menjadi menantu keluarga kami!"


Duar!


Kata-kata ayah Pram, membuat Nana berpikir. Apakah secepat ini akan berakhir.


Dia hanya ingin mengakhiri secara baik-baik, tapi pada akhirnya tidak demikian.


Pram mencoba memohon, sampai bersujud.


Namun, tidak diberikan kesempatan oleh sang ayah.


Pada akhirnya, dia harus pergi dari kehidupan Pram.


Pram mencegah kepergian Nana, tapi pada akhirnya Nana tidak bisa membiarkan takdir buruk semakin mengejarnya.


"Pram, kenapa kau menangis?" tanya Nana.


"Aku mencintaimu, tapi kenapa aku pergi."


"Aku tidak suka denganmu, kau hanya playboy."


"Siapa yang bilang?"


"Aku."


Hari ini adalah hari dimana Pram dan Nana berpisah, bukan karena satu kesempatan yang mereka sepakati, tapi karena takdir yang memisahkan keduanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2